Lawan Perusak Lingkungan, Solidaritas Pecinta Alam Malang Raya Tolak Omnibuslaw

Caption foto: Solidaritas Pecinta Alam se-Malang Raya saat lakukan aksi pembelaan terhadap kelestarian lingkungan. (WARTAPALA INDONESIA/ Fulkun Nada)

Wartapalaindonesia.com, MALANG – Pengesahan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law yang terkesan memaksa dan terburu-buru membuat berbagai lapisan masyarakat menyesalkan apa yang dilakukan DPR. Banyak masyarakat yang merasa tidak setuju disahkannya UU ini karna akan memberi keuntungan kepada pihak investor dan perusahaan, belum lagi berbagai pasal yang dibuat di UU ini akan memberi dampak buruk pada lingkungan.

Sejak disahkannya UU ini pada tanggal 5 Oktober 2020 masyarakat mulai membuat aksi di tiap kota sebagai bentuk penyampaian aspirasi penolakan dan pembatalan UU cipta kerja ini, salah satunya di kota Malang. Aksi ini juga diikuti oleh para pecinta alam yang terdiri dari MAPALA, OPA, SISPALA juga Komunitas Pegiat Lingkungan yang tergabung dalam Solidaritas Pecinta Alam Malang Raya.

Para pecinta alam ikut turun aksi sebagai wujud dukungan untuk menolak dan membatalkan UU cipta kerja ini. Mereka memberi istilah “turun gunung” dalam aksi ini. Pada tanggal 7 Oktober, Solidaritas ini membuat konsolidasi untuk menyiapkan aksi dan disepakati bersama bahwa aksi yang akan dilakukan ke esokan harinya merupakan aksi damai untuk menolak dan membatalkan UU tersebut.

Para pecinta alam merasa perlu menyuarakan penolakan terhadap Omnibus law karena dari berbagai kajian yang didapat akan berpengaruh buruk pada lingkungan. Omnibus law akan mempermudah investor dalam menguasai lahan.

Izin lingkungan yang dihapus serta tidak melibatkan publik pada pengawasan akan membuat alam semakin mudah dialihfungsikan. Konflik agraria dan ketimpangan penguasaan lahan akan semakin dirasakan jika Omnibus law ini  tidak dibatalkan, yang itu semua akan berdampak buruk untuk “ruang bermain” teman–teman pecinta alam.

Tagline “pecinta alam turun gunung” Ini pun dirasa pas karna menandakan pecinta alam keluar dari tempat belajar dan bermainnya untuk menyuarakan penolakan terhadap UU tersebut. Karena dirasa UU tersebut mengancam alam sebagai tempat para pecinta alam belajar dan bermain, bahkan di anggap rumah yang harus dijaga.

Solidaritas pecinta alam Malang Raya pada akhirnya berangkat aksi pada tanggal 8 Oktober bergabung dengan aliansi Malang melawan dengan tetap menjaga protokol kesehatan dan menggunakan dresscode jaket gunung yang sudah disepakati sebelumnya. Pukul 10.00 mereka memulai aksi dengan longmarch dari jalan Surabaya depan kampus UM menuju Stadion Gajayana lalu berlanjut di Balai Kota dengan membawa beberapa poster yang bertuliskan pesan dan keresahan teman–teman pecinta alam.

Setelah ada chaos akibat ulah oknum, mereka  kembali pulang dan melakukan aksi bersih sampah di sepanjang jalan dari Balai Kota Malang hingga Stadion Gajayana. Aksi ini mereka lakukan sebagai bukti bahwa mereka turun hanya ingin menyelamatkan lingkungan, bukan malah merusak lingkungan yang lain. Walaupun aksi bersih sampah ini tidak begitu berdampak namun harapannya peserta aksi yang ikut melihat juga ikut melakukan apa yang mereka lakukan.

Selanjutnya mereka sepakat untuk melakukan aksi kampanye kreatif dan unik untuk menyuarakan penolakan dan mendesak pembatalan Omnibus law dalam waktu dekat ini. Aksi ini akan direncanakan dengan tim kreatif yang sudah direncanakan saat konsolidasi bersama, serta dilakukan dengan damai di kota Malang sesuai passion yang tergabung dalam gerakan Solidaritas Pecinta Alam Malang Raya.

Kontributor || Fulkun Nada

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: