Mahasiswa Pencinta Alam Gemapala Wigwam FH Unsri Laksanakan Pengabdian Pendidikan Masyarakat Anak Suku Rimba

Caption foto: Foto bersama anggota Gemapala Wigwam dan anak suku rimba. (WARTAPALA INDONESIA/ Fadli Dian)

Wartapalaindonesia.com, PALEMBANG – Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Gemapala Wigwam FH Unsri genap berusia 44 tahun. Mencapai usia ke-44, tentunya telah melintasi generasi berbagai zaman.

Selain itu, Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Gemapala Wigwam terus bergerak dalam berkarya dan berinovasi dalam dunia pencinta alam, khususnya di Kota Palembang. Meski zaman terus berubah tetapi telah dilakukan berbagai aksi nyata yang positif.

Salah satu aksi nyata dalam dunia pencinta alam, kali ini Gemapala Wigwam mengadakan pengabdian masyarakat yaitu Kegiatan Wigwam Social Action 2020, Bakti Kita Untuk Anak Rimba . Mengusung tema “44 Tahun Berdaya, Terus Bermakna Untuk Semua,” sebagai landasan aksi untuk memberikan makna kepada anak suku rimba.

“Untuk memperingati Hut Gemapala Wigwam ke-44 tahun, Kami melakukan pengabdian masyarakat berupa pemberian edukasi buku cerita bergambar, buku mewarnai dan buku pelajaran bagi anak suku rimba. Yang diharapkan dapat memberi inspirasi dan kreatif dalam berprestasi walau di hutan. Selain itu diberikan baju untuk anak suku rimba,” ujar Syafira Aprila, Ketua Pelaksana.

“Lokasi tempat anak suku rimba yang kita beri edukasi pendidikan berada di Sarolangun, Provinsi Jambi, Taman Nasional Bukit 12. Ada tiga sekolah yang khusus bagi anak suku rimba yaitu Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning, Sekolah Rimba Kejasung dan Sekolah Rimba Air Hitam. Yang kita datangi  adalah Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning,” lanjutnya.

Kegiatan ini diikuti oleh Anggota Biasa Gemapala Wigwam yaitu Syafira Aprilia, Fabilla Akbar, Alif Diyo, Nandita Swastika, Aldo Carnegia.

Syafira menjelaskan bahwa Sekolah Rimba Pintar Sungai Kuning perlu menyiasati kondisi. Hal tersebut dikarenakan anak suku rimba mempunyai keunikan budaya khas Indonesia yaitu tetap ingin tinggal dalam hutan dan tidak ingin keluar hutan. Sehingga beberapa tenaga pendidikan (guru) mensiasatinya dengan datang langsung ke dalam lingkungan anak suku rimba untuk mengajar edukasi bagi anak suku rimba.

“Untuk tenaga pengajar merupakan hasil kerjasama PT. Sari Aditya Loka  dan TNBD. Kegiatan belajar anak suku rimba dimulai pukul 09.00 sampai 12.00 waktu setempat. Selain tradisi tidak meninggalkan hutan, anak suku rimba punya tradisi melangun yaitu tradisi meninggalkan tempat tinggal jika anggota keluarga anak suku rimba ada yang meninggal,” imbuhnya.

Dahulu masyarakat anak suku rimba melaksanakan melangun selama 10 sampai 12 tahun. Namun di Abad 21 hanya dilakukan selama 4-12 bulan. Hal tersebut dikarenakan  wilayah anak suku rimba sudah sempit tidak seperti abad 20 yang masih luas.

Kalau dulu tradisi melangun dilaksanakan oleh seluruh keluarga anak suku rimba, sekarang hanya dilakukan oleh keluarga anggota yang meninggal saja.

Dalam tradisi melangun, jika ada anggota suku anak dalam meninggal maka seluruh anggota akan berduka mendalam, menangis dan meraung selama satu minggu. Sebagian wanita  menghempaskan tubuh mereka ke pohon dan tanah.

Mereka ada  yang berteriak dan berkata  “laa illa hail” artinya Tuhan kembalikan nyawa anggota keluarga kami. Jenazah ditutupi  memakai kain dari kaki sampai kepala, diangkat oleh tiga orang menuju pemakaman.

Makamnya berupa pondok sejauh 4 km di hutan. Ukuran pondok  makam tergantung usia. Jika anak-anak tingginya 4 anak tangga dari tanah. Jika dewasa 3-4 meter dari tanah.

Syafira mengatakan jika ke depannya pengabdian masyarakat, khususnya anak suku rimba akan konsisten dilakukan.

Kontributor || Fadli Dian, WI 200056

Editor || Nadiatul Ma’rifah, WI 190044

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: