Menabung Air, Menyiasati Perubahan Iklim

Caption foto: Peletakan batu pertama pembangunan sumur resapan oleh Rektor IAIN Salatiga. (WARTAPALA INDONESIA/ Nur Colis)

Wartapalaindonesia.com, SALATIGA – Perubahan iklim yang berkepanjangan membuat kecemasan masyarakat akan musim kemarau ke depannya. Kecemasan ini berkaitan dengan pasokan debit mata air yang akan berkurang di musim kemarau.

Dalam rangka menyambut perayaan Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2020, IAIN Salatiga akan membangun sumur resapan sebanyak 10 buah. Sumur-sumur tersebut akan dibangun di tiga kampusnya.

Hal ini disampaikan oleh Zakiyuddin Baidhawy, Rektor IAIN Salatiga dalam sebuah acara Talkshow bertemakan “Sumur Resapan: Program Daerah Menjadi Program Nasional” (11/3).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium IAIN Salatiga Gd. Hasyim Asyari ini merupakan kerjasama antara IAIN Salatiga dengan United States Agency for International Developmnet (USAID) Indonesian Urban Water, Sanitation, Hygiene Penyehatan Lingkungan Untuk Semua (IUWASH PLUS), Pemerintah Kota Salatiga, dan PDAM Kota Salatiga.

USAID IUWASH PLUS merupakan Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika yang berinisiatif untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan akses air minum dan layanan sanitasi serta perbaikan perilaku hygiene bagi masyarakat miskin dan kelompok rentan di perkotaan.

Pembangunan sumur resapan adalah salah satu metode buatan termudah untuk meningkatkan sumber air tanah. Sumur resapan menampung air hujan (mengalir sebagai air limpasan dari hulu sungai) ke dalam beberapa sumur kecil agar air dapat meresap kelapisan akuifer, yaitu lapisan tanah yang dapat menyimpan air.

Air yang terkumpul di lapisan akuifer dapat digunakan selama musim kemarau untuk mengisi sumur dangkal atau meningkatkan aliran mata air. Air tersebut guna memenuhi kebutuhan air masyarakat yang tinggal di hilir sungai.

Untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, sumur resapan memberikan sebuah solusi yang sederhana, tepat, dan mudah untuk direplikasi. Usaha ini telah membuahkan hasil yang ditandai dengan meningkatnya aliran mata air dari 48 menjadi 110 liter per detik di Cikareo, Desa Cibogo, Jawa Barat. Kesuksesan ini dicapai setelah membangun 50 sumur resapan (masing – masing berkapasitas 8 m3).

Kesuksesan pembangunan sumur resapan selanjutnya di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, yang berlokasi di enam desa dengan membangun 954 sumur resapan sejak tahun 2014 hingga 2017. Dimana dapat meningkatkan debit Mata Air Senjoyo dari 800 liter/detik pada tahun 2015 menjadi 1.100 liter/detik pada tahun 2017.

IAIN Salatiga mendukung konservasi tanah berupa pembangunan sumur resapan ini karena IAIN Salatiga memiliki komitmen untuk membantu meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan dalam rangka meningkatkan kualitas IAIN Salatiga menjadi Kampus Hijau.

“IAIN Salatiga berkomitmen melanjutkan program Green Campus atau Kampus Hijau yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan juga program ini sejalan dengan tujuan Pemerintah Kota Salatiga untuk menjadikan Kota Salatiga sehat dan asri,” ungkap Rektor IAIN Salatiga.

Talkshow ini dihadiri oleh kurang lebih 200 orang yang terdiri dari sivitas akademika, USAID IUWASH PLUS, PDAM Kota Salatiga, M. Haris Wakil Walikota Salatiga, pemerintah desa setempat, Polisi dan TNI, komunitas lingkungan dan elemen masyarakat lainnya. Kegiatan ini ditutup dengan peletakan batu pertama pembangunan sumur resapan.

Kontributor || Nur Colis, WIJA Salatiga

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: