Mengenal Lebih Dekat Kawasan Karst

Caption foto: Eksplorasi dan pemetaan gua di Wonogiri oleh anggota Mapala Mitapasa IAIN Salatiga. (WARTAPALA INDONESIA/ Nur Colis)

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Kawasan Karst merupakan bentang alam yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun, tersusun atas batuan karbonat (batu kapur/ batu gamping). Dimana batuan karbonat tersebut mengalami proses pelarutan sedemikian rupa, hingga membentuk kenampakan morfologi dan tatanan hidrologi yang unik dan khas (sumber: https://speleoside.wordpress.com/2011/11/27/mengenal-fungsi-kawasan-karst-dan-upaya-perlindungannya/ ).

Karst menurut KBBI diartikan sebagai daerah yang terdiri atas batuan berpori sehingga air di permukaan tanah selalu merembes dan menghilang ke dalam tanah (permukaan tanah selalu gundul karena kurang vegetasi).

Karst atau daerah kapur merupakan daerah unik di permukaan bumi yang biasanya ditandai dengan daerah tandus, terdapat cekungan tertutup atau lembah kering, tanah berbatu, goa–goa, sungai bawah tanah, tidak ada aliran permukaan dan lubang-lubang. Hal ini merupakan hasil dari efek pelarutan di bawah tanah.

Menurut Permen ESDM Nomor 17 Tahun 2012 tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst dalam pasal 4 ayat (4) menyebutkan kawasan mempunyai kriteria yaitu:

  1. Mempunyai fungsi sebagai daerah imbuhan air tanah yang mampu menjadi media meresapkan air permukaan ke dalam tanah,
  2. Memiliki fungsi sebagai penyimpan air tanah secara tetap (permanen) dalam bentuk akuifer yang keberadaannya mencukup fungsi hidrologi,
  3. Memiliki mata air permanen,
  4. Mempunyai goa yang membentuk sungai atau jaringan sungai bawah tanah

Proses permbentukan bentuk lahan karst didominasi oleh proses pelarutan yang disebut karstifikasi. Karstifikasi bermula dari proses pelarutan batu gamping yang diawali oleh larutnya CO2 di dalam air yang membentuk H2CO3. Larutan H2CO3 tidak stabil terurai menjadi H dan HCO32-. Ion H inilah yang selanjutnya menguraikan CaCO3 menjadi Ca2+ dan HCO32-.

Secara ringkas reaksi kimia karstifikasi adalah sebagai berikut:

CaCO + HO+CO > Ca² + 2HCO³

Dahulu kawasan karst dipahami sebagai wilayah kering yang tidak produktif. Tidak mampu menyimpan air dalam waktu cukup lama karena air hujan yang mengguyur karst diyakini langsung turun ke bawah menuju zona jenuh air kemudian mengalir menuju titik–titik keluaran menjadi mata air atau terbuang ke laut.

Hal ini diyakini menjadi penyebab kenapa daerah karst selalu identik dengan kekeringan dan daerah tandus. Selanjutnya kawasan karst hanya dinilai dari segi ekonomis batu gampingnya yaitu sebagai bahan galian golongan C yang nantinya batu gamping tersebut menjadi bahan utama pembuatan semen.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, hingga saat ini banyak para ahli mengungkapkan bahwa karst justru merupakan akuifer air alami yang baik sebagai suplai hidrologi daerah sekitar. Juga berpengaruh langsung bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya. Batuan karst dapat menyimpan air, karena:

  1. Ada proses pelarutan yang membuat rongga-rongga yang lama kelamaan bertambah besar
  2. Batuan sebelah atas akan terlapukkan dan membentuk tanah
  3. Tanah inilah yang kemudian mengisi rongga–rongga tersebut dan menyimpan air
  4. Kemudian secara perlahan-lahan dialirkan ke sungai bawah tanah atau mata air

Karst bukan lagi sekedar gundukan bahan galian C tapi sebagai tangki raksasa penyimpan air bawah tanah.

Sebagian besar kawasan karst selama ini telah menyediakan sejumlah mata air bagi kehidupan masyarakat untuk kebutuhan sehari–hari dan perkebunan. Bahkan satu kawasan karst, bias memberikan 30 mata air.

Fungsi hidrologi kawasan karst menjadi salah satu pengontrol utama sistem ekologi. Meliputi hubungan antara komponen–komponen abiotik, biotik, dan budaya yang berinteraksi satu sama lain membentuk suatu ekosistem dimana karst sebagai pengontrol utamanya.

Kawasan bentang alam karst secara fisik memperlihatkan kondisi kering dan gersang, tetapi di bawah permukaan terdapat potensi sumber air dan beberapa sumber mata air. Saat ini sumber mata air tersebut telah dimanfaatkan sebagai sumber baku air bersih oleh PDAM yang dapat menyuplai desa sekitarnya dan pemukiman di dataran bawahnya

Fisik dan struktur geologi perbukitan ini, dengan sempurna telah menyimpan dan memelihara air dalam jumlah dan masa tinggal yang ideal. Sehingga dapat mencukupi kebutuhan air bagi warga setempat pada musim kemarau sampai datangnya musim hujan berikutnya.

Kemampuan bukit karst dan minta katepi karst pada umumnya telah mampu menyimpan tiga hingga empat bulan setelah berakhirnya musim penghujan. Sehingga sebagian besar sungai bawah tanah dan mata air mengalir sepanjang tahun dengan kualitas air yang baik.

Selain untuk menyimpan air, kawasan karst juga dapat menjadi pengendali hama pertanian. Setiap kawasan karst selalu memiliki goa yang jumlahnya mencapai belasan hingga ratusan dalam satu kawasan. Goa–goa inilah yang akan menjadi hunian/habitat bagi sejumlah biota, salah satunya adalah kelelawar.

Beberapa goa yang memiliki dimensi ruang besar dan lorong yang panjang, mampu menampung ribuan hingga jutaan ekor kelelawar dari berbagai jenis. Kelelawar pemakan serangga dari jenis Nycteris javani calarvatus, Hipposideros diadema, Rhinolopussp, dan Miniopterussp memiliki daya jelajah mencapai radius kurang lebih 9 km dari habitatnya.

Hal ini berarti kelelawar ini memiliki kemungkinan menjaga area seluas 250 km2 dari ancaman hama serangga. Keadaan ini berdampak positif bagi bidang pertanian. Petani tidak perlu repot mengeluarkan banyak uang untuk membeli pestisida pembasmi hama.

Kelelawar juga bisa berfungsi sebagai penyebar bibit karena kelelawar pemakan buah hanya akan memakan buah yang masak di pohon dan menyebarkan biji-bijinya ke segala penjuru.

Diperkirakan ada 15,4 juta ha kawasan karst yang tersebar di seluruh Indonesia. Menjadikan Indonesia wilayah dengan bentang alam karst terluas di Asia Tenggara. Namun Indonesia tergolong memiliki karst lindung yang paling sedikit.

Pulau Sumatera memiliki kawasan karst sepanjang Bukit Barisan dengan luas 8.806,45 km2 dengan persentase 5,71%, Pulau Kalimantan memiliki kawasan karst terluas, Sangkulirang–Mangkalihat dengan luas 55.181,77 km2 (35,83%), Pulau Jawa memiliki kawasan karst paling sedikit di kawasan karst Pegunungan Sewu dengan luas 5.292,9 km2 (3,43%), Pulau Sulawesi memiliki kawasan karst Pangkep–Maros dengan luas 22.991,28 km2 (15%), dan Pulau Papua memiliki kawasana karst Cartenz dengan luas 37.230,29 km2 (24%).

Meskipun Jawa memiliki luas kawasan karst terkecil tetapi Jawa menyumbang produksi semen tertinggi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa di Jawa telah terjadi eksploitasi karst tertinggi dibandingkan dengan kawasan karst luarJawa.

Begitu pentingnya kawasan karst bagi manusia sehingga diperlukan upaya untuk mempertahankan keberadaanya. Kerakusan perusahaan dalam mengekploitasi batu gamping sebagai bahan untuk dijadikan semen adalah permasalahan sejak dulu yang tak kunjung selesai. Karst merupakan salah satu sumber daya alam tak terbarukan, jika karst hancur maka tidak akan bisa pulih kembali.

Eksploitasi perusahaan itu tak terbatas, akan tetapi ketersedian sumber daya alam itu terbatas.

Kontributor || Nur Colis, WIJA Salatiga

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: