Pencinta Alam atau Perusak Alam?

Caption foto: Alam bukan tempat akhir pembuangan sampah. (WARTAPALA INDONESIA/ Fadhil Raihan)

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Indonesia adalah negara yang kaya akan keindahan alamnya. Kurang lebih 17.000 pulau tersebar dari ujung Pulau We sampai timur Papua. Lautan di Indonesia terkenal dengan kekayaan sumber daya laut yang melimpah. Ratusan ribu spesies mahluk hidup menghiasi keindahan laut di Indonesia.

Kekayaan hutan dan tanah di Indonesia juga tidak kalah melimpah, tumbuhan-tumbuhan tropis hidup di hutan Indonesia. Kemudian kekayaan tambang yang juga sangat beragam dan berharga. Negara kaya nan indah ini akan sangat disayangkan jika tidak dilestarikan.

Keindahan alam di Indonesia sangat menawan dan unik. Indonesia adalah negara kepulauan yang dihimpit oleh dua samudera besar dunia.

Kemudian Indonesia juga adalah negara yang dilewati oleh dua jalur pegunungan dunia, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania. Jadi, ada banyak gunung yang berbaris di sepanjang Indonesia.  Gunung-gunung di Indonesia juga memiliki keunikan dan daya tarik masing-masing.

Keindahan gunung di Indonesia itu menarik minat banyak orang untuk menjajal dan menakhlukkannya. Mendaki gunung di Indonesia sudah menjadi trend kekinian bagi masyarakat.

Kemajuan teknologi membuat masyarakat menjadi lebih mudah mendapatkan informasi. Kemudian alat pendakian juga sudah sangat canggih dan mudah diperoleh. Jadi, masyarakat dapat dengan mudah menikmati alam tanpa perlu takut kesulitan.

Eksplorasi alam oleh masyarakat harus diiringi dengan adanya sikap peduli terhadap alam, tidak serta merta menikmati alam tanpa menjaganya. Banyak pendaki yang tidak memikirkan hal tersebut.

Pendaki melupakan hal yang sangat penting, yaitu mencintai alam, bukan hanya menikmatinya. Keindahan gunung yang tadinya asri dan terjaga perlahan mulai rusak dan dipenuhi sampahyang berserakan.

“Orang-orang yang mendaki gunung tapi masih meninggalkan sampahnya di gunung itu sama saja dia tidak peduli terhadap gunung tersebut. Jadi, kalau cuma menikmati tapi tidak merawatnya ya sama saja bohong. Orang-orang itu mendaki gunung Cuma untuk eksis doang. Padahal kalau ingin peduli sama alam bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya,” tutur As’ad Ananta, anggota Klub Aktivis Pegiatdan Pemerhati Alam (KAPPA) Fikom Unpad.

Sampah yang menumpuk di gunung akan berdampak buruk bagi ekosistem. Sampah anorganik yang tertimbun di tanah akan sulit terurai dengan sendirinya.

Kemudian apabila ada sampah yang mengotori sumber air di gunung akan berpengaruh pada mahluk hidup lainnya. Air adalah sumber kehidupan bagi mahluk hidup.

Tidak hanya manusia yang membutuhkan air, hewan dan tumbuhan juga membutuhkan pasokan air bersih bagi kelangsungan hidupnya. Kemudian jika ada sampah yang tidak sengaja termakan oleh hewan tentu akan memberikan dampak buruk bagi hewan tersebut.

Dikutip dari Phinemo.com, terdapat 453 ton sampah yang dihasilkan oleh 150 ribu pendaki setiap tahunnya, atau sekitar 3 Kg sampah per pendaki. Jika tidak dilakukan perbaikan, bukan tidak mungkin angka di atas akan terus melambung. Akhirnya, keindahan alam gunung di Indonesia akan terkubur dengan tragis oleh sampah para “pencinta” alam.

Jadi, trend masyarakat yang menganggap dirinya cinta alam ini patut dipertanyakan. Alam sudah banyak yang tidak terjaga kelestariannya. Jangan sampai tangan-tangan kotor kita merusak keindahan alam ini. Para pendaki harus mulai menanamkan kepedulian terhadap alam dan bersama-sama menjaga kelestariannya.

Mencintai alam itu berarti bahwa kita tidak hanya menikmatinya, namun turut aktif merawat dan menjaganya. Jangan meninggalkan apapun selain jejak, jangan mengambil apapun selain foto, dan jangan membunuh apapun selain waktu. Salam lestari!

Info tambahan:

KAPPA adalah organisasi pegiat dan pemerhati alam yang berada di bawah naungan Fakultas Ilmu Komunikasi Padjadjaran.

Kontributor || Fadhil Raihan, WIJA Bogor

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: