Traumatis Pendidikan Dasar

Wartapalaindonesia.com, OPINI – Jenuh itu yang terbayangkan pertama kali mendengar pengakuan seorang gadis manis asal kota Sidoarjo sebut saja Bunga yang kini melanjutkan study di salah satu perguruan tinggi di kota Malang. Dulunya adalah seorang anggota Sispala (siswa pencinta alam) di sekolahnya yang sempat menjabat sebagai pengurus diposisi vital di organisasinya. Namun sayang setelah melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Bunga enggan mengikuti organisasi pencinta alam di kampusnya.

Alasan kuat yang dilontakan Bunga adalah dia enggan kuliahnya terganggu dengan kegiatan yang berjubel dan dia sudah jenuh dengan kegiatan kepencinta alaman meski akunya dia juga terkadang masih suka merindukan kebersamaan khas ala anak pencinta alam. Di sisi lain saat ini dia cukup jalan-jalan di tempat-tempat yang indah dan belum pernah dia kunjungi saja untuk melepas dahaga jiwa petualangannya.

Bak gayung bersambut, setali tiga uang alasan Bunga diamini oleh beberapa kawannya yang menjadi geng Bunga saat ini. Usut punya usut, kawan bunga juga merupakan alumni dari sispala. “Di sini Kami seolah dipertemukan, sebab meskipun kami tidak lagi mengikuti OPA di kampus kami, tapi kami bisa berkumpul dengan kawan senasib seperjuangan” aku Bunga yang saat itu menunjukkan koleksi foto geng barunya saat traveling bersama.

Namun, pengakuan terjujurnya dia katakan bahwa, sebenarnya dia enggan mengikuti lagi organisasi pencinta alam adalah karena merasa trauma dan takut jika harus mengikuti pendidikan dasar lagi. Dia teringat pada masa saat mengikuti pendidikan dasar sispala yang begitu keras dan sempat membuat dia syok dengan pendidikan yang diikutinya. Meski pada akhirnya dia juga memahami bagaimana kekuatan mental yang ditempa saat itu menjadikan dirinya saat ini lebih siap menghadapi jaman.

Mendengar hal itu saya merasa prihatin dan merasa sedih. Timbul pertanyaan dibenak saya, “Apa sejatinya yang membuat mereka enggan mengikuti OPA di kampusnya sekarang?” tiba-tiba saya teringat apa yang dikatakan Mas Abi Manyu salah satu senior di OPA kampus yang dulu pernah saya ikuti.

Kala itu kami selaku Pembina sispala berkumpul dan berdiskusi. “Saat masih sispala, seharusnya seorang siswa dieksplore dan dibentuk karakternya dan harus dibuat senang dalam artian jangan sampai membuat siswa itu merasa bosan dan traumatis akibat pendidikan yang katanya untuk menguatkan mental.”

Jika benar demikian, apakah pendidikan atau gaya hidup hedonis para individunya yang bermasalah? Jawaban itu akan terus saya cari hingga dengan sendirinya kebijaksanaan dalam memandang suatu hal saya temukan.

Penulis : A. Phinandhita P.

Sumber : Observasi

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: