Walhi NTT dan Mapala UCB, Selenggarakan Nobar FIlm Dokumenter The Story Of Stuff

Caption foto : Beberapa peserta usai nonton bareng film dokumenter karya Louis Fox berjudul The Story Of Stuff. (WARTAPALAINDONESIA / Dok. Mapala UCB)

WartapalaIndonesia.com, Kupang – Dalam rangka menyambut hari Bumi 2023, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Eksekutif Daerah Nusa Tenggara Timur ( Walhi-NTT) berkolaborasi dengan Mapala Universitas Citra Bangsa (UCB) menyelenggarakan roadshow nonton bareng (Nobar) dan diskusi. Kegiatan ini bertempat di lantai 2 Universitas Citra Bangsa.  Pada 14 April 2023.

Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan anggota Mapala UCB, Himapala UMK dan Walhi NTT, dimulai dengan nonton bareng film dokumenter karya Louis Fox berjudul The Story Of Stuff.

Film peranan Annie Leonard tersebut, mengisahkan bagaimana perilaku konsumerisme memberi dampak yang besar terhadap eksploitasi alam.

The Story Of Stuff memberi kacamata baru dalam melihat keterkaitan pemerintah dan industri yang saling mendukung pada sebuah skema terencana, dimana alam sebagai objek eksploitasi dan pada akhirnya menghasilkan limbah yang jika tidak dibakar maka dikubur.

Dalam sambutannya, ketua Mapala UCB Godel Maulaku menyampaikan apresiasi kepada WALHI NTT sebab telah berkolaborasi menghadirkan ruang diskusi agar saling mengasah.

“Terima kasih kepada Walhi yang sudah menghadirkan ruang-ruang dialektika agar kita saling mengasah. Karena sesungguhnya berkelahi dengan isi kepala adalah cara menempuh kesadaran yang utuh,” ujar Godel.

Ia menjelaskan perlunya sikap skeptis agar melihat sebuah produk tidak sederhana, tetapi memperhitungkan usaha dibalik produksi dan distribusi produk tersebut hingga sampai ke tangan kita.

“Contoh kertas di tangan saya, diproduksi dengan penebangan pohon. Pabriknya menghasilkan polusi dan distribusinya menghasilkan polusi, ” tambahnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi film The Story Of Stuff, disandingkan dengan realitas di NTT yakni eksploitasi mangan dan cendana.

“Kalau ada yang pakai HP China di sini, kita tidak membayarnya dengan harga yang murah. Kita membayarnya dengan kerusakan alam dari tambang-tambang mangan yang ada di Pulau Timor,” tegas Direktur Walhi NTT, Umbu Paranggi.

Umbu menambahkan, bagaimana industri merancang propaganda agar kita terlihat usang dengan sesuatu yang kita punya sekarang, sehingga memicu belanja yang tidak penting.

“Kita dihasut oleh iklan, agar apa yang kita pakai seolah sudah tidak layak dan mengharuskan kita beli baru,” jelas Umbu.

Sementara itu Pembina Mapala UCB, Arman Lete, menitip pesan agar kolaborasi-kolaborasi bersama Walhi NTT tetap terlaksana demi tercapainya tujuan bersama. (MG)

Kontributor || MG
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.