Cak Yo Saver, Penyambung Lidah Mahameru

Cak Yo, Sahabat Volunteer Semeru (Saver), Pencinta Alam sejati itu bukan tentang berapa banyak gunung yang sudah kita daki, tapi tentang seberapa banyak alam yang sudah kita jaga. SOSOK. WARTAPALAINDONESIA/Yuliana(Inge)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Sejak dua tahun ini, siapa saja yang mendaki ‘Mahameru’ gunung tertinggi di pulau Jawa, pasti pernah bertemu sosoknya. Bersama Sahabat Volunter Semeru (Saver), Pria bernama lengkap Sukaryo dan akrab dipanggil Cak Yo, telah merubah paradigma pendakian gunung di Indonesia khususnya Semeru.

Putra asli daerah Senduro yang terlahir di Lumajang, 28 Januari 1976, telah banyak berjasa bagi lestarinya alam Mahameru yang sempat mengalami tragedi pada tahun 2014 silam akibat pendakian massal yang dilakukan oleh salah satu apparel outdoor terkenal di tanah air. Namun begitu, pelan tapi pasti, Cak Yo bersama relawan Saver, berhasil merubah wajah Mahameru.

Putra ke tiga dari lima bersaudara yang tingggal di jalan raya Senduro gang Duladi nomer 176, kini lebih banyak menghabiskan waktu di sekretariat Saver di belakang Pos Perijinan pendakian Mahameru (TNBTS) Ranu Pani.

Pria yang dapat dihubungi di nomer 081358420003 ini mengaku masih bujang dan merupakan salah satu korban dari sebuah film petualangan bergenre persahabatan yang sempat booming di tanah air.

Mengeyam pendidikan hingga sekolah menengah atas, di SMA Negeri 1 Lumajang, tak membuat Cak Yo gentar menghadapi pendaki yang sejak dulu diakui Cak Yo membuat penduduk sekitar gentar kala beradu argumen tentang pendakian. Ibarat seorang tuan rumah, Cak Yo mengajak para tamunya untuk lebih menghargai adat istiadat setempat dan menjaga kelestarian alam sekitar.

Pasalnya, jika terjadi hal yang tidak diinginkan akibat kerusakan alam, maka yang pertama kali terdampak adalah warga sekitar, bukan para tamu yang datang untuk menikmati alam lalu pergi meninggalkan segala permasalahan lingkungan.

Belum lagi jika ada pendaki yang tak mentaati aturan, yang akhirnya menjadi survivor gunung. Maka, orang-orang pertama yang direpotkan adalah warga sekitar Ranu Pani selaku para pengemban tanah di atas awan, Selain juga para tim SAR dan relawan Potensi SAR.

Dari berbagai permasalahan tersebut, Cak Yo tergerak untuk berbuat sesuatu yang bisa saling bersinergi antara tuan rumah dan tamunya, terlebih antara manusia dan alam. Maka pada tahun 2014, Cak Yo mencetuskan suatu wadah bernama Sahabat Volunteer Semeru yang lebih dikenal dengan sebutan SAVER.

Bersama rekan-rekan Gimbal Alas, Pencinta Alam Semeru Senduro, Artpala Probolinggo, Simbiosa Kabupaten Malang, dan beberapa komunitas di sekitaran Malang dan Lumajang, Cak Yo menjadikan Saver sebagai relawan garda terdepan dalam menjamu tamunya yang akan mendaki Gunung yang disebut-sebut puncak para Dewa.

Selama empat (4) bulan lamanya Cak Yo bersama rekan-rekan melakukan penggodokan bagaimana dan untuk apa SAVER ada. Akhirnya, hadirnya perjuangan Sahabat Volunteer Semeru (Saver) yang artinya relawan yang bersahabat dengan Semeru berhasil bersinergi dengan pihak pemerintah selaku pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Restu sudah direngkuh, alampun mengamini, maka saatnya Cak Yo bersama Saver melakukan aksi kongkrit dalam advokasi dan konservasi terhadap Mahameru. Maka tercetuslah sebuah pemikiran bahwa,

Lebih baik kehilangan waktu beberapa menit, daripada kehilangan waktu selamanya

Hal tersebut yang membuat Cak Yo bersama relawan Saver selalu meminta waktu kepada para pendaki untuk mengikuti briefing sebelum mendaki Gunung Semeru. Dengan terobosan brilian tersebut, Cak Yo berharap setiap pendaki mendapat pengetahuan umum dan kontemporer sebelum melakukan pendakian.

Cak Yo juga menekankan pentingnya siapapun pendaki dan berapakalipun pendaki itu telah ke Mahameru, untuk tetap mengikuti briefing sebelum mendaki. Sebab ada update informasi dan juga yang terpenting briefing tidak diwakilkan, artinya setiap pendaki wajib bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Bagi Cak Yo, hal tersebut karena nyawa kita tidak dapat dititipkan kepada orang lain, maka briefing wajib diikuti setiap individu.

Hal tersebut diibaratkan di mana bumi dipijak maka di situ langit dijunjung. Sebab sudah menjadi kesepakatan bersama dan juga Standart Operasional Prosedure (SOP) BKSDAH tentang brifieng. Terlebih bagi tamu, mengikuti briefing juga memperlihatkan betapa pendaki sebagai tamu, menghormati tuan rumah dan adat istiadat yang berlaku di sekitar.

Ada nilai lebih bagi para pendaki yang mengikuti briefing, selain mendapat ilmu baru, pendaki juga dapat lebih mengendalikan diri dan ambisi,

seperti pernyataan Cak Yo bahwa tujuan utama mendaki bukanlah puncak, akan tetapi pulang dengan selamat sampai rumah.

Sebab kondisi alam di Mahameru pasti mengalami fluktuasi, apalagi Mahameru merupakan salah satu gunung aktif yang memang memiliki berbagai keindahan baik alam maupun budaya di dalamnya. Maka tak heran Mahameru akan tetap menjadi daya tarik bagi penghobi alam bebas baik pegiat alam maupun bagi para penikmat alam.

Untuk mengenal lebih dekat Cak Yo, Wartapala Indonesia mewawancarai eksklusif di tengah-tengah kesibukannya sebagai relawan Saver.

Awalnya terjun di dunia Kepencinta Alaman?

Saya mulai mengenal kegiatan sosial seperti ini awalnya dari Pramuka, saat SMP dan SMA karena dulu komunitas kepencinta alaman sangat minim sekali di kawasan Lumajang, jadi saya memilih untuk belajar di Pramuka.

Setelah lulus SMA saya vakum dari kegiatan sosial sebab saya bekerja di Jakarta untuk mencari sesuap nasi. Lalu saya kembali lagi ke kampung halaman Lumajang, dan saya berfikiran bahwasanya saya harus berbuat sesuatu untuk kawasan di sekitaran kampung saya.

Modal apa yang dimiliki dalam cita-cita mengabdi pada kampung halaman?

Awalnya saya memang sudah berniat berbuat sesuatu, tapi karena terkendala kemampuan saya yang terbatas. Akhirnya saya berusaha untuk mencari ilmu dengan cara membaca buku, membaca  tulisan di media dan segala macam, lalu saya belajar secara spesifik tentang ilmu konservasi  sekitar tahun 2011 di Meru Betiri Servise Camp (MBSC).

Dari MBSC itulah saya mulai mengerti apa sebenarnya konservasi itu dan apa manfaat bagi kawasan, flora, fauna dan masyarakat juga. Dari MBSC lah akhirnya saya menemukan visi dan mulai menekuni ilmu konservasi.

Bagaimana ceritanya bisa mengetahui MBSC?

Waktu itu saya memiliki kawan di Mapala Bekisar, saat itulah saya mendaftarkan diri untuk mengikuti MBSC. Kebetulan waktu itu saya terdaftar sebagai peserta tertua di MBSC, tapi hal itu bukan merupakan kendala bagi saya. Syukur juga bisa menjadi pemacu bagi generasi muda, bahwa tidak ada batasan dalam mencari ilmu, sebab orang setua saya saja masih semangat untuk mencari ilmu, apalagi yang masih muda.

Dan dari situlah saya mulai paham dan semakin bersemangat untuk mulai menggali  disiplin keilmuan tentang konservasi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

Lalu bagaimana awalnya bisa mencetuskan Saver?

Untuk Saver sendiri, tahun 2014 awal, pendakian bulan Januari ditutup, namun sebelum itu pada 2013, kami memiliki pemikiran bahwasanya mayoritas pendaki saat ini sangat minim dalam ilmu pengetahuan tentang gunung, konservasi dan lainnya.

 Jadi mereka saat itu hanya sekedar melakukan perjalanan saja, padahal kanan kiri kita dalam setiap melakukan perjalanan itu ada nilai lebih yang dapat digali tentang sejarah, konservasi, budaya dan yang lainnya.

Juga waktu itu saya miris sekali melihat pendaki yang menggunakan alat pendakian seadanya, mereka dengan gampangnya naik gunung tanpa persiapan sama sekali, hal itu juga didasari dari dampak salah satu film yang menganggap naik gunung itu gampang.

Akhirnya dengan gampang, segala lapisan masyarakat menggampangkan naik gunung dengan peralatan seadanya dan yang lainnya.

Akhirnya saya berkomunikasi dengan Kepala Resort di TNBTS yang bertempat di Ranu Pani saat itu, bahwa bagaimana seandainya setiap pendaki yang akan mendaki Mahameru itu di briefing terlebih dahulu, untuk mengatur keberangkatan. Akhirnya berkembang, kami memasukkan nilai-nilai konservasi, budaya, sejarah, adat dan kegunung apian sebagai materi briefing.

Untuk anggota Saver sendiri yang merupakan relawan murni, kami tidak memiliki patokan, dari manasaja boleh, namun kami memaksimalkan pemuda lokal yang selama ini tidak diperhatikan.

Dalam hal ini kami memaksimalkan dan ingin mengenalkan kepada para pendaki bahwa di sekitaran sini terdapat juga potensi budaya dan pemuda yang juga dapat menjadi sahabat bagi mereka.

Oleh karena itu pemuda lokal kami angkat untuk mengambil bagian, karena seandainya terjadi kerusakan terhadap kawasan yang disebabkan oleh pendaki, maka yang pertama kali merasakan dampaknya adalah masyarakat sekitar kawasan.

Jadi ini juga merupakan tanggung jawab dari rekan-rekan komunitas yang berada di kawasan Bromo Tengger Semeru.

Kendala apasaja yang terjadi saat pertama kali memberikan Briefing kepada Pandaki?

Tentu saja dan wajar, namun semua hanya masalah komunikasi. Sebab wadah kami juga masih baru, dan masih merangkak, jadi apabila ada kekurangan maka akan kami perbaiki perlahan-lahan.

Namun bagi pendaki, jika ada keluhan kendala tentang waktu, itu wajar, sebab perlu disadari juga bahwa selama ini pendaki itu mendaki secara instan. Mereka pikir beli tiket, berangkat langsung pulang, tapi kami tetap merangkul mereka untuk tetap memasukkan minimal edukasi kepada pendaki, bahwasanya sempatkanlah waktu sejenak di sini, dari pada nanti kehilangan waktu selamanya di sana.

Itu adalah konsep-konsep yang kami bangun, namun lama-lama pendaki mulai menyadari meskipun ada pro kontra juga.

Lalu tentang kendala yang lainnya, memang Saver merupakan wadah baru, kemudian banyak sekali komunitas lain yang merasa iri dengan keberadaan Saver. Bahwasanya mereka yang ingin juga menjadi relawan di sini, itu merasa potong dengan adanya Saver.

Padahal ini bukan tentang bendera, tapi tentang mari kita bersama mengabdi kepada alam, karena di sini juga punya wadah maka mari kita komunikasikan. Sebab wadah ini merupakan wadah lokal yang mengangkat potensi dan kearifan lokal yang ada di sini.

Dan kedepannya juga kami mengharapkan dengan adanya Saver di sini, masyarakat Ranu Pane mendapatkan nilai lebih dari apa yang ada di sini, jadi dengan adanya Saver mereka terangkat dan lebih berani untuk menegur pendaki yang merusak.

Sebab sebelumnya, masyarakat lokal itu takut kepada pendaki, adu argumen dengan pendaki itu takut, karena mereka kalah dalam adu argumen terhadap pendaki.

Secara pribadi apa yang Cak Yo harapkan dengan mengabdi kepada Alam?

Tujuan secara pribadi kami, yang penting kawasan yang kami tinggali itu aman dan lestari, dan tamu dalam hal ini pendaki itu selamat.

Sebab saat terjadi insiden di sini, belum tentu orang yang ada di luar itu akan ada di sini, yang ada di sini itu siapa? Itu salah satunya saya,  itu mengapa saya harus ambil bagian di sana.

Kalo tentang kawasan, jika terjadi kerusakan kawasan, itu bukan orang luar sana yang merasakan, tetapi kami. Oleh karena itu saya secara pribadi bagaimana menjaga keselamatan bersama terutama pendaki paling tidak memberikan informasi tentang keselamatan, aturan dan bagaimana kawasan itu sendiri tidak rusak oleh pendaki.

Bagaimana cara kami di luar sana membantu dan ikut mengambil bagian bersama Saver?

Jadi marilah kita tanggalkan bendera kita untuk satu tujuan yakni untuk kemanusiaan, kelestarian kawasan dan keselamatan bersama. Jadi bukan berarti orang yang mau ikut ambil bagian di sini harus ikut Saver, itu tidak. Jadi kami di sini sebagai kordinator untuk mengkondisikan rekan-rekan yang ingin berbuat sesuatu terutama di kawasan Semeru.

Jadi harapan kami, mari rekan-rekan komunitas yang lain membangun sebuah kesadaran, yang benar-benar merasa memiliki kawasan, bukan hanya di Semeru, bahkan di Taman Nasional yang lain.

Bagi teman-teman yang ingin bergabung dengan Saver, maka kami buka untuk umum, syaratnya adalah punya kemauan dan mau belajar. Sebab relawan di sini juga harus meningkatkan kapasitas. Lalu tinggal di basecamp untuk melihat dan praktik langsung bagaimana cara menjadi relawan di sini. Keahlian apasaja dapat membantu juga dalam memaksimalkan wadah.

Dan bagi siapa saja yang mau belajar di Saver, kami buka pintu selebar-lebarnya. Mari kita saling berbagi ilmu yang bermanfaat untuk sesama sebagai amal di hari selanjutnya.

Siapa yang menjadi Inspirasi tentang terobosan Briefing sebelum mendaki?

Kalo untuk briefing itu pemikiran bersama, dari saya pribadi, salah satu teman di Malang dan Kepala Resort di sini bahwa untuk mengisi waktu luang pendaki sebelum mengantri beli tiket. Kemudian hal ini berkembang untuk juga mengatur jadwal keberangkatan pendaki.

Jadi kita isi waktu luang itu dengan memberi wawasan dan materi tentang konservasi, budaya, pendakian dan yang lainnya.

Sebab di SOP di Taman Nasional itu ada, hanya kurang diterapkan secara maksimal. Untuk materi sendiri tidak ada acuan khusus, jadi kami secara kontemporer saja.

Lalu bagi pendaki dari asing, tentu bahasa menjadi suatu kendala, maka kami sediakan waktu dan treatment khusus bagi pendaki asing. Sebab turis asingpun yang tidak didampingi guide, tetap kami beri briefing, sebab relawan di sini juga ada yang menguasai bahasa asing.

Untuk tanya jawab kami juga buka, namun tidak terlalu lama sebab tentu akan memakan banyak waktu lagi, yang pasti kami sosialisasikan inti dan safety prosedurenya.

Bisa dikatakan Semeru saat lebih ramah, lalu apa para penjual makanan di kawasan jalur pendakian itu merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat sekitar?

Kalau untuk yang jualan di kawasan, sebenarnya tidak ada aturan. Tidak boleh sebenarnya. Namun Taman Nasional juga tidak bisa melarang dan juga tidak bisa mengiyakan untu jualan di kawasan konservasi.

Lalu ada win-win bagi masyarakat yang mencari rejeki di kawasan, dan akhirnya terjadi kerjasama di mana masyarakat selalu kami himbau untuk bisa memposisikan diri dan membantu Taman Nasional untuk menjaga. Paling tidak untuk kebersihan, dan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bisa ambil bagian.

Lalu mengenai pengelolaan sampah yang dibawah turun kembali, bagaimana sistem pengelolaannya?

Selama ini merupakan inisiatif dari rekan-rekan Saver, sebab terus terang, mengumpulkan sampah di base camp itu juga merupakan memindahkan masalah. Yang penting bagi kami di dalam kawasan pendakian itu bersih, sehingga dengan mengumpulkan sampah di sini, akan memudahkan kami untuk melakukan pemantauan. Lalu kami lakukan pemilahan sampah yang nantinya akan dibawa ke TPA Tumpang.

Adakah sanksi khusus bagi Pendaki yang melanggar aturan? Dan siapa saja yang menerapkan?

Dulunya, sanski fisik sering kita temui dan temukan dari beberapa relawan yang merasa memiliki Semeru terhadap pendaki yang melanggar aturan, terlebih melakukan perusakan.

Namun kami merubah paradigma itu dengan lebih memilih melakukan sanksi moral terhadap pendaki yang melanggar, sebab dengan itu mereka lebih sadar akan kesalahannya.

Sebab Saver di sini berfungsi secara preventive dengan memberikan arahan kepada pendaki agar mengetahui rambu-rambu apasaja yang harus dipatuhi. Sedangkan untuk yang menerapkan sanksi itu masyarakat, di mana secara emosional kami bina masyarakat dan kami beri edukasi, sehingga mulai beberapa tahun terakhir ini masyarakat memiliki keberanian untuk mengingatkan dan memberi sanksi kepada pendaki yang merusak, hal tersebut demi keselamatan bersama.

Contohnya seperti sanksi moral di mana jika ada pendaki yang melanggar untuk nekat mandi di Ranu Kumbolo, lalu masyarakat menyita KTP untuk diserahkan ke petugas, dan pendaki di suruh membawa sampah dari Ranukumbolo ke Pos Perijinan.

Mengenai Operasi SAR, sejauh apa peran Saver jika terjadi Insiden dalam operasi SAR di Semeru?

Karena kami di sini, maka kami selalu bisa responsive, dalam arti setiap ada berita laporan kejadian yang tidak diinginkan, maka kami selalu langsung menindak lanjuti. Dan saat operasi SAR, kami selalu menjadi tim advance, karena kami posisi di sini, apabila advance tidak ada perkembangan, maka kami akan libatkan pihak luar, yang berarti dibukanya operasi SAR.

Apa motto dan harapan Cak Yo dalam memaknai alam?

Utamakan Keselamatan dan Kelesetarian alam, sebab dari situ bisa kita jabarkan lebih luas tentang keselamatan, misalnya keselamatan pribadi itu apa saja yang harus dilakukan, dan untuk kelestarian alam, maka apasaja yang boleh dan tidak boleh kita lakukan.

Semoga melalui briefing dan Saver ini menjadi awal dibukanya kesadaran pendaki tentang keselamatan dirinya dan kelestarian alam yang menjadi tanggung jawab bersama sebagai titipan anak cucu, sebab kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang, tapi kita meminjamnya dari anak cucu.

Demikianlah kita mengenal lebih dekat niat baik Cak Yo dan Saver. Setiap insan memiliki cara, dan Cak Yo memiliki cara pendekatan yang brilian kepada pendaki yang merupakan saudara dalam hal kemanusiaan.

Tak jarang gurauan dan anekdot lucu tak luput dilontarkan kepada pendaki saat briefing di mana menjadikan kehangatan dan jalinan emosional antar pendaki dan masayarakat lokal dalam mengantarkan pendaki mengenal alam.

Sebab Pencinta Alam sejati itu bukan tentang berapa  banyak gunung yang sudah kita daki, tapi tentang seberapa banyak alam yang sudah kita jaga. Salam Lestari.

Laporan : Yuliana (Inge)

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Cak Yo Saver

Cak Yo bersama rekannya Rudi memimpin briefing kepada pendaki di pusat informasi

Cak Yo Saver

Briefing Room berkapasitas lebih dari 20 orang, di sinilah setiap pendaki harus mengikuti briefing sebelum mendaki Semeru.

Cak Yo Saver

Suasana di dalam briefing room, para peserta terlihat santai dan serius, mendengarkan penjelasan Cak Yo dan rekan-rekan Saver

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Positive SSL