Eiger Virtual Gathering, #Ambilperan

Caption foto: Tampak peserta Eiger Virtual Gathering di laman Zoom Meeting. (WARTAPALA INDONESIA/ Nindya Seva Kusmaningsih)

Wartapalaindonesia.com, BANDUNG – Masih berada di dalam suasana pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangat PT. Eigerindo MPI untuk mengadakan kegiatan. Eiger Virtual Gathering, salah satu kegiatan yang diadakan secara virtual pada Jumat, 16 Juli 2021.

Kegiatan ini dimulai tepat pada pukul 17.05 WIB, dibuka oleh Public Relation & Marketing Offline Officer PT. Eigerindo MPI, Akmal Pratama. Tak hanya Akmal, tim Public Relation dari PT. Eigerindo MPI, atau Eiger Adventure sebutan akrabnya, ada diantaranya Nabila dan Yandez.

Eiger Virtual Gathering ini diikuti oleh 30 peserta pilihan dari Mapala, Sispala dan OPA di seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan sharing session tentang kegiatan dan pengalaman, utamanya selama pandemi Covid-19 berlangsung. Selain itu juga diisi dengan Q&A produk Eiger dan kegiatan oleh tim EAST, Iwan Kwecheng.

Meski berkegiatan secara virtual, sebelum memulai kegiatan, dilakukan doa bersama sesuai keyakinan masing-masing. Selanjutnya sharing session diisi oleh Yandez, dari tim Public Relation.

“Bagaimana berkegiatan berbasis pandemi seperti ini? Solusinya seperti apa? Utamanya diklatsar yang tentunya tidak bisa dilakukan secara offline,” tanya Yandez kepada peserta.

Terlihat para peserta mengangkat tangannya sebagai antusiasme ingin menjawab pertanyaan dan juga berbagi pengalaman.

“Di tahun 2021, karena di Sumbawa masuk dalam zona kuning maka masih bisa melakukan kegiatan. Hanya saja skala kegiatannya diperkecil sampai di tingkat universitas saja dan tidak bisa dilakukan oleh banyak orang. Kegiatan selama ini yang dilakukan yaitu seperti seminar dan latihan bersama saja,” tutur Dimas Sabilillah, peserta asal Sumbawa.

Sedangkan M. Fikri Haikal, peserta asal Lombok Barat menyampaikan pengalaman yang berbeda. Ia mengatakan bahwa selama pandemi kegiatan tetap berjalan, hanya menerapkan protokol kesehatan.

“Untuk Sispala di Kuningan Jawa Barat, vacum berkegiatan selama pandemi berlangsung. Namun, untuk Mapala masih bisa berkegiatan seperti diklatsar,” ungkap Gieta, anggota Sispala asal Kuningan.

Yandez menambahkan, bahwa untuk kegiatan di masa pandemi ini rata-rata terhalang izin dari pihak sekolah ataupun kampus.

“Kalau bisa berkegiatan pun, anggaran jadinya bengkak di operasional untuk mengikuti protokol kesehatan seperti untuk swab per orang, membeli handsanitizer dan lain-lain,” lanjutnya.

Dina Meylinda, peserta asal Bogor menambahkan, bahwa Bogor termasuk ke dalam zona merah, sehingga selama ini kegiatan hanya diisi secara virtual. Pada tahun 2021 ini mapala bisa mengadakan kegiatan diklatsar.

“Pernah mengadakan diklatsar, tapi kami izin ke satgas kabupaten dan diberikan izin, sehingga kampus juga mengizinkan. Namun sekarang diberlakukan lagi PPKM, sehingga susah lagi untuk mengadakan kegiatan,” sambungnya.

Sharing session selanjutnya diambil alih oleh Nabila, tim Public Relation Eiger Adventure.

“Kegiatan online apa saja yang disuka?”, tanyanya kepada peserta.

Dari keseluruhan jawaban, rata-rata peserta menyukai kegiatan online yang berisikan materi ataupun sharing session seperti materi water rescue, wall climbing juga sharing tentang travel organizing.

Kemudian diskusi utama yang paling ditunggu, yaitu yang diisi oleh tim EAST, Iwan Kwecheng.

Beliau adalah anggota Wanadri pada tahun 1993. Awalnya ikut Wanadri hanya ingin coba-coba, ingin gaul, namun akhirnya dapat pencerahan wawasan, keterampilan hingga mendaki Himalaya dan 7 puncak 7 benua.

Kweceng, sapaan akrabnya juga memperkenalkan produk baru Eiger yaitu Hikehover.

“Semua berawal dari melihat trend kegiatan pendakian atau pendakian tektok, melihat brand Internasional, akhirnya menyampaikan ke tim Desain Eiger Adventure lalu mencoba bikin. Hikehover ini didesain utamanya cocok untuk rescue karena memiliki berat hanya 0,9 kg dengan kapasitas isi 40 liter. Selain untuk rescue juga cocok untuk trekking ke Himalaya dan juga memiliki kelebihan harganya hanya setengah dari brand Internasional,” jelasnya.

Sesi tanya jawab pun dibuka olehnya, banyak pertanyaan yang dilontarkan ke Kang Kwecheng, utamanya seputar pendakian. Berikut lebih jelasnya:

“Apa saja tips dan trik di ketinggial 5000 mdpl?” tanya Bilal Syaifullah, peserta asal Solo.

“Saat mendaki gunung kegagalannya terletak pada berjalan yang terlalu cepat sehingga fisik belum bisa meng-­cover perjalanan dan tentunya bisa mengakibatkan cidera. Berjalan di gunung seharusnya menyesuaikan kemampuan fisik, karena semakin tinggi ketinggian gunungnya maka oksigen semakin tipis, kalau kita tidak bisa mengontrol oksigen bisa bersiko,” jawab Kwecheng.

Kwecheng menambahkan bahwa mendaki gunung perlu menyiapkan fisik, emosional juga dikedepankan saat di lapangan dan yang kedua adalah otak untuk mengatur strategi.

“Tenang aja, puncaknya gak akan lari, gak akan pindah, tetap berdiri gagah di sana, tenang aja. Karena tinggi rendahnya gunung tidak bisa dianggap remeh,” tambahnya.

“Bagaimana caranya biar efektif buat manajemen perjalanan dan logistic, bukannya saat keluar energy besar juga butuh asupan kalori yang besar?” tanya Anbia Ulhaq, peserta asal Kabupaten Sukabumi.

“Logistik juga menyesuaikan selera atau lidah, juga mempertimbangkan factor psikologis, pembekalan juga disesuaikan kapasitas angkut,” jelasnya.

Kweceng mengatakan bahwa jika dalam satu tim ada konflik maka hal tersebut sangatlah normal. Sebab dalam tim tersebut focus pada satu masalah sang sama hanya saja berbeda pendapat.

Usai sudah sesi tanya jawab oleh Kwecheng, selanjutnya dikembalikan lagi kepada Nabila,

Nabila menyampaikan jika saat ini Eiger Adventure mengkampanyekan #ambilperan, hastag ini maksudnya adalah peran apa yang bisa kita ambil sebagai penggiat alam dalam mengadapi kondisi saat ini.

“Kira-kira apa peran Mapala, Sispala dan OPA, kita bisa ngapain di kondisi kayak gini?” tanyanya.

Diantaranya peran yang bisa kita lakukan yaitu menegakkan prokes, mengkampanyekan vaksin, tentunya mengajak semua lapisan masyarakat mengikuti aturan pemerintah.

Tak terasa telah sampai di pengujung kegiatan, peserta diberikan reward oleh Eiger Adventure yaitu games dengan mendapatkan sebanyak lima doorprize dan satu best costume.

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Editor || Alton Phinandita Prianto, WI 150001

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: