Ekspedisi Sunah : Pemetaan, Pendataan Serta Penyusuran Sungai Cigeuntis-Karawang

Kegiatan pendataan serta pemetaan badan Sungai Cigeuntis sejauh 16 KM di Kec.Tegalwaru, Karawang. (WARTAPALA INDONESIA/ Sehan Alfarizal, BARA RIMBA)

Wartapalaindonesia.com, EKSPEDISI – Sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Mandiri Keanggotaan (PMK) di Bara Rimba, saya diharuskan melakukan sebuah kegiatan ekspedisi.

Ekspedisi tersebut diberi nama Ekspedisi Sunah dengan tema “Riverboarding Sungai Cigeuntis Kab.Karawang”, yang bertujuan untuk mendata, memetakan serta menyusuri Sungai Cigeuntis dengan jalur kepetualangan Riverboarding yang bertempat di Kec.Tegalwaru, Karawang.

Kegiatan dari Ekspedisi Sunah dibagi menjadi dua tahap, tahap satu dilaksanakan pada tanggal 11 – 14 Desember 2017 dengan kegiatan pendataan serta pemetaan badan Sungai Cigeuntis sejauh 16 KM.

Dan tahap dua dilaksakan pada tanggal 18 Februari 2018 dengan kegiatan uji coba pengarungan sejauh 1 KM.

Mungkin nama Sungai Cigeuntis sangatlah asing bagi sebagian orang yang menyibukan diri mereka dengan aktivitas mendaki gunung, memanjat tebing, atau dengan hal-hal lainnya yang dimana mereka mendapatkan hasil potret yang memuaskan untuk bisa dipamerkan di sosial media.

Tapi apabila melihat keseharian aktivitas yang kita lakukan tentunya tidak terlepas dari air yang bersih. Dimana kita pakai, kita nikmati, dan kita pula yang mencemari air tersebut dengan keseharian kita yang tidak peduli tentang dampak dari hal terkecil yang biasa kita lakukan.

Misalnya membuang sampah kebantaran sungai yang dimana seakan itu adalah hal yang biasa kita lakukan karena kemalasan kita untuk menjangkau tempat sampah.

Peralatan yang dibawa oleh tim ekspedisi sunah adalah sairan (jaring) dan nampan untuk menangkap makrozoobentos yang ada di sungai, pelampung, helm, sepatu renang, tali lempar, riverboard, meteran, dandry bag.

Metode pendataan yang digunakan oleh tim Ekspedisi Sunah memakai metode pendataan Biotilik dimana telah dijelaskan oleh Prigi Arisandi dari Ecoton.

Jika selama ini pemantauan ekosistem sungai identik dengan keharusan untuk menggunakan peralatan canggih dan mahal, yang berarti jauh dari jangkauan masyarakat umum, maka metode biotilik menawarkan cara sederhana tetapi efektif yang memudahkan kelompok maupun komunitas untuk langsung memantau sampai sejauh mana kesehatan ekologis sebuah sungai dan daerah alirannya.

Maka dari itu,  tim memilih metode pendataan biotilik untuk dipakai, selain hemat dan murah namun metode biotilik juga sangat efektif untuk kelompok maupun sebuah komunitas yang hendak melakukan sebuah pendataan kesehatan badan sungai.

Tahap1 pada tanggal 11 – 14 Desember 2017 Ekspedisi Sunah melakukan pendataan serta pemetaan sejauh 16 KM.

Pada hari pertama tanggal 11 Desember 2017 tim mendata titik KM 0 – KM 1 karena pada saat tim hendak melanjutkan ke titik selanjutnya tiba-tiba cuaca tidak mendukung untuk dilanjutkan.

Di hari kedua pada tanggal 12 Desember 2017 tim pun melanjutkan kembali pendataan dari titik KM 2 sampai KM 8, di sepanjang penyusuran sungai tim menemukan adanya sebuah Sypon di titik KM 8.

Sypon (Bendung) tersebut dihiasi oleh banyak sampah serta ranting pohon  yang dimana membuat Sungai Cigeuntis tercemar. Dan keesokan harinya tim pun melanjutkan pendataan dari KM 9 – KM 16, antara pertemuan Sungai Cibeet dimana jadi titik akhir.

Hasil dari pendataan biotilik yang didapatkan oleh tim ekspedisi sunah mendapatkan 12 famili dan 2 diantaranya kelompok EPT dan sisa 10 nya adalah kelompok Non EPT.

Hasil biota yang didapat dari tim ekspedisi sunah dari ke 12 famili tersebut memiliki skor atau tingkat pencemaran cukup sensitive dan toleran pencemaran.

Dan dari data yang diperoleh berdasarkan pendataan menggunakan metode kesehatan habitat sungai bahwa Sungai Cigeuntis menunjukkan skor substratnya memiliki skor 1.6 dan 1.1 (tidak sehat).

Sementara untuk fluktuasi debit memiliki skor 1.9 dan 2.3 (kurang sehat). Stabilitas tebing sungai memiliki skor 2.1 dan 2 (kurang sehat), untuk vegetasi sempadan memiliki skor 2.1 dan 2.2 (kurang sehat).

Terakhir untuk aktifitas manusia di sepanjang bantaran memiliki skor 2.2 dan 2 (kurang sehat). Dengan rata-rata kesehatan habitat sungai 2 atau memiliki habitat yang kurang sehat untuk tempat hidup makrozoobentos.

Indikator adanya pencemaran di Sungai Cigeuntis dikarenakan adanya sebuah pertambangan serta wisatawan yang berpengaruh terhadap kualitas air sungai.

Pemetaan yang berhasil didata dari titik KM 0 (Sypon Waru) – KM 16 (Pertemuan Sungai Cibeet) memakan waktu 3 hari lamanya. Dan tim telah memperoleh data debit zona hulu sebesar 4,1 M³/s memiliki volume sungai 42 M³,  di zona pertengahan memiliki debit 2,5 M³/s dan memiliki volume sungai 47,5 M³, zona hilir sendiri memiliki debit 2,7 M³/s dengan volume 27,6 M³.

Hulu dari Sungai Cigeuntis berasal dari Pegunungan Sanggabuana dan bermuara di Sungai Cibeet. Namun tim memilih Sypon Waru sebagai titik pertama untuk melakukan pendataan serta pemetaan Sungai Cigeuntis.

Dari zona hulu atau titik KM-0 (Sypon Waru) sampai dengan KM-7 masih terdapat banyaknya bebatuan besar membuat jeram atau arus sungai cukup deras. Sedangkan dari zona pertengahan antara KM-8 (Sypon Padalarang) sampai dengan KM-12 terdapat banyaknya sampah serta penambangan yang dimana membuat arus sungai cukup tenang dan tidak ada jeram serta tingkat pencemarannya tinggi.

Lalu dari KM-13 sampai muara atau KM-16 (pertemuan Sungai Cibeet) terdapat banyak bebatuan yang terpendam oleh pasir atau tanah yang mengakibatkan arus tidak deras atau tenang.

Berikut rekomendasi spot dari tim Ekspedisi Sunah, KM-1 adalah titik pertama yang kami rekomendasikan sebagai Spot ORAD (Olahraga Arus Deras), dengan grade 1 – 3, KM-2 salah satu spot yang paling bagus untuk ORAD, dengan grade dari 1 – 4.Titik ke-3 ini pun juga menarik untuk ORAD, dengan tingkat grade 2 – 3, Titik ke-4 memiliki grade 1 – 3, KM-5 ini adalah titik terakhir dari tempat yang direkomendasikan.

Dari ke lima rekomendasi tersebut KM 2 adalah spot yang paling bagus untuk sebuah kepetualangan arus deras, dengan grade 1 – 4 menjadikan spot ini sebagai yang paling menantang dari spot-spot lainnya. Selain itu juga Sungai Cigeuntis adalah sungai yang memiliki spot indah lainnya, yang bisa menarik wisatawan.

Selain itu juga tim ekspedisi sunah menyarankan bila ingin melakukan pengarungan atau olahraga arus deras di Sungai Cigeuntis pilihlah jadwal atau waktu yang tepat seperti akhir musim hujan atau pertengahan musim hujan.

Karena di musim kemarau Sungai Cigeuntis airnya kecil dan bahkan tidak ada air bila musim kemarau telah tiba. Dan apabila ingin melakukan ORAD di Sungai Cigeuntis minimal membawa 3 atau 4 orang agar ada yang melakukan scouting dan menjadi tim res­cue. P3K sangat wajib untuk dibawa, peralatan serta kelengkapan harus di check kembali agar tidak terkendala saat melakukan pengarungan.

Kontributor || Sehan Alfarizal, BARA RIMBA

Editor || Alton Phinandhita Prianto

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan