Irfan Ramdhani, Melawan Keterbatasan Tanpa Batasan

Irfan Ramdhani, “aku yakin suatu saat nanti wanita yang mau denganku adalah utusan Tuhan untuk menemani hidup dan matiku”. SOSOK. WARTAPALAINDONESIA/ Nindya Seva

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Irfan Ramdhani (a.ka) Irfan, sosoknya di dunia kepencintaan alam dikenal sebagai seorang penulis. Meskipun tak memiliki basic sebagai penulis, pria bergelar Sarjana Komputer kelahiran Depok, 26 April 1990 ini membuktikan bahwa setiap orang memiliki jiwa untuk menulis. Sebuah motivasi yang ditumbuhkan untuk semua orang dan menegaskan bahwa ilmu yang kita tempuh di dunia pendidikan bukan suatu jaminan untuk mengantarkan ke gerbang kesuksesan.

Sukses menulis buku Tabah Sampai Akhir yang laris manis di kalangan Pencinta Alam, merupakan buah manis tempaan hidup pria yang tergabung di UKM Pencinta Alam Mapa Gunadarma Depok. Mengalami kecelakaan saat latihan susur gua (single rope technique) tahun 2010 silam, di mana harus merelakan kedua kaki lumpuh, serta penglihatan yang hanya dapat melihat satu warna hitam saja. Siapa sangka, syukur dan ketabahannya menjadi inspirasi dalam menemukan jalan hidupnya.

Para teman yang menghilang bahkan seorang yang pernah mengisi kekosongan hati pun turut meninggalkan, bagaikan hidup sungkan mati tak mau. Namun dari sanalah ia mulai belajar bahwa tak semua keinginan bisa terlaksana, dari sana juga ia belajar bahwa hidup memang keras yang kuat yang bertahan yang lemah berantakan.

picasion.com_de58394176c77addc91cf630da1cd1d2

Ia juga belajar bahwa hidup harus tetap berjalan, sehingga Irfan berpikir untuk berkarya. Melalui  karya, apa yang akan ia curahkan bisa di dengar oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan semangat juang yang tinggi ia ingin berikan dedikasi kepada seluruh semesta raya yang sudah mendukungnya ketika melewati masa sulit, untuk bangkit dari segala keterpurukan dengan melawan segala keterbatasan.

Pasca kecelakaan, kehidupannya berubah drastis, ia hanya berpikir bagaimana caranya untuk bertahan hidup. Dan kala itu ia mengenal sosok Ibu, Riyanni Djangkaru dan Fajar Ismail  yang memiliki peran dalam memotivasi dirinya, ia seperti mendapat tamparan ketika mendengar ucapan dari mereka, “kamu itu masih punya tangan, badan dan hanya saja kakimu yang masih keterbatasan, kamu masih punya otak Fan, berkaryalah”, tiru Irfan Ramdhani.

Berawal dari tamparan itu ia mulai menemukan kehidupan barunya, di bawah bimbingan Fajar Ismail ia mulai belajar menulis dan mulai memasuki dunia literasi. Perlahan Irfan pun mulai mengatakan bahwa, “aku mencintai dunia literasi.”

Sebenarnya ia tak pernah membayangkan sedikitpun untuk menjadi seorang penulis. Irfan berpikir ketika lulus kuliah ia akan menjadi pekerja kantoran. Serta hidupnya selama bertualang hanya akan dinikmati sebatas teman-temannya saja, tidak bisa membagikan kisah perjalanannya melalui media tulisan atau berkarya, yang ia pikirkan hanya berjalan atau eksplorasi saja.

Namun, ketika menjadi seorang penulis, hidupnya sangat berguna. Mengapa? Karena perjalanannya adalah perjalanan yang dapat dibagi kepada pengagum karyanya. Kini intuisi menulisnya mengantarkan kepekaan pada kejadian yang menurut orang sepele, bagi Irfan, itu semua bisa menjadikan landasan ide dasar untuk memulai menulis cerita yang bermanfaat bagi sesama.

Selain itu efek menjadi penulis mungkin bisa dikenal oleh sebagian lapisan masyarakat dan ia menjadi beruntung karena setiap perjalanannya menuju kota atau desa di pelosok Indonesia sekalipun menjadi sangat mudah, yaitu dengan cara menghubungi penikmat karya-karyanya.

Sosok panutan yang sangat menginfluence Irfan dalam menulis yaitu penulis Indonesia yang sukses dikanca Internasional, salah satunya adalah Pidi Baiq, Emha Ainun Najib serta Riyanni Djangkaru, mereka semua adalah penulis dari berbagai latar belakang yang berbeda. Riyanni Djangkaru di dunia petualangan, Pidi Baiq di dunia filsafat atau sastra dan Emha Ainun Najib di dunia Agama atau lebih menulis tentang bagaimana caranya ‘menghargai hidup’ dan mereka semua merupakan motivasi terbesarnya.

Irfan mengatakan, “aku tidak ingin kalah dari mereka, aku ingin menjadi bagian sejarah penulis di Indonesia, bahkan aku sangat mengagumi sosok ‘Soe Hoek Gie’ Bapak Pencinta Alam di Indonesia dan Gie juga adalah seorang penulis, dan sangat sedikit di dunia petualangan yang saat melakukan perjalanan, mau menulis, terlebih di era globalisasi saat ini. Maka dari itu aku ingin melanjutkan perjuangan Gie di masa kini, dan ingin menjadi salah satu sejarah di dunia petualangan yang menghasilkan karya tulis”.

Saat ini, kesibukan sehari-harinya diisi dengan menulis buku, cerpen, artikel, naskah film pendek, hingga naskah film layar lebar. Namun tidak hanya menulis, Irfan juga sibuk aktif di dunia kepencintaan alam. Di tengah keterbatasan fisiknya, Irfan masih aktif berkegiatan di alam, seperti gunung, tebing, laut hingga dalamnya gua.

Bahkan belum lama ini ia mengudara (a.ka) terbang menggunakan Paralayang yang sejauh ini melihat kondisinya, olahraga Paralayanglah yang paling sulit dilakukan. Namun, berkat sokongan dari Mas Gendon Subandono yang notabene adalah salah satu pelopor olahraga paralayang di Indonesia, “tidak ada yang tidak  mungkin untuk berkegiatan di alam bebas dengan kemauan dan tekad yang kuat”.

Anak pertama dari dua bersaudara ini menyatakan bahwa sampai kapanpun ia ingin berkegiatan di alam bebas, karena alam adalah guru yang paling menakjubkan untuk mendidik manusia agar menjadi seorang pemimpin yang hebat, bahkan Presiden Indonesia saat ini pun terdidik di alam ketika masih menjadi mahasiswa.

Kini bagi sosok Irfan, keterbatasan fisiknya bukanlah suatu batasan untuk mencintai alam dengan cara berkegiatan di alam bebas. Pria dengan khas bandana di kepalanya ini, telah berhasil membuktikan bahwa seorang disabilitas mampu melawan keterbatasan tanpa batasan. Kata-kata yang ia tularkan kepada teman-teman disabilitas lainnya, yang kini menjadi semboyan hidupnya yaitu tabah sampai akhir.

Kini Irfan berhasil mengubah dunia disabilitas dan menjadi motivasi besar untuk teman-teman disabilitas. Sampai detik ini Ia sedang sibuk menyebarkan virus semangat keseluruh penjuru negeri, bahkan bumi. Ia ingin memberi pesan kepada pemerintahan Indonesia bahwa sesungguhnya Indonesia belom merdeka, khususnya merdeka untuk teman-teman disabilitas.

Untuk mengenal  lebih dekat Irfan Ramdhani menggeluti dunia kepenulisan, Wartapala Indonesia mewawancarai secara eksklusif di tengah-tengah jadwal padatnya sebagai  seorang penulis.

Apa saja kendala yang anda hadapi saat menjadi penulis yang sukses seperti sekarang ini?

Kendala wrting block atau stak ketika menulis, jenuh, mood yang jelek, deadline.

Bagaimana cara anda menghadapi kendala tersebut?

Caranya kalau menurutku pribadi adalah apabila stak dalam menulis, rehatkan sejenak pikiran kita dengan mendengarkan lagu-lagu yang lirik aksaranya mengagumkan sehingga bisa mengambil ide dari lagu atau lirik terebut. Dan melawan mood yang tidak enak, menurutku paksakan saja menulis karena akan dikejar deadline, biarkan saja tulisanmu mengalir. Dan ketika sudah memaksakan menulis jelek, ketika ingin dikirim ke media masa atau penerbit jangan lupa self edit untuk menyempurnakan tulisanmu.

Apa kegiatan alam yang anda lakukan tidak mengganggu pekerjaan menulis anda?

Mengganggu? Sangat tidak, bahkan apabila aku menelusuri tapak kaki menuju alam, disanalah ide terbesar muncul, kalau dibilang mood, mood yang paling baik untuk menulis untuk aku pribadi ya di alam, mau itu di pantai maupun di Gunung.

Kapan biasanya anda menulis? Apakah anda menargetkan waktu (misal minimal sehari 5 jam anda gunakan untuk menulis) ?

Ketika di rumah, di kamar tepatnya, diwaktu yang senggang, dan di alam, di manapun aku bisa menulis, asal ada waktu yang luang. Dan aku mempersiapkan nulis setiap harinya, minimal setengah jam untuk menulis, agar bisa terus mengasah kemampuan menulis dan menambah gaya tulisan ataupun menjadi konsisten. Dengan itu akan sendirinya akan menjadi terbiasa untuk menulis. Bahkan menulis saat ini sangat mudah, terlebih sosial media sangat merajarela dimana-mana. Jadi, menulis caption pun bisa dijadikan ajang berlatih menulis.

Di mana tempat yang paling anda sukai untuk menulis?

Dikamarku, dan di tempat yang dingin dengan suasana alam terbuka itu tempat yang menyenangkan ketika aku menulis, yang jelas aku sangat suka angin dan pencinta angin, ketika ada angin yang diam-diam menelusup ketubuhku aku sangat senang #BAHAGIAITUSEDERHANA #BAHAGIAMILIKKITASEMUA

Sudah berapa buku yang anda tulis? Dan buku mana yang paling anda sukai?

Baru dua, yang pertama Tabah sampai akhir dan  Second Chance yang paling aku suka adalah Tabah Sampai Akhir dan dari buku itu aku dikenal luas sama masyarakat di Indonesia, akan tetapi aku sedang menulis buku ketigaku, walaupun belum terbit aku sangat suka dengan naskah buku ketigaku, dan akan menjadikannya trilogi dari Tabah Sampai Akhir.

Saya melihat anda berteman dengan teman-teman disabilitas, bagaimana awal mulanya bisa tertarik untuk berteman dengan mereka dan bahkan anda juga belajar tentang bisindo?

Awal mulanya saat aku diundang ke salah satu yayasan disabilitas di Bali, disanalah aku bersyukur ketika masih banyak manusia lainnya yang lebih kurang beruntung dariku, bahkan ketika aku menyambangi mereka, mereka juga pernah melakukan diving dan menurutku mereka sangat keren dan menginspirasiku juga.

Mengapa belajar Bisindo? karena bahasa adalah universal punya mahluk yang bernyawa, dan bahasa mereka unik, selain itu aku sangat bersyukur dengan mudahnya mengobrol dengan teman-teman ‘dengar’ karena bisa curhat kapan saja, tidak bagi teman-teman tuli, apabila ingin curhat atau berkomunikasi harus mengajarkan orang bahasa isyarat terlebih dahulu agar bisa dimengerti.

Apa pendapat anda tentang anak-anak disabilitas? Dan apa arti mereka bagi anda?

Pendapatku mereka adalah sempurna, bersyukur, takjub dan mengagumkan. Arti mereka adalah membuatku semakin ingin lompat lebih tinggi dan terus menginspirasi ke seluruh pelosok negeri. Dan bagiku mereka adalah sexy untuk terus mengarah kebaikan dan tidak ada kata yang lebih indah ketika mengucap kata syukur.

Hal apa yang menjadi fokus utama anda saat ini? Apa itu tentang cinta, karier, keluarga atau Tuhan?

Yang jelas aku saat ini sedang terus bermesraan kepada sang Maha Kuasa agar lebih terarah hidupku, lalu keluarga, karier dan cinta. Karena untuk kondisi saat ini aku dihadapkan oleh perasaan yang sangat sulit untuk dimengerti, apakah cinta hanya untuk yang bertubuh lengkap? ah sudahlah aku hanya yakin apabila cinta untuk semua mahluk yang bernyawa, dan aku yakin suatu saat nanti wanita yang mau denganku adalah utusan Tuhan untuk menemani hidup dan matiku.

Apa hal yang belum anda capai hingga saat ini?

Belum diving di Raja Ampat, film layar lebar masih proses dan ingin menjadikan nyata bahwa filmku akan tayang di dunia bukan lagi Indonesia, karena sudah ada tawaran untuk filmku dari salah satu PH dari German, semoga semesta mendukung agar terealisasinya filmku dan yang paling utama aku masih berjuang untuk membuat Ibuku tersenyum ketika aku bisa berjalan dengan kedua kakiku sendiri

Apa saja Harapan ke depannya untuk diri anda ?

Harapannya adalah semoga aku terus tumbuh dan berkembang melampaui batasan dalam diriku, dan semoga aku menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang banyak karena sebaik-baiknya manusia adalah bermanfaat untuk orang lain.

Dan terus bisa menginspirasi keseluruh muka Bumi dengan diiringi eksplorasi ke tempat-tempat yang melelehkan kedua bola mataku dengan lukisan Tuhan yang sangat mengagumkan

Apa pesan-pesan untuk Pencinta Alam dan teman-teman disabilitas?

Teruslah melangkah, karena untuk apa tidak melangkah ketika masih mempunyai sepasang kaki? Teruslah bermimpi, karena mimpi itu diciptakan untuk menjadi nyata. Karena yang abadi itu bukanlah bunga Edelweis, tetapi yang abadi itu adalah karya. Bermimpilah sesuka hati berjuanglah tanpa henti, jangan dulu mati, tanpa menginpirasi.

Demikianlah kita mengenal lebih dekat sosok Irfan Ramdhani, setiap insan pernah mengalami keterpurukan dan masalah hidup di dunia ini sebenarnya hanya tentang bagaimana cara kita untuk bangkit dari keterpurukan itu dan menghadapi kebahagiaan yang baru. Serta tidak baik jika kita memandang rendah teman-teman disabilitas, nyatanya mereka adalah hal terindah yang Tuhan ciptakan dan mereka mampu membuktikan bahwa mereka mampu melawan keterbatasan tanpa batasan.

Laporan : Nindya Seva

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan