Mahasiswa Pencinta Alam : Dilema Eksistensi dan Kerelawanan Dalam Kebencanaan

Foto bersama peserta dan panitia usai acara Coffee Break di Aula gedung B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta pada Sabtu (1/9/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Septiono (K-555), Herlina Tri Kumalasari (K-561))

Wartapalaindonesia.com, Surakarta – Indonesia termasuk Negara yang rawan terhadap berbagai bencana alam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data bahwa sebanyak 1,134 kejadian bencana terjadi di tahun 2018. Kejadian bencana tersebut didominasi bencana hidrimeteorologi yaitu puting beliung, banjir, dan tanah longsor.

BNPB juga menjelaskan bahwa Jawa Tengah adalah provinsi  dengan kejadian bencana alam tertinggi yaitu sebanyak 315 kejadian bencana kemudian JawaTimur (191 bencana) dan Jawa Barat (163 kejadian bencana).

Perhimpunan Mahasiswa Pencinta Alam KOMPOS (PMPA Kompos) Fakultas Pertanian UNS telah menggelar acara coffee break dengan tajuk Dilema Eksistensi dan Kerelawanan Dalam Kebencanaan.

“Tema ini dipilih karena dinilai semakin meredupnya eksistensi mahasiswa kepencintaalaman dan juga minimnya koordinasi antar organisasi satu dengan yang lain. Maka tajuk yang diangkat kali ini dinilai sesuai,” ujar Imam Muchlisin, Ketua Panitia.

Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 September 2018 bertempat di Aula gedung B Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dan dihadiri oleh kawan-kawan dari penggiat alam bebas.

Pencinta alam merupakan satu elemen kepemudaan yang penuh dengan nilai-nilai dan karakter, keilmuan, sekaligus mumpuni dalam berkegiatan di alam bebas. Kemampuan-kemampuan tersebut juga dalam upaya pencegahan bencana.

“Namun, kenyataan sampai hari ini, keanggotaan di berbagai organisasi pencinta alam semakin rendah sehingga berakibat juga pada rendahnya penguasaan materi kegiatan di alam bebas. Di sisi lain, kegiatan piknik kepetualangan yang dilakukan pemuda-pemuda semakin marak hingga hari ini,” terang Rafika Annisa, Ketua PMPA Kompos.

Narasumber yang mengisi berjalannya acara adalah mereka yang bergelut dalam bidang kepencintaalaman dan Kerelawanan, yakni Ibu Farida Hidayati, S.Psi, M. Si dari Pusat Studi Bencana UNS. Ibu Eko Wati, SH selaku Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surakarta dan Kang Sabar Gorky beliauadalah seorang penggiat alam bebas, relawan, dan juga atlet difabel Indonesia.

Keluaran yang diharapkan dari penggiat alam yang telah berpartisipasi dalam acara ini adalah didapatkan suatu kesamaan pandang bahwa keberlangsungan dan peran vital organisasi mahasiswa pencinta alam adalah suatu hal penting dalam pengelolaan sumber daya kepemudaan Indonesia. Karakter kerelawanan penting dimiliki semua pemuda.

“Tetapi, kerelawanan yang didukung kemampuan lah yang menjadikan pemuda menjadi lebih berkapasitas dan berdaya saing. Koordinasi antara organisasi pencinta alam (OPA) satu dengan lainnya serta koordinasi antara OPA dengan badan organisasi relawan yang lain juga keluaran yang diharapkan dapatdiperoleh peserta diskusi,” tutup Rafika.

Terhubung dengan PMPA KOMPOS :

FB : PMPA KOMPOS

Instagram: pmpakompos

Email : pmpakomposfpuns@gmail.com

Web : kompos.fp.uns.ac.id

CP : Rafika Annisa (085725484149)

Kontributor || Septiono (K-555), Herlina Tri Kumalasari (K-561)

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan