Menjelajahi Gua Vertikal Multi-Pitch

Tim Divisi Caving IMPALA UB saat Intermediate membuat jalur di Gua Wardi, Tulungagung. (WARTAPALA INDONESIA/ Iska Anggraini, Impala UB)

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Kegiatan di bidang pencinta alam kini kian banyak diminati oleh muda-mudi tak terkecuali di Indonesia. Kegiatan mendaki gunung sudah banyak yang dapat melakukan bahkan untuk orang awam sekalipun.

Menaklukan sungai dengan kegiatan arung jeram atau rafting juga menjadi salah satu kegiatan yang banyak digemari. Kegiatan lain di alam bebas yang mulai berkembang dan dapat menjadi alternatif adalah telusur gua.

Gua mempunyai kondisi dan medan yang sangat lain dengan kondisi alam lainnya. Medan lumpur, tumpukan batu (boulder), air terjun, lorong sempit, lorong yang rendah, dan kondisi gua yang gelap gulita.

Karena begitu kompleksnya kondisi dan medan gua tersebut, maka untuk menelusuri gua diperlukan teknik – teknik tertentu serta peralatan yang bisa mendukung untuk kondisi dan medan tersebut.

Terdapat dua jenis dalam melakukan penelusuran gua, yaitu penelusuran gua horizontal dan penelusuran gua vertikal.

Medan pada gua horizontal sangat bervariasi, mulai pada lorong-lorong yang dapat dengan mudah ditelusuri, sampai lorong yang membutuhkan teknik khusus untuk dapat melewatinya.

Sedangkan pada gua vertikal digunakan sistem SRT (Single Rope Ecnique) yaitu teknik untuk melintasi lintasan vertikal yang berupa satu lintasan tali. Teknik ini mengutamakan keselamatan dan kenyamanan saat melintasi tali.

Peralatan penelusuran gua vertikal diantaranya ialah coverall (baju werpak), sepatu boots, helmet, headlamp, tali kernmantel, seat harness, chest harness, webbing serta logam-logam seperti carabiner, croll, mailon rapid, ascender, descender dan lain-lain untuk melakukan rigging.

Pada awal April 2018 lalu, Divisi Caving IMPALA UB telah melakukan pendidikan orientasi lanjutan dengan komposisi 3 Anggota Muda dan 3 Anggota Biasa di Gua Wardi dan Jamio, Tulungagung untuk melakukan pengaplikasian materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Penelusuran gua kali ini adalah penelusuran gua yang berbeda dari orientasi lanjutan caving sebelumnya, yaitu gua dengan karakteristik multi-pitch dimana diperlukan penggunaan-penggunaan teknik rigging (membuat lintasan di gua vertikal) dalam melakukan penelusuran gua vertikal tersebut.

Dalam melakukan kegiatan penelusuran gua multi-pitch terdapat hal-hal yang harus dipahami, dimana dalam pembuatan rigging harus benar, pemilihan anchor harus tepat, dan tentunya dalam setiap melakukan sesuatu atau betindak dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Dalam membuat lintasan (rigging) dan pemasangan tambatan (anchor), ada beberapa poin yang perlu diperhatikan seperti; aman, bisa dilewati oleh semua anggota tim, tidak merusak peralatan, siap digunakan untuk emergence atau lintasan rescue.

Kemudian dalam menentukan tambatan atau lintasan gua vertikal perlu memperhatikan; observasi mulut gua untuk menentukan lintasan yang akan dibuat, rigging man (orang yang membuat lintasan) harus sudah siap dengan semua alat yang dibutuhkan untuk membuat lintasan dan selalu melakukan body check, setelah ditentukan lintasan yang akan dibuat, kemudian bersihkan lokasinya.

Secara keseluruhan dalam pembuatan anchor mempertimbangkan kondisi mulut gua dan pastikan bukan merupakan jalur air.

Pemasangan lintasan pada gua multi-pitch dilakukan menggunakan teknik intermediate. Intermediate adalah teknik membuat anchor tambahan pada titik yang menyebabkan friksi atau titik lain yang lebih tinggi yang menjauhi titik friksi.

Mempertimbangkan atas karakteristik mulut gua yang berbentuk sumur dan terdapat slove yang akan membuat friksi tali. Anchor dibuat dari tambatan alami yaitu menggunakan batang pohon yang tumbuh di sekitar mulut gua.

Terdapat dua anchor yang berfungsi sebagai main atau pengaman utama yang merupakan sebagai jalur untuk menelusur gua dan back up atau pengaman tambahan.

Selain menggunakan teknik intermediate untuk menghindari tali friksi, terdapat cara lain yaitu dengan membelokkan jalur dengan cara deviasi yaitu teknik membelokkan jalur dengan menggunakan webbing yang disimpul pita dan diberikan carabiner non screw.

Pada Gua Wardi dan Gua Jamio jalur lintasan dibuat dengan anchor yang dililitkan pada pohon yang terletak di mulut Gua. Deviasi dibuat untuk membelokkan jalur agar tidak friksi dan jalur free sehingga dapat dilalui oleh tim.

Dalam Gua Wardi dan Gua Jamio, dari keduanya kami menggunakan teknik intermedian dalam setiap pitch yang kami lewati.

Namun pada Gua wardi tim Orlan Caving Amed 41 membuat Y anchor melihat kondisi gua yang memungkinkan untuk membuat Y anchor yaitu membagi beban ke dua posisi anchor yang berbeda, tidak berdekatan, berseberangan dan tidak satu bidang.

Melakukan penelusuran gua vertikal tentu akan melintasi jalur yang memungkinkan untuk friksi. Pemilihan anchor dalam setiap pembuatan jalur ataupun intermediate perlu dipertimbangkan dalam membuat rigging dengan memilih anchor atau tambatan yang tepat, sehingga jalur dapat dilalui oleh seluruh tim.

Selain itu, penting untuk selalu membawa padding untuk menghindari tali friksi di titik tertentu.

Dua hari berlalu tim bergelut dengan simpul dan tali, menyisihkan rasa capek dan lelah memanfaatkan kegiatan untuk belajar dan memahami materi caving. Rasa kebersamaan dan persaudaraan terpahat di jiwa kami.

Mentari mulai terbenam, hanya gelap malam dan hingar bingar lalu lintas sepanjang jalan Tulungagung yang menemani perjalanan pulang menuju basecamp IMPALA UB.

“Kesunyian ini terasa semakin mengerikan saja. Sendirian pada kedalaman  sekitar 36 meter di bawah permukaan tanah ditemani suara tetes air yang jatuh dari atas dan kelelawar berseliweran dengan kepak sayap yang memperpekat sunyi adalah sebuah pengalaman yang baru dan menegangkan.” (Catatan AMED 41 IMPALA UB, Gua Jamio, Tulungagung)

Kontributor || Iska Anggraini (Anggota Muda IMPALA UB)

Editor || Nindya Seva

Dokumentasi || IMPALA UB

Foto Tim Divisi Caving IMPALA UB di mulut Gua Jamio, Tulungagung.

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan