Merawat Ciliwung: Mengolah Sisa Kayu, Mengurung Sampah Plastik

Caption foto: Salah satu relawan dari Komunitas Cliliwung Depok lakukan pengurungan sampah plastik ke dalam botol. (WARTAPALA INDONESIA/ Andri Wahyudi)

Wartapalaindonesia.com, DEPOK – Sebagai salah satu sungai paling penting bagi masyarakat Jabodetabek, keadaan Sungai Ciliwung selalu memprihatinkan. Padahal di zaman dulu, sungai penuh sejarah tersebut dikenal memiliki kandungan air yang bersih sampai bisa diminum, serta membentang luas sehingga menjadi jalur transportasi perdagangan.

Di masa sekarang, Sungai Ciliwung justru tenar gara-gara air kotor dan penuh sampah, dengan wilayah sempadan banyak berdiri permukiman kumuh, serta selalu dikaitkan sebagai salah satu penyebab banjir yang kerap menerjang ibu kota.

Beragam cara telah dilakukan pelbagai pihak untuk membebaskan citra Ciliwung sebagai sumber masalah. Para relawan yang tergabung dalam Komunitas Ciliwung Depok misalnya, yang berupaya mengurangi sampah terapung di Sungai Ciliwung. Bentuk upaya itu meliputi giat membersihkan Ciliwung di setiap akhir pekan, hingga memanfaatkan sampah plastik dan sisa kayu yang terangkut dari sungai menjadi barang bernilai guna tinggi.

Sampah-sampah kayu atau bambu, diolah menjadi barang kerajinan kayu yang bisa dimanfaatkan sehari-hari. Sementara sampah plastik, dikurung ke dalam botol palstik bekas air mineral. Sampah plastik tersebut terkurung dengan teknik ecobrick.

Ecobrick adalah metode mengolah sampah plastik dengan memasukkannya ke dalam botol plastik sampai penuh tanpa ruang. Botol plastik yang dipenuhi sampah plastik itu lantas menjadi benda padat dan bisa dimanfaatkan sebagai material bangunan, hingga bisa pula dipadukan bersama sampah-sampah kayu untuk pembuatan kursi.

Pencetus ide ini adalah pasangan suami istri, pria asal kanada Russell Maier, dan perempuan Indonesia, Ani Himawati. Mereka mengatakan, “ecobrick secara bahasa, brick adalah batu bata, ecobrick merupakan batu bata yang dibuat ramah lingkungan. Dalam hal ini sampah plastik karena menanggulangi sampah plastik memang perlu kepedulian tinggi.”

Dalam praktiknya, para relawan Komunitas Ciliwung Depok tak hanya membuat ecobrick, melainkan juga mengajarkan cara pembuataan ecobrick kepada siapa pun yang ingin belajar. Mayoritas adalah pelajar sekolah dalam program wisata edukasi di Sungai Ciliwung yang salah satu rangkaian kegiatannya yaitu belajar cara membuat ecobrick.

Komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui perkembangan Sungai Ciliwung serta yang ingin belajar dan mempraktikkan ecobrick. Bisa dengan datang langsung ke pangkalan Komunitas Ciliwung Depok, di bawah jembatan Grand Depok City, Kota Depok.

Pemanfaatan sampah kayu jadi kerajinan dan pengurungan sampah plastik Ciliwung dalam ecobrick hanya sebagian upaya. Upaya utama penanggulangan sampah plastik tetaplah dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Selalu berhati-hati membuang sampah dan bila perlu kurangi penggunaan plastik.

Kontributor || Andri Wahyudi, WI 200215

Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: