WARTAPALA INDONESIA

Michael Antony Ugiono, Pelopor Survival Skills Indonesia

Wartapalaindonesia.com,  SOSOK – Perubahan kultur tentang kesadaran akan pentingnya ilmu dan melatih skill survival di kalangan pegiat alam bebas Indonesia, tak lepas dari peran bapak yang sering disapa Om Maic ini, siapakah dia? Bersama Wartapala Indonesia mari kita kenal lebih dekat sosoknya.

Pemilik nama lengkap Michael Antony Ugiono, darah asli kelahiran Yogyakarta, 28 Februari 1975 ini memulai karir di dunia petualangan sejak berusia 12 tahun.

“Saat itu tahun 1987 saya bergabung sebagai pendaki gunung dengan mengikuti club Pencinta Alam umum yang dikenal dengan Himpunan Pencinta Alam Indonesia Panorama (HPAI),” beber Om Maic.

Tak cukup berhenti sampai di situ, Michael muda terus mengembangkan karirnya hingga dunia bawah laut atau lebih dikenal dengan aktivitas menyelam.

Maka tak heran, Pria yang bertempat tinggal di jalan Godean Yogyakarta ini memiliki sertifikasi Basic Safety Training (BST) untuk keselamatan pelaut, dan juga tercatat sebagai Rescue Diver PADI, dengan nomor AK. 0911AO8898.

Lalu bagaimana awalnya bisa terjun mempelopori hadirnya komunitas survival terbesar di Indonesia?

Ternyata dalam karirnya, pria yang telah mengeyam pendidikan sarjana dan dapat dihubungi di nomor 0818242779 ini sudah mengajar survival selama 20 tahun lebih.

Hal tersebut tak lepas dari karirnya sebagai Medical First Responder (MFR), pencegah dan penanganan kebakaran melalui basic traning for first aid, sea survival and fire fighting and fire prevention (BTFSF), Master timeline traditional terapis dan Master Neuro Linguistic Programing (NLP).

“Saat itu Desember 2012 sampai akhir Februari 2013, saya menyaksikan fenomena animo pemuda naik gunung sangat luar biasa, bisa dikatakan membludak,” tutur Om Michael.

Apa ada hubungan dengan demam film tertentu? Om Micahel tidak tahu.

“Dalam rentang 3 bulan saja, dari Desember 2012 hingga pada Februari tanggal 18 tahun 2013, fenomena jatuh korban dalam pendakian tercatat sebanyak 9 orang, jika dirata-rata maka ada 3 orang pendaki yang menjadi korban pendakian per bulannya.”

“Jumlah itu belum termasuk yang pegiat alam bebas lainnya, seperti pegiat olahraga arus deras (ORAD), sebab saat itu juga di Jawa Barat juga memakan korban pegiat alam bebas lainnya,” jelas Om Maic.

Terusik dengan fenomena kala itu, Om Michael melakukan study kasus atas kejadian-kejadian tersebut, “ternyata korban kebanyakan meninggal akibat hipotermia, tersesat lalu mengalami hipotermia.”

“Satu faktor yang mendasar mereka tersesat dan hipotermia terjadi adalah jika mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadahi dan kompetensi serta skill berkegiatan di alam bebas yang kurang,” jelasnya.

“Padahal di dunia petualangan dan alam bebas, pelaku alam bebas minimal harus memiliki 4 kompetensi dasar, pertama survival, kedua first aids, ketiga navigasi darat dan keempat mountainering, hal tersebut minimal yang harus wajib dimiliki oleh pelaku kegiatan alam bebas,” lanjutnya.

Mengetahui faktor tersebut, pria yang juga sering menjadi partner BASARNAS dalam memberi pelatihan survival tersebut merasa tertantang untuk menularkan ilmu yang dimilikinya.

Hal tersebut beliau ungkapkan ketika ingin membagikan ilmunya namun susah untuk menjangkau seluruh orang di Indonesia, “saat itu saya butuh media, oleh karenanya saya manfaatkan medsos seperti membuat grup facebook tentang survival pada 28 Februari.”

Ternyata tantangan kembali datang, saat itu Om Michael dihadapkan dengan target yang belum tentu mau belajar tentang survival.

“Ilmu sudah ada, teknik mengajar sudah tehitung 20 tahun, tapi targetnya mau gak belajar?” tanyanya serius.

“Tercetuslah cara untuk membuat survival menarik, saya posting artikel survival dengan menggunakan kompetensi dasar dan disertai analisis terhadap kasus-kasus tertentu seperti kecelakaan di alam bebas dan sebagainya. Akhirnya orang banyak yang tertarik dan masuk grup, hingga pada Mei 2013 mencapai 128 orang anggota grup.”

“Nah pada saat itulah terbentuk Survival Skills Indonesia (SSI) chapter Jawa Barat, di sana ghatering pertama SSI digelar, menyusul chapter lainnya seperti SSI chapter Jogja, Jatim dan seterusnya.”

“Sampai tahun 2015 ghatering beberapa kali di daerah dengan materi yang berbeda seperti survival, navigasi, high angel rescue dan lainnya.”

Selanjutnya menurut Om Maic, “ghatering hanyalah sarana introduksi survival kepada member yang sudah lebih dari 3000an, akhir Mei 2015, saya munculkan course pertama setelah jalan 2 tahun.”

“Course SSI pertama diikuti oleh 5 orang, kedua 13 orang dan dari basic course ada 3 orang yang melanjutkan ke advance course, dengan peserta course ke 3 diikuti 6 orang, course ke 4 diikuti 4 orang dan dari sini mulai banyak lagi yang meminta melanjutkan basic course ke advance.”

“Dari sini animo sudah meningkat, akhirnya diperlukan pembelajaran yang lebih serius, yaitu course. Dan saya tidak tau ada hubungan dengan SSI atau tidak, yang jelas jumlah korban dalam kurun waktu 30 bulan tercatat menurun dari Desember 2012 hingga Juli 2015 korban pendakian tercatat 52 orang dan per bulan rata-rata 1,7 orang, sekarang hingga Mei 2016 hanya tercatat 6 orang” terangnya.

Lalu apa fenomena lainnya yang terjadi dan dampak yang ditimbulkan kepada masyarakat setelah berkembangnya Survival Skills Indonesia (SSI) di tanah air? Simak berita selanjutnya dengan judul “Survival Skills Indonesia, Ubah Kultur Pegiat Alam Bebas.”

Sumber : Michael Antony Ugiono (SSI)

Laporan : A. Phinandhita P.

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

1 Comment

  • janiarto , Juni 2, 2019 @ 2:54 pm

    ini ilmu yang penting sekali, tapi memang harus ada gurunya, pengen belajar juga saya, tapi Om Maic nya di seberang lautan…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: