Nestapa Satu Tahun Oil Spill di Pesisir Karawang

Caption Foto: Nelayan yang kesulitan mencari ikan, bekerja membersihkan oil spill di tengah laut. Minggu (12/7). (WARTAPALA INDONESIA/Willy Firdaus)

Wartapalaindonesia.com, Karawang–  “Sampai pencairan kompensasi tahap 2, saya tetap tidak dapat dan tidak terdata sebagai penerima kompensasi” ungkap Imron nelayan Pakis yang sudah menjadi nelayan dari 7 tahun yang lalu. “2 bulan saat terjadi oil spill hasil tangkapan kosong, tangkapan utama saya rajungan dan udang” keluhnya.

Imron adalah satu dari banyak kenestapaan yang dialami masyarakat pesisir Karawang semenjak terjadinya oil spill (tumpahan minyak) dari Rig YYA-1 milik PHE ONWJ (Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java).

Rig YYA-1 milik PHE ONWJ di lepas pantai Karawang yang mengalami kebocoran pada tanggal 12 Juli 2019, telah meninggalkan nestapa pada ribuan masyarakat di Utara Karawang.

 “Nelayan Pakis hanya setengahnya yang terdata sebagai penerima kompensasi oil spill, padahal saya sudah mengikuti prosedur pendataan yang dilaksanakan oleh Dinas Perikanan”. Imron adalah keluarga nelayan dengan perahu sebagai sandaran hidupnya, bahkan rumahnya berada di Muara Pakis – Pakisjaya Karawang.

 “Nelayan Pakis ada sekitar 200 lebih nelayan serta ABK-nya (Anak Buah Kapal), hanya sekitar 20 nelayan yang terdata sebagai penerima kompensasi”. Ketika ditanya apakah sebab banyak tidak terdatanya nelayan karena salah input data oleh nelayan, Imron menjelaskan bahwa ketika ditanya oleh tim pendata sudah sesuai datanya.

Tarman, nelayan berusia 39 tahun dari Muara Sarakan – Tirtajaya Karawang menceritakan hal lain atas kejadian 1 tahun tragedi oil spill di Pesisir Karawang.

“Semenjak oil spill terjadi di Sarakan, menangkap rajungan lebih dari 10 kilogram itu sulit karena harus mencari sampai 25-30 kilometer dari pantai dan ini terjadi sampai sekarang” ungkap Tarman. Dahulu menangkap rajungan lebih dari 10 kilogram cukup dekat dari pantai tidak perlu melaut hingga ketengah, namun semua berubah semenjak terjadi oil spill.

Saat terjadi oil spill di Pesisir Karawang pada tahun lalu, Tarman berkisah bahwa hasil tangkapannya menurun drastis hingga sekali melaut hanya mendapat 1-2 kilogram rajungan saja.

Ketika pendapatan sebagai nelayan menurun drastis, Tarman bersama rekan-rekan nelayan Sarakan lainnya di rekrut oleh pihak PHE ONWJ untuk membersihkan oil spill ditengah lautan. “Kita digaji 100 ribu perhari untuk membersihkan limbah yang mengapung di air, kita setiap hari operasi” kata Tarma

“Ya pekerja, karena direkrut oleh pihak PHE-nya resmi” jelas Tarman ketika disinggung aktifitasnya sebagai pembersih oil spill.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap akan berangkat membersihkan ke tengah laut oleh tenaga medis yang disediakan PHE ONWJ. Sampai APD (Alat Perlindungan Diri) berupa sepatu boots, pakaian khusus, masker dan sarung tangan diberikan oleh pihak PHE ONWJ untuk menunjang tugas para nelayan dalam membersihkan limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) ditengah laut.

“Baunya menyengat, mata perih dan pernafasan agak sesak akibat dari limbah tersebut, kita selalu dikasih arahan sebelum turun serta dihimbau bahwa limbah ini berbahaya”.

Tarman bekerja selama 3 bulan membersihkan oil spill di tengah laut, tidak mendapatkan uang pesangon maupun pemeriksaan kesehatan lanjutan setelah berhenti membersihkan oil spill dan ini terjadi pada ribuan masyarakat Pesisir Karawang lainnya.

Kompensasi dari PHE ONWJ untuk nelayan yang diberikan pada tahap 1 sebesar Rp. 1.800.000, menurut Tarman itu tidak sesuai dengan kerugian yang dialami oleh nelayan.

“Saat oil spill lagi banyak-banyaknya, disini harga rajungan lagi 70-80 ribu sekilo kali aja 10 kilogram selama 3 bulan kan itu jauh banget” jelas Tarman mengungkapkan kecilnya nilai kompensasi tahap 1.

 Menurutnya masih banyak rekan-rekannya sesama nelayan Sarakan yang belum terdata sebagai penerima kompensasi, dan Tarman cukup beruntung karena sudah terdata dan menerima kompensasi tahap 1.

Kisah lain disampaikan oleh Endang pengelola wisata mangrove di Pokdarwis Sukamulya – Cilebar Karawang. “Mangrove yang mati 70 ribuan dan yang terdampak oil spill sekitar 85 ribuan, bahkan yang mati 70 ribuan itu baru usia 7 bulan pada saat terjadi oil spill pada tanggal 25 Juli 2019” ungkap Endang.

Pada tanggal 25 Juli 2019 adalah saat pertama kali oil spill sampai ke Pokdarwis Sukamulya dan berdampak pada mangrove jenis Rizhopora sp. Menurut Endang pihak PHE ONWJ sudah berkomunikasi dengannya dan beritikad baik untuk melakukan pemulihan mangrove namun terkendala persetujuan dari KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Ketika ditanya nominal kerugian Pokdarwis Sukamulya mulai dari dampak langsung maupun tidak langsung, Endang mengatakan kerugiannya mencapai Rp. 4,5 miliar. “Totalnya mulai dari kematian, rusak berat, rusak ringan (mangrove) serta dampak wisata yang ditutup saat pembersihan”.

Pokdarwis Sukamulya Desa Pusaka Jaya Utara – Cilebar Karawang telah berdiri sejak tahun 2017 dan Endang sebagai ketuanya. Perhari Pokdarwis menghasilkan Rp. 500 ribu dari wisatawan pada hari biasa dan Rp. 2 juta saat liburan, saat terjadi oil spill di tutup total karena ada proses pembersihan selama 102 hari.

Pria berusia 36 tahun dengan nama Akbar Endang Maulana ini juga bertutur bahwa dirinya tidak terdata sebagai penerima kompensasi oil spill. “Kita yang rumahnya dipinggir pantai, pengelola dan anggota Pokdarwis tidak terdata sebagai penerima kompensasi”.

Menurutnya di RT 02 Sukamulya sekitar 75 KK (Kepala Keluarga) tidak terdata sebegai penerima kompensasi, padahal rumahnya dipinggir pantai dan bekerja sebegai pengelola wisata. “Sampai sekarang tidak ada yang mendata, padahal pihak PHE menjanjikan ada pendataan lagi” keluhnya.

Kontributor || Willy Firdaus, WI 170016

Editor || Dewi Ayu Ningtyas, WI 190042

 

 

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: