Pameran Kolaborasi, Euphoria Kepedulian

Pameran Kolaborasi, Hyperartctiv di Galeri Prabhangkara UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, 25-30 November 2017. WARTAPALAINDONESIA/ M. Sulthoni

Wartapalaindonesia.com, EVENT – Saya masih mengingat betul betapa sibuknya sebuah panitia dadakan untuk membuat sebuah kegiatan yang dulu sangat hangat di perbincangkan di media massa terutama di Surabaya.

 Waktu itu dua ekor komodo mati, beberapa kijang kelaparan, hewan-hewan lain tidak diperlakukan layak, makanan seadanya, air minumnya langsung diambilkan dari kali jagir tanpa proses penyulingan.

Bulan-bulan yang dipenuhi kekhawatiran akan nasib yang sungguh memprihatinkan yang terjadi di Kebun Binatang Surabaya.

Karena berlandaskan sebuah kepedulian yang kemudian membuat kita mempunyai ide untuk membuka lapak dengan menu-menu yang aneh, sate komodo lah, gule macan, nasi goreng jerapah dan camping di pinggir jalan.

Sebuah aktifitas yang ikhlas kita lakukan meski rasa haus dan lapar menghujam karena kegiatan itu di laksanakan pas berbarengan di bulan puasa.

Rasanya bukan kemarin kegiatan itu berlangsung, rasanya berita itu pun juga sedikit demi sedikit menghilang digilas android dan kids zaman now.

Kembali ke topik, euphoria apa yang seperti apa yang sebenarnya ingin saya ulas dimalam hari yang berbahagia ini?

Surabaya kini hijau dan ayem tentrem, kota-kota se-Gerbang Kertasusila pun juga pastinya demikian.

Lalu apa kaitannya hal tersebut dengan kesenian? sebuah jalan lain yang sedang saya tapaki, jalan yang di dalamnya saya menemui banyak solusi atas kegelisahan-kegelisahan saya terhadap masalah lingkungan di kota Surabaya.

Apakah Surabaya bermasalah lingkungan nya? saya pikir iya.

Dari 7 juta penduduknya seberapa tinggi gunungan sampah yang menupuk di TPS Benowo? Anda bisa bertanya kepada beberapa senior Anda yang kerja disana.

Dari ratusan ribu rumah dan industri yang ada, kemana larinya air limbah itu kalo bukan ke kali surabaya dan sekitarnya.

Dari jutaan kendaraan, dari jutaan ketidak pedulian lalu siapa lagi yang akan memberikan pemahaman bagi mereka jika alam dan lingkungan adalah faktor utama untuk bertahan hidup bagi masarakat awam.

Kepedulian lahir dari sebuah kegelisahan, kegelisahan lahir dari sebuah pengetahuan, pengetahuan lahir dari mereka yang hidup di alam, sebuah efek simbiosis mutualisme yang kadang dilupakan.

Sekali lagi, apa korelasi kesenian dan kepedulian lingkungan? saya pikir ada satu jawaban yang sama, kreativitas.

Apakah saat ini kreativitas anda telah teruji kredibilitasnya selain untuk mencari materi dan pengakuan di dunia maya?

Atau memang drama tiang listrik lebih berharga daripada sebuah relita bahwa rasa kepedulian dan kegelisahan yang anda pupuk tidak lagi bertunas dan kemudian mati layu dan sia-sia.

Salam Rimba, Salam Budaya dan Salam apa ya? Biar mbah gombloh yang menjawabnya.

Unduh pamflet di sini Pameran Kolaborasi, Hyperartctiv

Unduh run down acara di sini Pameran Kolaborasi, Hyperartctiv

Pameran Kolaborasi, Hyperartctiv di Galeri Prabhangkara UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, 25-30 November 2017 (WARTAPALAINDONESIA/ M. Sulthoni)

Pameran Kolaborasi, Hyperartctiv di Galeri Prabhangkara UPT Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, 25-30 November 2017 (WARTAPALAINDONESIA/ M. Sulthoni)

Kontributor : M. Sulthoni

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Positive SSL