Perjalanan MAPENSA Menelisik Kekayaan Hutan Meru Betiri

Peserta DIKJUT melakukan pengamatan burung di hutan Teluk Nanggelan, Resort Wonoasri, Taman Nasional Meru Betiri, Sabtu (14/7/2018). (WARTAPALA INDONESIA/ Febriani Chaniago ( Lampar ) & Sofitania Agusta (Cendani), MAPENSA UNEJ)

Wartapalaindonesia.com, PERS RILIS – Meru Betiri adalah salah satu kawasan konservasi berstatus Taman Nasional yang terletak di ujung timur pulau Jawa.

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dipilih sebagai lokasi pendidikan lanjutan (DIKJUT) angkatan 34 karena vegetasi dan topografi kawasannya cukup representatif digunakan sebagai lokasi pengaplikasian materi-materi pendidikan konservasi.

Anggota MAPENSA wajib mengikuti rangkaian pendidikan yang terdiri atas pendidikan dan latihan dasar (DIKLATSAR), pendidikan lanjutan (DIKJUT) dan penelitian mandiri/program mandiri (PM).

Rangkaian DIKJUT MAPENSA angkatan 34 dimulai sejak hari Jum’at (6 Juli 2018).

Tahap pertama, peserta harus mengikuti pembekalan berupa materi ruang pada tanggal 6-10 Juli 2018 di ruang 14 Fakultas Pertanian Univesitas Jember.

Tahap ini wajib diikuti oleh seluruh peserta, karena materi yang akan diaplikasikan pada tahap kedua sudah harus benar-benar dipahami oleh seluruh peserta.

Tahap kedua, dilaksanakan pada tanggal 14-15 Juli 2018 di Teluk Nanggelan, Resort Wonoasri, Taman Nasional Meru Betiri.

Tahap ini adalah masa yang paling dinanti-nantikan, karena selama 2 hari inilah peserta diberi kesempatan untuk mengaplikasikan dan mendalami materi yang sudah didapatkan di tahap pertama.

7 materi konservasi yang terdiri dari Analisa Vegetasi, Analisa Air, Pengamatan Burung, Navigasi Darat, Sosial Masyarakat, Fotografi dan Jurnalistik secara terstruktur kami aplikasikan dengan pertimbangan lokasi dan keterkaitan materi.

Materi pertama yang kami aplikasikan adalah materi Sosial Masyarakat.

Materi ini dipilih sebagai materi pertama yang diaplikasikan karena sesampainya di sekitar kawasan TNMB, seluruh tim terlebih dahulu bertamu dan bersitalurahmi dirumah salah satu warga yang tinggal di kawasan penyangga (buffer zone).

Ini adalah salah satu kebiasaan baik yang selalu diajarkan kepada seluruh anggota MAPENSA sebelum memasuki kawasan hutan.

Tujuannya adalah untuk lebih mengenal dekat, menyambung silaturahmi dengan warga sekitar kawasan dan tentunya mempelajari kearifan budaya lokal masyarakatnya.

Setelah beberapa waktu melakukan Sosialisasi Masyarakat, kemudian tim berangkat menuju lokasi kedua, yang merupakan kawasan hutan topis. Lokasi di hutan pertama yang menjadi pemberhentian adalah titik “Apollo”.

Apollo adalah titik pertemuan tertinggi pada salah satu punggungan yang ada di sekitar teluk Nanggelan.

Di titik inilah peserta DIKJUT mengaplikasikan materi kedua, yaitu Analisa Vegetasi.

Analisa vegetasi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam upaya pengamatan kawasan. Selain efektif dan akurat untuk mengetahui bagaimana kualitas kawasan dari sisi vegetasinya, analisa vegetasi ini juga dapat diaplikasikan dengan begitu banyak metode.

Mulai dari metode Transek Line, Garis Berpetak, Petak Tunggal, Petak Ganda, Bitterlich, Quadran dan masih banyak lagi. Masing-masing metode menyesuaikan kebutuhan dan aksesibilitas peneliti.

Begitu banyaknya pilihan metode yang biasa diterapkan oleh anggota MAPENSA untuk melakukan penelitian, maka setiap anggota yang akan melaksanakan DIKJUT harus bisa mendesign sendiri kebutuhannya.

Pada tahap inilah, para peserta diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang peneliti yang baik, benar, dan dapat bertanggungjawab atas hasil penelitiannya.

Meski jumlah peserta DIKJUT 34 ini hanya 2 orang, namun semangat belajar dan keingintahuan kami tetaplah begitu besar. Setelah selesai mengambil data untuk Analisa Vegetasi, kemudian kami melanjutkan materi ketiga, yaitu Pengamatan Burung.

Pengamatan Burung hari pertama dilakukan dengan metode Transek Line. Materi pengamatan burung dipilih karena waktu pengamatan yang sesuai, yaitu pada sore hari. Pada sore hari, burung-burung biasa beraktivitas sehingga lebih mudah untuk diamati.

Metode Transek Line dipilih agar peserta dapat sekaligus berjalan menuju camp “Jambuan”.

Sesampainya di camp, semua peserta langsung membongkar carrier untuk mengeluarkan barang, kemudian dilanjutkan dengan ibadah sholat maghrib. Setelah sholat maghrib, tibalah saat yang dinanti-nantikan, yaitu makan malam.

Makan malam sudah disediakan oleh para senior pendamping. Ini adalah bentuk support dan kasih sayang dari kakak kepada adiknya yang sedang belajar.Ditemani oleh gemiricik air sungai dan lembutnya belaian angin, makan malam kami terasa begitu spesial.

Setelah kenyang mengisi perut dan membereskan semuanya, barulah kami memulai rapat evaluasi terhadap aktivitas hari pertama, tentunya pada pengambilan data Analisa Vegetasi dan Pengamatan Burung.

Kami selalu berusaha untuk totalitas dalam pengambilan data penelitian. Meskipun kali ini baru sebatas DIKJUT, namun inilah simulasi penelitian yang sebenarnya.

Setelah evaluasi dan briefing untuk aktivitas esok hari, kami para peserta diwajibkan untuk segera istirahat agar dapat melanjutkan aplikasi materi keesokan harinya.

Minggu, 15 Juli 2018

Keindahan subuh datang menyapa.Inilah waktu yang tepat untuk menjawab sapaan alam dan Tuhan. Cukup dengan membasuh sebagian tubuh melalui air wudhlu dan menunaikan sholat subuh, kami bisa merasakan keajaiban Tuhan melalui kesederhanaan.

Selepas sholat subuh, dilanjutkan dengan melakukan senam pagi. Ini sangat penting dilakukan untuk melemaskan otot-otot yang tegang setelah beristirahat semalam. Selain itu juga berguna untuk mempersiapkan tubuh agar siap melanjutkan aplikasi materi.

Setelah selesai senam pagi, saatnya masing-masing orang melakukan aktivitas pagi sesuai dengan instruksi pada briefing semalam.

Peserta DIKJUT dan pendamping terpilih segera bersiap-siap untuk melanjutkan aplikasi materi. Sedangkan sisanya bertugas untuk masak dan mempersiapkan kebutuhan untuk sarapan.

Tepat pukul 05.50 WIB, peserta DIKJUT dan sebagian pendamping berangkat untuk melanjutkan aplikasi. Pagi ini, materi yang dipilih adalah pengamatan burung. Materi ini sangat cocok diaplikasikan pada pagi hari, karena banyak burung yang juga memulai aktivitasnya.

Kicauan burung dan gemerisik dedaunan yang masih basah oleh embun pagi menciptakan keharmonisan yang seakan mengisi energi positif kepada tubuh.

90 menit tak terasa, waktu sudah habis untuk melakukan pengamatan burung. Kini saatnya kembali ke camp untuk sarapan.

Benar saja, sesampainya di camp kami sudah disambut oleh makanan lezat dan minuman hangat. Sarapan terasa begitu nikmat di tengah kerindangan hutan. Canda tawa tak pernah hilang diantara sela-sela bersantai kami.

Setelah selesai sarapan, maka saatnya peserta bersiap menuju sungai untuk melakukan Analisa Air yang kami lakukan di sekitar camp.

Mengingat saat ini sudah memasuki musim kemarau, maka volume dan debit air sungai yang kami analisis menjadi sangat kecil. Meski begitu, kondisi ini sama sekali tidak menyurutkan semangat kami untuk melakukan Analisa Air.

Sekitar 2 jam beraktivitas di sungai untuk mengambil data-data beserta sample yang dibutuhkan, kini saatnya kami untuk kembali ke camp untuk bersiap-siap dan melanjutkan perjalanan.

Seusai packing, kami semua melanjutkan perjalanan menuju pantai Nanggelan. Tidak lupa, sample dari materi Analisa Air dan materi lainnya kami packing kedalam carrier.

Sesampainya di pantai, kami diberi jatah 2 frame untuk mengaplikasikan materi Fotografi. Semua setting kamera DSLR sudah dibuat manual, sehingga kami harus mengatur camera serta lensa nya sesuai dengan komposisi dan konsep yang dibuat. Dalam 2 frame inilah kemampuan setting camera kami dibuktikan.

Meski cukup menegangkan, namun pembatasan frame ini sangat menantang kami untuk mendapatkan hasil terbaik pada moment yang tepat.

Tak terasa, matahari sudah berada pada puncak tertinggi. Itu artinya, sudah saatnya kami istirahat sejenak sambil menikmati bekal makan siang yang tadi sudah disiapkan. Ketika makan siang sudah habis dan lelah pada tubuh sudah berkurang, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan.

Kami berdua, selaku peserta DIKJUT didampingi oleh 2 orang senior menuju ke Pos Cangakan untuk melanjutkan materi Navigasi Darat. Sedangkan 2 orang senior yang lainnya menuju ke rumah Bapak Bakir, yang merupakan warga di zona penyangga TNMB.

Seakan waktu berjalan begitu cepat, sehingga kami tak memiliki banyak kesempatan untuk mengaplikasikan materi Navigasi Darat. Tidak lebih dari satu jam kami mengaplikasikan materi Navigasi Darat, matahari sudah mulai kembali ke peraduannya.

Itu menandakan bahwa kami juga sudah harus segera kembali ke lokasi terkahir, yaitu rumah Bapak Bakir.

Sesampainya di sana, kami segera menunaikan ibadah sholat maghrib dan bersiap-siap untuk kembali pulang ke sekretariat.

Nah, ini kisah kami menelisik kekayaan hutan Meru Betiri. Cukup melelahkan memang, membawa begitu banyak sample dari hutan untuk dianalisis di laboratorium. Tapi ini perjalanan yang keren dan sangat mengesankan!

Ayo belajar bersama alam, karena alam punya segalanya!

Kontributor || Febriani Chaniago ( Lampar ) & Sofitania Agusta (Cendani), MAPENSA UNEJ

Editor || Nurlela Fatmawati

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

Materi Navigasi Darat

 

 

 

 

Materi Analisa Air

bagikan

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan