Rubama, Peraih Prakarsa Kehati Award 2020: Mahasiswa Pecinta Alam Harus Berada di Garda Terdepan Dalam Pelestarian Lingkungan

Caption foto: Sosok Rubama, peraih prakarsa KEHATI Award 2020. (WARTAPALA INDONESIA/ Andi Tharsia)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Sebagai provinsi ujung barat Indonesia, Aceh sudah lama dikenal banyak melahirkan tokoh dan pahlawan dari kaum perempuan. Sebut saja Cut Nya’ Dhien, Cut Meutia, Laksamana Muda Malahayati adalah beberapa contoh perempuan Aceh yang tangguh dan rela berkorban hingga akhir hayatnya dalam memperjuangkan prinsip hidup dan idealisme yang diyakininya.

Bergeser ke era kekinian, adalah Rubama – biasa dipanggil Ru – satu dari sekian tokoh muda perempuan di Indonesia asal Aceh yang giat memperjuangkan ekosistem lingkungan dan berjuang mempertahankannya agar tidak tergerus oleh keserakahan para oknum penjarah hutan.

Sebelumnya, ia juga berhasil mengembangkan desanya, yaitu desa Nusa, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar menjadi desa ekowisata, berkonsep ramah lingkungan dan banyak dikunjungi wisatawan atau peneliti lingkungan dari dalam dan luar negeri.

Perempuan berusia 35 tahun ini menutup catatan akhir tahun 2020 secara gemilang dengan menjadi peraih KEHATI Award 2020 kategori Prakarsa dari Yayasan KEHATI.

Dilansir dari situs Yayasan KEHATI, merupakan organisasi yang menghimpun dan mengelola sumber daya untuk disalurkan dalam bentuk dana hibah, fasilitasi, konsultasi dan berbagai fasilitas lain guna menunjang berbagai program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya secara adil dan berkelanjutan.(http://www.kehati.or.id/sejarah-kehati/).

Kategori Prakarsa KEHATI diberikan kepada perseorangan maupun kelompok dan atau organisasi dari komunitas masyarakat lokal, seperti masyarakat adat, rukun warga desa, Karang Taruna, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Organisasi Non Pemerintah (Ornop) atau Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM, serta kelompok lain yang berbasis masyarakat lokal(https://www.kehati.or.id/kehatiaward/)

Atas jerih payah yang dilakukannya bersama teman-teman tim Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) lainnya, desa Damaran Baru, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh akhirnya ditetapkan sebagai kampung wisata alam (eco village). Berbasis perlindungan kawasan hutan lindung dengan skema hutan desa ini telah diberi izin Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan nomor SK- 9343/MenLHK/PSKL/PKPS/PSLO/11/2019 seluas 251 hektar.

Kampung wisata alam ini memiliki ranger/penjaga hutan yang berasal dari kelompok ibu-ibu setempat yang dinamai Mpu Uteun. Kelompok ini merupakan kelompok ranger pertama di Aceh yang diisi oleh perempuan (Women’s Ranger), dan kerap berpatroli menjaga hutan dari aktivitas illegal.

Desa Damaran Baru, Kabupaten Meriah merupakan desa di kaki gunung berapi Burni Telong. Gunung berapi Burni Telong merupakan salah satu ikon gunung yang biasa dijadikan objek kegiatan mountaineering bagi pecinta alam di Aceh. Tak hanya itu, gunung ini juga menjadi salah satu unsur lambang daerah Kabupaten Bener Meriah.

Desa Damaran Baru sebelumnya mengalami bencana banjir bandang pada tahun 2015 akibat pembalakan liar dan perambahan yang amat parah. Simak petikan wawancara media wartapalaindonesia.com bersama Rubama, berikut ini :

Bagaimana kesan Anda saat terpilih sebagai nominator peraih KEHATI AWARD?

“Ini adalah bagian dari kerjasama sebenarnya, kerja kita bersama. Ketika masuk dalam nominasi KEHATI Award, ini sebenarnya adalah hasil dari proses bersama. Ini bukan asal jadi, oleh tim juri sendiri melihat bagaimana proses melindungi spesies itu, proteksi spesies dan sebagainya, tidak hanya bicara soal melindungi spesies itu sendiri, tapi bagaimana kita merawat, menjaga rumahnya. Karena, ketika habitat tidak ada, bagaimana kita bisa menyelamatkan spesies itu sendiri?,”  terang Rubama.

“Oleh karena itu, saya sebagai staf Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh(HAkA), kita melakukan penguatan dan sinergisitas di tingkat grassroot/masyarakat kelas bawah. Artinya, ayo, dengan melindungi spesies itu, kita juga melindungi habitat kita sendiri sebenarnya,” ungkap Ru, sapaan akrabnya.

“Contoh, ketika kita menanam pohon dan pohon tegak berdiri, di tengah hutan dan di pinggiran hutan, itu bagian kita sedang menyelamatkan hidup kita. Kenapa? Karena dengan pohon kita sedang menyelamatkan sumber kehidupan. Air akan tersedia, hewan bisa memanfaatkannya, satwa liar lain juga bisa memanfaatkan,” lanjutnya.

“Ini menjadi batu loncatan untuk terus bergerak bahwa menerima award itu bukan berarti kita berhenti. Perjuangan masih panjang. Karena, yang namanya menggerakkan, memperkuat gerakan di tingkat grassroot, menumbuhkan inisiatif dari mereka bukanlah perkara mudah. Tidak langsung jadi, tapi ada proses yang panjang, seperti itu,” jelasnya.

 Apa kriteria penilaian dari Yayasan KEHATI sehingga Anda dipilih sebagai nominator?

“Jujur saya sendiri tidak tahu, itu rahasia mereka. Tetapi mereka sempat ke Aceh dan turun ke lapangan langsung, melihat apa yang sudah kita lakukan,” ucap perempuan kelahiran 35 tahun yang lalu ini.

“Yang diangkat adalah bagaimana gerakan di tingkat grassroot di Kabupaten Bener Meriah, salah satu wilayah kerja Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) yang biasa bekerja di Kawasan Ekosistem Leuser, pastinya dengan semangat bagaimana kawasan 2,6 juta hektar ini tetap berdiri bagus, karena ada banyak sekali spesies kunci, ada banyak sekali spesies yang hari ini semuanya berkontribusi dan melahirkan sustainability ekologi,” jelasnya.

“Oleh karena itu, tim juri turun untuk melihat apa yang kita lakukan sebenarnya di tataran grassroot sehingga ini bisa berkontribusi pada penyelamatan satwa liar, habitat dan spesies dan lainnya,” tambahnya.

“Kita menaikkan marwah perempuan. Ya, mungkin bila kita bicara tentang sumber daya alam, atau satwa liar, ini bukan hanya bisa dilakukan oleh laki-laki, tapi bagaimana kita memperlihatkan pada dunia bahwa sinergisitas laki-laki dan perempuan itu juga menjadi hal penting. Di sana ada satwa liar, ada air, ada pohon, maka kita harus bersama-sama. Jadi tidak mungkin hanya satu jenis kelamin yang bergerak,” ungkapnya.

Apa harapan Anda kepada generasi muda Indonesia lainnya dan untuk mahasiswa pecinta alam khususnya?

“Setiap manusia itu punya potensi berbeda, dan bumi sedang tidak baik-baik saja. Bumi sangat perlu dan membutuhkan anak muda yang kreatif. Di luar sana banyak sekali hal yang bisa dilakukan anak muda, dengan berbeda cara dan pemikiran, mari kita kreatif dengan segala cara untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati,” ucap Rubama.

“Saya teringat kata-kata Bung Karno, berikan aku 10 pemuda, maka akan aku goncangkan dunia,” tirunya.

“Kemudian bagi kita yang pehobi naik gunung, mungkin ada sedikit pergeseran ya. Naik gunung itu ‘kan bukan hanya soal sampai ke puncak terus selesai, tapi bagaimana kemudian, jiwa dan rasa mencintai alam itu tidak hanya pada naik gunung saja. Melainkan ada hal lain, dimana hari ini ada pergeseran misalnya, beberapa kali kami naik ke salah satu gunung yang ada di Aceh, itu sampah luar biasa,” tuturnya.

“Nah, hari ini yang paling banyak naik gunung juga anak-anak muda, artinya yang melakukan (perusakan alam) melalui sampah itu juga dilakukan oleh anak muda. So please, naik gunung itu bukan tempat membuang sampah, dan bukan hanya mengutip (sampah), tapi perlu ada proses edukasi lain di situ,” imbuhnya.

“Mapala juga tidak boleh hanya dikenal soal naik gunung saja, tetapi juga perlu membuktikan bahwa mencintai alam itu dimulai dari diri sendiri dan berperilaku baik dengan alam,” tutupnya.

Kontributor || Andi Tharsia, WI 200141

Editor || Muda Lahir Ria, WI 170013

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

1 Comment

  • Arga , Februari 3, 2021 @ 8:48 pm

    Mantap. Mengispirasi sekali

Tinggalkan Balasan ke Arga Batalkan balasan

%d blogger menyukai ini: