Gerakan Lestari Alam Raya: Aksi Tanam Sejuta Pohon

Caption foto: Ilustrasi menanam pohon (sumber foto: forestdigest.com). (WARTAPALA INDONESIA/ Kukuh Dwi Hariadi)

Wartapalaindonesia.com, BOJONEGORO – Berdasarkan catatan iklim BMKG pada 2019, ternyata suhu udara pada tahun tersebut merupakan yang terpanas kedua setelah 2016 di Indonesia.

Peningkatan panasnya tercatat mencapai 0,84 derajat Celsius. Perubahan iklim ini menjadi cambuk pada konferensi perubahan iklim 2019 di Madrid untuk lebih dapat mengendalikan iklim secara global oleh semua negara.

Emisi dan deforestasi menjadi fokus utama dalam penanganan iklim. Dari tahun 2015 hingga 2019, Greenpeace Internasional mencatat terdapat 3.403.000 Ha lahan terbakar di Indonesia.

Upaya trade carbon yang seharusnya menjadi keuntungan bagi Bojonegoro dimana 40% wilayahnya adalah hutan.  Selain masalah peningkatan suhu di Bojonegoro dan Tuban yang naik rata-rata 1,02 derajat selama sepuluh tahun ini (accuwheater), juga permasalahan kekurangan sumber air yang selalu terjadi di musim kemarau dan banjir di musim hujan.

Pembangunan yang selalu mengorbankan lingkungan tak luput dari masalah utama di negeri ini. Penebangan pohon, penambangan gunung, pembangunan di wilayah konservasi air dilakukan dengan dalih pengembangan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan dan pengembangan industri.

Hal ini tidak sejalan dengan mandat Sustainable Development Goals (SDG’s) tujuan ke-11 membangun kota dan pemukiman inklusif, aman, baik dari bencana maupun hal lain, tahan lama dan berkelanjutan  serta tujuan 13 yaitu penanganan perubahan iklim.

Upaya-upaya mitigasi harus diwujudkan dengan cara menemukan beragam faktor penyebab perubahan iklim dan melakukan upaya untuk menguranginya seperti mengurangi kadar emisi gas buang dari kendaraan bermotor atau reboisasi hutan lindung dan konservasi hutan, sumber mata air dan sungai serta memperbanyak ruang terbuka hijau di kota hingga ke desa.

Mitigasi ini harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Dalam kondisi ini pada akhirnya komunikasi antar pemangku kepentingan menjadi sangat penting, termasuk komitmen kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat. Agenda lokal, regional maupun global akan terwujud manakala semua bergandengan tangan menjaga bumi ini.

Saat ini isu konservasi air, penghijauan dan perluasan ruang terbuka hijau menjadi perhatian utama yang harus dilakukan. Perubahan iklim dipandang sebagai tantangan yang harus segera dihadapi dan diatasi dengan baik. Hal ini tentu saja menuntut kesadaran dan peran serta aktif semua pihak, bukan hanya pemerintah, melainkan seluruh lapisan masyarakat.

Untuk menggalang kesadaran dan peran aktif semua pihak, 43 organisasi pemerhati lingkungan di kabupaten Bojonegoro dan Tuban yang tergabung dalam Gerakan Lestari Alam Raya (Gelar) melakukan aksi “Tanam Sejuta Pohon”. Gerakan ini dilakukan serentak pada hari Menanam Pohon Nasional, 28 November 2020 di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.

Gerakan yang dilakukan di 19 titik penanaman ini merupakan bentuk kampanye sekaligus contoh gerakan serentak oleh masyarakat dan sukarelawan, yang berkontribusi dalam memperbaiki kelestarian lingkungan dan merawat bumi.

Lokasi yang dipilih adalah waduk/embung, tepi sungai dan sumber mata air sebagai fungsi konservasi air. Sedangkan untuk menambah ruang terbuka hijau dan penghijauan gerakan ini memilih fasilitas umum seperti lapangan dan sepanjang jalan raya dengan bekerjasama bersama masyarakat sekitar agar tumbuh rasa memiliki dan turut serta merawat pohon tersebut.

Kontributor || Kukuh Dwi Hariadi, WI 200219

Editor || Dewi Ayuningtyas, WI 190042

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.