Berbicara di Indonesia Mountain Tourism Conference 2024, Djukardi “Kang Bongkeng” Adriana Ajak Semua Pihak Ciptakan Zero Waste Mountain

Caption foto : Pendaki gunung terkenal Djukardi Adriana yang kerap disap kang Bongkeng (berdiri). Tampak peserta Indonesia Mountain Tourism Conference 2024 serius menyimak materi darinya. (WARTAPALA INDONESIA / Ahyar Stone).      

WartapalaIndonesia.com, WONOSOBO – Berbicara di hadapan peserta Indonesia Mountain Tourism Conference 2024 yang memenuhi Ballroom Hotel Dafam Wonosobo, pendaki gunung terkenal Djukardi Adriana membeberkan, keputusan pihaknya yakni EAST (Eiger Adventure Service Team) mengadopsi Gunung Kembang (2.370 mdpl, red) di Wonosobo, via jalur pendakian Blembem, karena melihat Ketua Basecamp Gunung Kembang Iwan Santoso mempunyai niat tulus untuk menjaga keasrian alam Gunung Kembang bebas dari sampah. (21/8/2024).

Kang Bongkeng – demikian Djukardi Adriana kerap disapa – lebih jauh mengungkap, selain punya niat tulus untuk menjaga keasrian alam Gunung Kembang, Iwan Santoso dan kawan-kawannya di Basecamp Gunung Kembang mencoba menerapkan aturan yang berkaitan dengan bagaimana cara wisatawan, atau pendaki gunung mengurangi membawa perbekalan yang mengandung bahan sampah.

“Pengelola Basecamp Gunung Kembang mencoba mengacu pada SNI tentang Pengelolaan Pendakian Gunung,” jelas kang Bongkeng.

Upaya pengelola Basecamp Gunung Kembang tersebut imbuh kang Bongkeng, sejalan dengan upaya EAST

Menciptakan pengelolaan pendakian gunung berwawasan lingkungan bebas dari sampah, atau zero waste mountain, tak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak. Tetapi perlu keterlibatan semua pihak yang saling mendukung dan memiliki komitmen kuat menciptakan zero waste mountain.

Komitmen yang kuat diperlukan, karena jumlah orang yang wisata pendakian gunung angkanya terus naik.

Mendaki gunung mulai terlihat marak sekitar tahun 2005 hingga 2015-an.

Masih kata kang Bongkeng, melihat wisata pendakian gunung yang makin ramai dari tahun ke tahun, sebagai outdoor enthusias atau pendaki gunung, pihaknya kerap prihatin.

Sekarang ini, aktivitas mendaki gunung sudah tak lagi dimonopoli pendaki yang punya keterampilan khusus dan sarat pengalaman. Justru dimonopli oleh para pendaki pemula, orang baru dan belum pengalaman atau newbie.

Newbie ini lahir dari intimidasi dan tayangan film dan media sosial yang tidak edukatif. Mereka berbondong-bodong memadati puncak-puncak gunung yang sudah terpublikasi di dunia maya,” kata kang Bongkeng.

Dampak dari maraknya pariwisata pendakian gunung yang massif lanjut kang Bongkeng, adalah ancaman ekologis, serta terjadinya banyak kecelakaan pendaki dan kotornya lingkungan di gunung-gunung.

Oleh karena itu, kami sebagai pihak pendaki gunung dan masyarakat yang peduli akan lingkungan gunung yang mulai tercemar dengan limbah sampah yang merusak segala keindahan alam, menaruh perhatian pada wisata gunung yang berkelanjutan atau zero waste mountain.

Turut dijelaskan kang Bongkeng, selain telah mengadopsi Gunung Kembang, EAST juga mengadopsi Gunung Talamau di Pasaman Parat, Gunung Dempo di Pagaralam, Sumatera Selatan dan beberapa gunung lain di Indonesia.

Sebagai informasi, Indonesia Mountain Tourism Conference 2024 diselenggarakan Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) c.q. Direktorat Wisata Minat Khusus bekerja sama dengan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).

Konfrensi yang mengangkat tema Green Tourism in Mountain Regions ini diselengarakan selama 2 hari. Rabu-Kamis, 21-22 Agustus 2024. Hari pertama dilangsungkan di Hotel Dafam Wonosobo. Hari kedua di Basecamp Gunung Kembang, Wonosobo.

Hadir pula sebagai narasumber konfrensi adalah Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf, Itok Parikesit. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko. Co-Founder Sejiva & Director Sebumi, Iben Yuzenho. Ketua Dewan Guru Besar dan Peneliti Sustainable Tourism Development UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, MA.

Kemudian Dr. Ruky Umaya dari Taman Nasional Gunung Merapi.  Vita Cecilia dari APGI. Ade Sulaeman dari National Geographic Indonesia. Founder Oya Trail Yogyakarta, Jarody Hestu Nugroho. General Manager Ijen UNESCO Global Geopark, Abdillah Baraas. Ketua Basecamp Gunung Kembang, Iwan Santoso.

Peserta konfrensi berasal dari penggiat kegiatan alam bebas, instansi pemerintah, akademisi, asosiasi pariwisata, kelompok sadar wisata dari berbagai daerah dan pengurus APGI dari Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. (as)

Kontributor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.