Waspada! Ini Penyakit Ketinggian di Gunung

Oleh : Fatih Izzaturobbani

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Di masa sekarang mendaki gunung menjadi trend olahraga yang banyak peminatnya dari kalangan mana pun. Beberapa orang yang bahkan sebelumnya tidak tertarik untuk mendaki, menjadi tertarik untuk mencobanya.

Sebetulnya banyak tujuan dari mendaki gunung antara lain; ada yang memanfaatkan untuk melatih fisik, liburan atau mencari ketenangan. Bahkan ada juga yang mendaki gunung untuk kegiatan spiritual dan tujuan tujuan lainnya. 

Mendaki gunung termasuk kegiatan yang tergolong cukup ekstrem, karena itu sebelum melakukan pendakian harus memiliki persiapan yang matang. Dari segi fisik maupun alat, karena banyak rintangan yang akan dihadapi dalam pendakian. Salah satu rintangan yang sering dirasakan beberapa pendaki ialah altitude sickness atau penyakit ketinggian.

Altitude sickness atau penyakit ketinggian, adalah kondisi medis yang terjadi ketika seseorang berada pada ketinggian yang lebih tinggi dari biasanya, di mana oksigen di udara lebih rendah. Ini sering terjadi saat seseorang naik ke ketinggian di atas 2.500 meter (8.200 kaki) dari permukaan laut. Meskipun gejala bisa muncul pada ketinggian yang lebih rendah tergantung pada kecepatan kenaikan dan sensitivitas individu.

Untuk mengetahui terkena penyakit ketinggian atau tidak, ada beberapa gejala yang perlu diperhatikan. Pertama, ada gejala ringan. Contohnya pusing, mual, susah tidur.

Adapun gejala sedang hingga berat contohnya: Edema paru (High Altitude Pulmonary Edema / HAPE) : sesak napas, batuk dengan sputum berbusa atau berdarah, kelelahan ekstrem.

Edema otak (High Altitude Cerebral Edema / HACE) : bingung, kehilangan koordinasi, kesulitan berjalan, perilaku tidak wajar, kehilangan kesadaran.

Penyebab terkena altitude sickness ada dua. Pertama : kadar oksigen yang menurun, pada ketinggian tinggi, tekanan atmosfer menurun. Sehingga kadar oksigen yang tersedia di udara juga menurun. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan perubahan ini.

Kedua, kecepatan kenaikan naik ke ketinggian dengan cepat tanpa memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi, dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ketinggian.

Apabila seseorang atau diri sendiri terkena penyakit ketinggian, harus segera ditangani dan dicegah agar tidak makin memburuk keadaan.

Ada beberapa cara mencegah dan menanganinya. Pertama, memberi tubuh penyesuaian ketinggian dengan cara berjalan dengan santai sesuai tempo bernafas, dan menghindari kenaikan terlalu cepat.

Kedua, memastikan kadar oksiden didalam tubuh tercukupi agar tidak terkena penyakit dehidrasi / kekurangan mineral.

Ketiga, membawa obat obatan yang membantu penyesuaian ketinggian. Adapun obat acetazolamide (Diamox), dapat membantu mencegah atau mengurangi gejala penyakit ketinggian.

Keempat, jika gejala ketinggian menyerang tubuh, bisa turun ke ketinggian yang lebih rendah untuk mendapatkan kadar oksigen yang tinggi dan mengurangi tekanan atmosfir.

Jika seseorang mengalami gejala yang parah dan tidak membaik, baiknya segera dibawa turun dan dilarikan ke layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan bantuan medis segera.

Pencegahan dan penanganan yang tepat, dapat mengurangi resiko terkena penyakit ketinggian. Maka dari itu jika ingin melakukan kegiatan pendakian, diharuskan memiliki ilmu medis karena akan berguna buat dirinya dan pendaki lain. (*)

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.