Oleh : Atsil T Ismaningdyah
Mapagama
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Terima kasih Tuhan, Gie, dan senior-senior tangguh di bawah titel ‘mahasiswa aktif’ tahun 1970-an yang telah memulai kepencintaalaman sebagai sebuah organisasi dengan paradigmanya sendiri.
Terima kasih Tuhan karena telah menjadikan bumi sebagai planet yang dipijaki manusia. Setelah proses miliaran tahun yang tanpa henti, ia mekar sebagai sesuatu yang kita sebut alam. Alam yang indah, alam yang luas, alam yang perkasa — apapun diksi yang selalu kita gunakan.
Bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan dan alam di sekitar kita membentuk cara pandang dan hidup sebagai manusia. Alam dan manusia sendiri memiliki relasi erat dan dapat dilihat dari berbagai disiplin ilmu. Nyatanya, pada tahun 1978, Paul Bell melahirkan istilah “psikologi lingkungan”, yaitu ilmu yang berfokus pada hubungan kesalingan antar tingkah laku manusia dengan lingkungan mereka (Sari 2020).
Setelah Januari 1974, tentu banyak hal tak lagi sama. Lima puluh satu tahun tentu cukup untuk mengubah manusia, negara, bahkan alam itu sendiri. Kita semua tahu bagaimana kejadian demi kejadian di dunia ini cukup berdampak terhadap cara hidup dan paradigma manusia generasi berikutnya. Perang, reformasi, hingga pandemi; semuanya datang silih berganti. Lantas, apakah pencinta alam perlu turut berubah? Jika demikian, apakah kita masih relevan?
Mari mundur sedikit ke era 2019, di mana Covid-19 sudah lahir. Sebagai masa alih dekade, era 2019─2020 sungguh merupakan pukulan hebat bagi kita semua. Turut berduka cita bagi mereka yang berpulang, karena orang-orang tersayang yang ditinggalkan harus menanggung duka sekaligus tetap berusaha untuk hidup. Bagi kita yang masih ada, era pandemi menjadi pembatas untuk apa pun. Jangankan untuk menikmati alam, kita diharuskan mengarantina diri di rumah dan membatasi kontak fisik dengan siapa pun.
Kondisi mencekam itu bukanlah atmosfer yang dapat mendukung berkegiatan, sehingga perlahan, organisasi-organisasi pencinta alam juga menyesuaikan diri. Semakin banyak organisasi pencinta alam (OPA) mengadakan webinar untuk berbagi ilmu dan materi, hingga berusaha untuk tetap mengadakan regenerasi melalui pendidikan dasar secara daring. Meskipun kepayahan, kita patut mengapresiasi mereka yang terus berusaha bertahan di tengah gempuran perubahan dunia. Setelah masa transisi, kita bisa kembali berkegiatan luring seperti sediakala.
Pada akhirnya, kita memang tetap bertahan. Beberapa di antara kita mungkin tidak sanggup, bahkan hingga mati suri karena tak kunjung regenerasi. Lantas, bagaimana kondisi kita yang bertahan ini? Apakah kualitas maupun kuantitas ─ Yin dan Yang bagi organisasi kepencinta alaman ─ dari kita tetap sama, atau adakah yang terasa berbeda?
Demi Tuhan, kita menjadi berbeda. Namun, entah menuju ke arah mana.
Mapala yang sempat mengadakan diksar pada tahun 2019 sebenarnya cukup beruntung, karena memiliki generasi termudanya untuk menjadi estafet tonggak organisasi. Meskipun pada tahun 2020 proses pendidikan angkatan piyik ini harus terhenti, setidaknya mereka pernah merasakan bagaimana atmosfer sebuah organisasi pencinta alam di bawah institusi, yang batasannya terpaut pada rektorat dan birokrasi, bukannya virus dan isolasi mandiri.
Sementara itu, 2020 menjadi tahun yang berat: sebagian di antara kita masih sanggup mengadakan regenerasi (terlepas dari legalitasnya), sebagian lagi tertatih-tatih dengan ‘diksar daring’, yang lain memutuskan untuk menunda, dan beberapa di antaranya mulai mengarah ke mati suri. Adjustment sana-sini, demi eksistensi organisasi. Apa pun kecuali mati. Penyesuaian tersebut silih berganti dilakukan hingga saat ini. Tentu saja kita telah memiliki formula masing- masing untuk setiap kegiatan pendidikan internal, berbekal evaluasi menahun. Namun, satu hal yang perlu disadari: manusia generasi berikutnya juga turut berubah.
Perubahan manusia yang beranjak dewasa dengan menghabiskan tahap akhir sekolahnya secara daring ini dampaknya tidak kecil. Generasi Z yang tumbuh besar dengan reformasi digital memang tidak kesulitan secara kapabilitas teknis untuk menghadapi hari-hari dengan Zoom, Google Meet, dan segala bentuk komunikasi daring.
Namun, ada pergeseran yang perlahan kentara ketika melihat mereka yang tamat sekolah wajib dengan ‘normal’ dan mereka yang menamatkannya dengan ‘new normal’. Semakin ke sini, maka semakin kentara pergeseran karakteristik tersebut; mulai dari persepsi yang semakin pragmatis, fear of missing out, hingga ketidakinginan untuk menghargai proses karena terbiasa dengan hal instan.
Tak hanya perubahan karakteristik manusianya, kita juga dihadapkan pada perubahan sistem pendidikan secara keseluruhan. Entah apa yang negara ini inginkan, namun semakin hari, memiliki titel ‘mahasiswa aktif’ rasanya semakin berat.
Kebijakan baru bernama Kampus Merdeka diluncurkan pada awal tahun 2020. Sepintas, kebijakan ini terlihat menarik: kampus diberi kemudahan untuk membuka program studi baru, aturan akreditasi lebih fleksibel, proses perubahan status perguruan tinggi menjadi badan hukum dipercepat, serta mahasiswa diberikan kesempatan magang selama tiga semester.
Namun, keempat kebijakan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa masalah utama perguruan tinggi adalah rendahnya tingkat penerimaan lulusan oleh dunia industri. Hal ini secara otomatis membuat institusi perguruan tinggi dikecilkan menjadi pusat pelatihan buruh (Koran Tempo 2020).
Kebijakan tersebut juga secara langsung membuat perguruan tinggi beramai-ramai mencari cara untuk mendapatkan pemasukan sebanyak-banyaknya, mulai dari komersialisasi di lingkungan kampus hingga menaikkan nominal maupun merombak sistem uang kuliah. Fenomena mahasiswa kesulitan untuk melanjutka kuliahnya sendiri semakin merebak. Beberapa di antaranya berpegang pada pekerjaan paruh waktu (Gabriela 2024), sebagian lainnya membanting setir menjadi pedagang, bahkan bergantung pada hutang dan pinjaman online (Anggraeni 2024).
Padahal, kampus idealnya menjadi jalur mobilitas vertikal bagi siswa-siswa cerdas dari keluarga kurang mampu, yang tidak memiliki peluang untuk meningkatkan status sosial mereka dengan cara lain. Namun, dengan semakin komersialnya pendidikan tinggi saat ini, hanya mereka yang memiliki uang yang dapat menyelesaikan pendidikan sarjana (Koran Tempo 2020).
Kondisi carut-marut pendidikan tinggi ini tentu berkontribusi terhadap menurunnya minat mahasiswa atas kehidupan berorganisasi, karena mereka sudah tergencet oleh kebutuhan industri. Siapa yang tetap ingin semalaman suntuk memikirkan regenerasi organisasi jika ia saja terus-menerus khawatir akan hari esoknya sendiri?
Lima puluh tahun lamanya, kita selalu menyatakan bahwa kita: (1) mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya, (3) mengabdi kepada bangsa dan tanah air, (4) menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan martabatnya, (5) berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan asas pecinta alam, dan (6) berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, bangsa dan tanah air.
Berangkat dari pernyataan dalam kode etik tersebut, kita menjalankan organisasi pencinta alam dengan gameplay dan SOP masing-masing. Namun, setelah 50 tahun, kita perlu turut mengubah cara pandang terhadap alam dan bahkan terhadap organisasi kita sendiri. Situasi menghimpit yang semakin mencekik dirasakan para anggota aktif, yaitu teman-teman dan adik-adik kita. Relevansi organisasi pencinta alam dengan kondisi iklim perguruan tinggi saat ini perlu hadir dalam benak kita semua, agar ‘Mapala’ betul- betul ‘mencintai alam sekitarnya’ dengan kritis; tak hanya sekadar jalan-jalan hore, menaiki gunung, menuruni lembah dan gua semata. (Acil)
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Foto : Cikal Bagus Pribadi Syamsi
Referensi
Anggraeni, Mega Dwi. 2024. “Terlilit Utang UKT: Mahasiswa di Bandung Jadi Buruh Pabrik dan Jualan Cuanki di Kampus.” Project Multatuli, 18 Maret 2024. https://projectmultatuli.org/terlilit-utang-ukt-mahasiswa-di-bandung-jadi-buruh-pabrik- dan-jualan-cuanki-di-kampus/.
Gabriela, Michelle. 2024. “Nestapa Keluarga Kelas ‘Pas-pasan’ Mengejar Gelar Sarjana.” Project Multatuli, 21 Mei 2024. https://projectmultatuli.org/nestapa-keluarga-kelas-pas-pasan- mengejar-gelar-sarjana/
Koran Tempo. 2020. “Salah Arah Pendidikan Tinggi,” 28 Januari 2020. https://koran.tempo.co/read/editorial/449636/salah-arah-pendidikan-tinggi.
Sari, Erita Yuliasesti Diah. 2020. Paradigma Baru Psikologi Lingkungan. UAD Press. https://books.google.co.id/books?hl=fr&lr=&id=BI0TEAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=ps ikologi+alam
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)