Siswa Diajak Kenal Bencana Sejak Dini Saat MPLS, SD Muhammadiyah Pakem Gandeng PSBA UGM

Wartapalaindonesia.com, YOGYAKARTA –  Selain dikenal memiliki kota pendidikan, Yogyakatra juga dikenal sebagai salah satu provinsi yang paling aktif dalam mengembangkan pendidikan kebencanaan, terutama melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Keberadaan Gunung Merapi yang merupakan gunung api aktif dan potensi gempa bumi tektonik membuat wilayah ini menjadi laboratorium alami untuk pembelajaran kebencanaan. Salah satu upaya konkret dilakukan oleh Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan memberikan edukasi langsung kepada peserta didik di sekolah-sekolah kawasan rawan.

Kegiatan terbaru dilakukan pada Selasa, 15 Juli 2025 di SD Muhammadiyah Pakem, Sleman. Sekolah ini terletak hanya sekitar 17 kilometer dari puncak Gunung Merapi, menjadikannya wilayah dengan tingkat risiko bencana erupsi yang signifikan.

Acara edukasi ini dikemas dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) khusus untuk siswa kelas 4 dan 5.

Materi dilaksanakan di masjid sekolah dan diikuti antusias oleh para murid serta guru pendamping. Selain itu, hadir pula Bapak Bagas sebagai guru pendamping utama yang turut aktif membantu pelaksanaan kegiatan.

Dalam kegiatan ini, para siswa tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung tentang bagaimana menghadapi situasi darurat bencana. Tujuannya adalah membentuk pemahaman dasar sekaligus respons cepat saat terjadi bencana gempa bumi maupun letusan gunung berapi.

Narasumber dalam kegiatan ini adalah Muhamad Irfan Nurdiansyah, atau yang akrab disapa Cak Irfan, seorang peneliti dari PSBA UGM yang telah berpengalaman dalam edukasi kebencanaan berbasis komunitas dan sekolah.

Ia menyampaikan bahwa edukasi kebencanaan yang dimulai sejak dini memiliki dampak jangka panjang terhadap ketangguhan individu dan komunitas.

“Kegiatan pengenalan bencana yang dilakukan saat MPLS seperti ini sangat baik karena anak-anak mulai memiliki kesadaran dari awal masuk sekolah. Apalagi sekolah ini berada di wilayah risiko, penting untuk menanamkan kesiapsiagaan sedini mungkin,” ujar Irfan.

Ia menambahkan bahwa Yogyakarta memiliki semangat besar dalam penguatan SPAB, dan kegiatan ini sejalan dengan upaya tersebut.

Dalam sesi edukasi, anak-anak juga diajak menonton film pendek edukatif bertema gempa bumi dan erupsi gunung berapi agar lebih mudah dipahami dan menyenangkan.

Materi yang disampaikan diawali dengan pengenalan dasar mengenai jenis-jenis bencana alam yang umum terjadi di Indonesia.

Anak-anak diajak mengenali faktor penyebab gempa dan letusan gunung api secara sederhana dan interaktif.

Selain itu, dijelaskan pula peran anak-anak dalam upaya pencegahan risiko, mulai dari mengenal jalur evakuasi, memahami tanda-tanda alam, hingga menjaga lingkungan sekolah agar tetap aman.

Salah satu sesi penting dalam kegiatan ini adalah praktik evakuasi mandiri, yang melatih siswa bergerak cepat dan tepat saat terjadi guncangan.

Dengan pendekatan edukatif yang menyenangkan, anak-anak terlihat aktif bertanya dan berani menjawab setiap pertanyaan yang diajukan pemateri.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Pakem, Rr. Afiati Fatimah, M.Pd., menyambut baik kehadiran tim PSBA UGM dan menyampaikan apresiasinya atas kegiatan yang sangat bermanfaat ini.

“Kami sangat senang dan antusias, karena sekolah kami berada cukup dekat dari Merapi, sehingga edukasi kebencanaan menjadi kebutuhan utama. Anak-anak sangat menikmati kegiatan ini dan para guru pun terbuka untuk melanjutkan pelatihan semacam ini secara berkala,” ujar Afiati.

Ia juga menekankan bahwa sekolah memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan SPAB agar seluruh komunitas sekolah lebih siap menghadapi potensi bencana. Ke depan, pihak sekolah berharap dapat menjalin kolaborasi lebih lanjut dengan PSBA UGM dan BPBD setempat.

Melalui kegiatan ini, PSBA UGM kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat literasi kebencanaan di lingkungan pendidikan dasar.

Strategi pengurangan risiko bencana harus dimulai dari hal sederhana seperti edukasi langsung dan simulasi yang mudah dipahami anak-anak. Apalagi, bencana tidak mengenal usia, dan kesiapsiagaan anak-anak bisa menjadi penyelamat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

“Yang terpenting adalah membentuk budaya sadar bencana, dan ini bisa kita mulai dari sekolah-sekolah seperti di Pakem ini,” tegas Irfan. Dengan kegiatan ini, harapannya anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh menghadapi risiko bencana.

Kegiatan ini menjadi contoh inspiratif bagaimana sinergi antara lembaga pendidikan dan perguruan tinggi dapat memperkuat ketangguhan masyarakat sejak usia dini.

Edukasi kebencanaan yang dilakukan bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga membangun refleksi dan empati terhadap sesama saat menghadapi situasi krisis.

Anak-anak yang dilatih secara berkala akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh, siap, dan mampu mengambil keputusan cepat dalam kondisi darurat.

Upaya ini juga memperkuat prinsip bahwa keselamatan adalah hak setiap anak, dan sekolah harus menjadi ruang aman dalam kondisi apapun.

PSBA UGM mengajak sekolah-sekolah lain di wilayah rawan bencana untuk memulai langkah serupa dalam membangun budaya kesiapsiagaan.

Dengan metode yang adaptif dan menyenangkan, edukasi bencana menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh para siswa.

Antusiasme terlihat dari wajah para peserta saat menonton film, bertanya jawab, hingga mengikuti simulasi evakuasi.

Bahkan beberapa guru menyatakan ketertarikan untuk mengintegrasikan muatan kebencanaan ke dalam pembelajaran tematik harian.

Hal ini menjadi sinyal positif bahwa pendidikan bencana tidak harus dilakukan dengan cara yang menakutkan, tetapi bisa dikemas secara edukatif dan ramah anak.

PSBA UGM berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, mendampingi sekolah-sekolah dalam membangun ketangguhan dari ruang kelas. (sev/dan)

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 1600009
Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.