Pendaki Pertama Atap Dunia Asal Indonesia, Ajak Sadar Lingkungan

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Siapa yang tak kenal Serka Asmujiono, pendaki Everest pertama asal Indonesia. Anggota TNI “baret merah” Kopassus yang berhasil menggapai puncak tertinggi Gunung Everest pada April 1997 yang kini telah menjadi salah satu legenda pendakian di Indonesia.

Di tengah euforia dunia pendakian yang melekatkan nama bapak kelahiran Malang 1 September 1971 ini sebagai pengibar sang Saka Merah Putih di puncak gunung Everest pertama asal di Indonesia, pendaki puncak everest muslim pertama di dunia dan pendaki asal militer ketiga setelah Nepal dan India yang mencapai puncak everest.

Siapa sangka bahwa beliau adalah orang yang sangat peduli terhadap lingkungan. Untuk mengenal beliau lebih dekat siapa dan bagaimana karya dari bapak yang kini tinggal di Kebon sari Tumpang jalan Melati Kabupaten Malang.

Mari kita simak wawancara eksklusif Wartapala Indonesia bersama beliau saat memberi materi pada acara Wanita dan Gunung (WG) di bumper Coban Rondo, Malang, Minggu (27 Maret 2016).

Sejak kapan bapak terjun di dunia pendakian?

Sebenarnya sejak kecil saat masih menjadi orang sipil, kita sudah mendaki, di mana dulu sering naik ke lereng bromo untuk mencari ternak, jadi memang sejak kecil saya dididik oleh alam.

Apa yang paling membanggakan dalam hidup bapak?

Sebenarnya saya tak pernah menyangka akan mendapat banyak kenikmatan seperti ini, melihat ke belakang di mana saya tidak tau di mana orang tua saya dan bagaimana saya kelak akan menjadi. Tapi takdir mempunyai jawaban sendiri dengan saya menjadi anggota TNI terlebih sebagai prajurit Kopassus dan alhamdullilah ilmu dari TNI dapat membantu saya untuk diijinkan mengibarkan sang panji di puncak Everest.

Siapa inspirasi bapak, apa seorang Ibu?

Kalo ibu itu pasti, hanya saja sejak SD berusia 9 tahun saya seorang yatim piatu. Jadi inspirasi saya adalah pemimpin-peminpin saya, terus terang saya dibawah bimbingan Pak Prabowo, langsung dititipkan Pangdam Patimura pak Doni. Beliaulah yang membimbing dan memperkenalkan saya kedunia tentara, dibimbing dikenalkan yang saat itu saya sempat ditolak untuk masuk Kopassus. Namun berkat setelah pak Prabowo melihat semangat dan kegigihan saya untuk masuk Kopassus, akhirnya beliau memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti pendidikan menjadi prajurit Kopassus dan alhamdullilah saya yang pertamanya diragukan untuk masuk Kopassus, menjadi lulusan terbaik pendidikan Kopassus tahun 1994.

Apa moto hidup bapak?

Sejak masuk sebagai anggota Kopassus moto yang saya pegang adalah “lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan tugas” itulah yang melekat sebagai semangat dan pantang menyerah untuk saya kala melakukan apapun.

Motivasi bapak sendiri untuk mencapai puncak everest?

Saya ingat pesan Pak Prabowo, bahwa jangan sapai kita kalah dengan Malaysia. Jadi dalam keadaaan sesulit dan segenting apapun, kita harus kuat. Bayangkan jika dalam dunia kepencinta alaman saja kita didahului oleh Malaysia, terbukti sekarang dampaknya sangat luas, di mana banyak hal dari kita yang diklaim oleh negara tetangga.

Selain aktif sebagai pendaki, dan anggota Kopassus, apa selanjutnya karya yang bapak berikan?

Setelah saya selesei bertugas sebagai anggota Kopassus, saya mulai terlibat dalam kegiatan penghijauan secara nasional dengan Mayjend Doni Munardo, bahkan sampai sekarang penghijauan dibeberapa bandara-bandara internasional dan daerah-daerah penjaga air masih kami lakukan, jadi sudah tak terhitung berapa ribu pohon yang sudah tertanam.

Apakah bapak melakukan sendiri atau bersama komunitas?

Dalam kegiatan penghijauan secara nasional, saya bersama komunitas yang saya bentuk yaitu G-rider adventure trail di Malang. Meski sebagian masyarakat mengenal komunitas trail dengan gaya ugal-ugalannya, tapi di komunitas G-rider saya menekankan pada disiplin tinggi dan sosial di mana komunitas ini secara swadaya melakukan kegiatan penghijauan dan sosial seperti baksos seperti membangun tempat ibadah, jempatan, ke panti asuhan bahkan sering kami melakukan bedah rumah pada warga yang kurang beruntung.

Apa yang sudah bapak lakukan di lingkungan sendiri?

Banyak sekali, yang paling dekat adalah di rumah kita sendiri, di rumah saya ada hidroponik sejak dulu untuk oksigen. Lakukan kegiatan-kegiatan penanaman, begitu juga pendidikan wawasan lingkungan untuk anak cucu dan saudara sekitar kita sendiri.

Apakah pesan bapak untuk insan pencinta alam dan pegiat alam di Indonesia?

Saya berharap pada semua pencinta alam dan pegiat alam di tanah air, bahwasanya satu yang terpenting adalah tetap menjaga lingkungan. Sebab mengabdi kepada bangsa dan negara itu tidak hanya melalui tentara, pegawai atau apasaja.

Sebab mengabdi pada bangsa dan negara bagi pemuda-pemudi terutama untuk saat sekarang ini (Saat ditanya seperti ini, bapak Asmujiono mengaku merinding) dengan menanam pohon di depan rumah atau membuang sampah di tempatnya itu merupakan hal yang besar yang kelihatannya sepele. Sebab bayangkan saja jika tidak ada yang menanam pohon, dari mana sumber mata air dan oksigennya, itu buat anak cucu kita juga.

Apakah bapak setuju jika pencinta alam itu bukan hanya bergkegiatan outdoor saja, namun juga harus peduli secara nyata di lingkungan?

Harus, naik kegiatan outdoor seperti naik gunung itu suatu kebanggan tersendiri, tapi harus peduli pada lingkungan. Apalagi seorang pencinta alam, kalo mereka tidak peduli lingkungan, maka siapa lagi? Maka dari itu mari kita jaga lingkungan, hindari vandalisme, buang sampah pada tempatnya, jangan kotori alam kita sendiri. Di Nepal saja kita membuang sampah di gunung didenda tiga ribu dolar, makanya kita harus disiplin dimulai dari diri sendiri untuk sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan alam.

Begitulah sosok rendah hati dari Serka Asmujiono yang kini profilnya diabadikan dalam patung lilin di museum taman mini. Sekarang beliau terus berkarya di dunia lingkungan dan menjadi salah satu panutan dan siap berbagi pada siapa saja yang ingin berbagi ilmu tentang dunia kepencinta alaman dan lingkungan. Untuk terhubungan dengan beliau bisa kontak di 081310335597.

Laporan : Al Hidayat

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.