Masih Cerita Tentang Pulau Santen Banyuwangi

Wartapalaindonesia.com, EKSPLORE – Pulau Santen. Nama ini sekarang telah populer menggantikan nama lama pulau ini, yaitu “Pakem”, atau lengkapnya “Tanjung Pakem”.  Pantai Tanjung Pakem dulu memainkan peranan sangat penting sebagai pelabuhan alternatif yang digunakan para prajurit Bali dan Bugis untuk masuk ke Blambangan.

Pasca perang Puputan Bayu, ibukota pemerintahan Bambangan dipindahkan dari Ulupampang (Muncar) ke lokasi Banyuwangi kota pada tahun 1774. Kemudian  VOC/Belanda membangun sebuah benteng di Tanjung Pakem. Tujuan pembangunan benteng ini adalah untuk mengawasi pergerakan kapal-kapal di Selat Bali.

Pembangunan benteng ini dilakukan pada bulan Agustus 1774, di bawah pengawasan Baas d’Exter, seorang tukang kayu dari Surabaya. Dua ratus orang tenaga dipekerjakan untuk membangun benteng tersebut menggunakan kayu jati.

Satu rangkaian dengan benteng Tanjung Pakem adalah Pelabuhan Boom. Di sinilah aktifitas pusat perdagangan dilakukan, yang mulanya aktifitas perdagangan ini berada di pelabuhan Ulupampang. Pengiriman beras, hasil-hasil perkebunan, dan kayu, dikirim lewat pelabuhan ini. Bahkan aktifitas penyeberangan ke Pulau Bali semula juga dilakukan di pelabuhan ini.

Namun pada awal abad 20, aktivitas di pelabuhan ini mulai ditinggalkan karena terjadinya sedimentasi/pendangkalan sehingga kapal-kapal besar sulit masuk. Fungsi penyeberangan akhirnya dipindahkan ke Pelabuhan Ketapang, sementara fungsi perdagangan dipindahkan ke Pelabuhan Tanjung Wangi.

POHON SANTEN

Pulau Santen kini dihuni oleh masyarakat nelayan, yang mulanya berasal dari Madura. Jauh sebelum kemerdekaan masyarakat Madura telah tinggal dan menetap di pulau ini. Sekitar setelah tahun 65-an masyarakat mulai menanam pohon santen (Kibatalia arborea) di pulau ini.

Pohon Santen kini menjadi tanaman keras yang dominan tumbuh di area Pulau Santen. Masyarakat memanfaatkan daun-daun pohon santen sebagai pakan ternak kambing, sementara getah pohon santen digunakan sebagai obat mata. Bila mata merah (biasanya terjadi karena terlalu lama terkena air laut, atau kelelahan), getah kayu santen diteteskan ke mata, dan tak lama kemudian mata akan kembali putih jernih dan segar.

Sejak tahun 2000-an, akhirnya orang Banyuwangi mengenal pulau yang kini dihuni oleh warga sejumlah 83 KK ini dengan sebutan Pulau Santen, atau pulau yang banyak ditumbuhi pohon santen. Pohon santen bisa kita temui di pantai, di area rumah-rumah warga, sampai di area savana.

MANGROVE PULAU SANTEN

Sebagai pulau yang terletak di muara sungai besar yang tenang, dulunya banyak tumbuh tanaman-tanaman mangrove di area muara sungai. Saat ini masih tersisa sebagian tumbuhan mangrove di delta-delta sungai, walaupun dalam jumlah yang kurang begitu banyak.

Susutnya jumlah tumbuhan mangrove di muara sungai ini dulunya lebih banyak disebabkan dipotong oleh warga Pulau Santen maupun warga sekitar Pulau Santen, dimanfaatkan sebagai kayu bakar ataupun bahan untuk bangunan.Selain itu tanaman mangrove banyak berkurang akibat pembukaan lahan-lahan untuk tambak masyarakat, dan pembangunan pemukiman, khususnya di daratan seberang Pulau Santen.

Berkurangnya tanaman mangrove ini berdampak pada banyak hal, terutama dalam hal susutnya habitat bagi ikan, udang, dan kepiting, karena mangrove adalah tempat favorit bagi hewan-hewan laut untuk berkembang biak, kawin, bertelur, dan tempat membesarkan anak.

Lambat laun, kini keberadaan ikan di sekitar Pulau Santen tak lagi seperti dulu, yang dengan mudah bisa ditangkap di sekitar pulau. Sekarang tak jarang nelayan harus jauh berlayar ke tengah lautan untuk bisa mendapatkan tangkapan ikan yang maksimal.

Upaya penanaman mangrove di sekitar Pulau Santen telah dilakukan secara sporadis oleh berbagai komunitas pencinta lingkungan hidup, sebagian warga pun juga telah terlibat aktif dalam penanaman mangrove, namun masih perlu dilakukan aktifitas-aktifitas konservasi mangrove yang lebih terprogram dan melibatkan banyak pihak.

TERUMBU KARANG PULAU SANTEN

Menurut warga, di sepanjang area perairan laut Pulau Santen sebelah timur, dulu banyak terdapat terumbu karang, yang juga menjadi habitat bagi ikan-ikan dan berbagai biota laut lainnya. Namun kini terumbu karang tersebut tinggal kenangan.

Terumbu karang di sekitar Pulau Santen kini sebagian besar telah mengalami kerusakan parah. Dulu masyarakat setempat, maupun nelayan dari daerah lain banyak melakukan perburuan ikan-ikan hias dengan bom ikan.

Sebagian terumbu karang hidup yang tersisa masih bisa dijumpai di area pantai sekitar savana Pulau Santen, itupun juga dalam kondisi yang rusak. Penanaman kembali terumbu karang perlu menjadi sebuah program yang dilakukan di Pulau Santen, agar ekosistem pesisir Pulau Santen bisa kembali lestari.

SAVANA PULAU SANTEN

Pulau Santen terbagi dalam tiga wilayah. Wilayah paling utara adalah kawasan milik Pelindo, wilayah tengah adalah kawasan milik TNI AD, dan wilayah paling selatan adalah kawasan milik Pemkab Banyuwangi. Masyarakat tinggal di wilayah Pulau Santen bagian tengah, di tanah milik TNI AD.

Di Pulau Santen wilayah selatan terdapat padang savana seluas hampir 7 hektar. Savana padang rumput ini sangat cantik dan unik. Banyak orang menganggap savana ini tak kalah indah dengan savana yang ada di Taman Nasional Baluran.

Pantai yang berada di sepanjang pesisir selatan Pulau Santen ini juga indah dan menarik, lengkap dengan rerimbunan pohon-pohon santen dan tanaman akar wangi di sepanjang pantai. Tentu saja pohon-pohon santen ini ditanam oleh masyarakat setempat sejak tahun 65-an.

Di savana Pulau Santen ini bila pada musim ikan, banyak aktifitas masyarakat menjemur ikan-ikan teri ataupun ikan-ikan yang akan dijadikan ikan asin di rerumputan savana. Selain itu, dalam kesehariannya, kambing-kambing peliharaan warga juga mencari makan merumput di padang savana yang berhadapan langsung dengan Pulau Bali ini.

Pantai di wilayah savana Pulau Santen ini juga menyimpan kekayaan luar biasa, yaitu menjadi tempat pendaratan bagi PENYU untuk bertelur. Karena wilayah pesisir pantai di area savana ini tidak berpenghuni, maka pantai ini menjadi tempat yang sangat ideal bagi pendaratan PENYU.

Perlu kita pahami, bahwa salah satu syarat mutlak tempat yang ideal bagi PENYU untuk mendarat ke pantai untuk bertelur adalah bahwa di pantai tersebut harus tidak ada cahaya sama sekali. Bahkan hanya dengan cahaya sekecil api rokok saja, PENYU betina tidak akan naik ke darat untuk bertelur.

Pantai di padang savana Pulau Santen menjadi salah satu tempat ideal bagi pendaratan PENYU karena selain tidak dihuni penduduk, di pantai ini juga tidak terdapat predator yang memburu telur PENYU untuk dimakan. Tidak seperti di pantai-pantai lain yang berdekatan dengan hutan, yang biasanya terdapat predator yaitu babi hutan, yang suka sekali memakan telur PENYU.

Satu-satunya ancaman bagi telur PENYU di Pulau Santen adalah perburuan telur PENYU oleh manusia. Di Banyuwangi masih cukup banyak orang yang berprofesi mencari telur PENYU untuk dijual ke pasar, dengan harga Rp 3.000,- sampai Rp 5.000,- per butir telur.

Di Pulau Santen pendaratan PENYU dulu cukup rutin dicatat oleh warga yang tergabung dalam Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas). Jumlah PENYU yang mendarat, kapan pendaratan waktu PENYU, berapa butir telur yang dihasilkan. Dulu warga sempat menetaskan telur PENYU di penetasan semi alami, setelah menetas baru kemudian anak-anak PENYU dilepasliarkan kembali ke laut.

Namun sayangnya pencatatan dan aktifitas konservasi PENYU yang dilakukan oleh warga ini belakangan agak kurang instensif dilakukan, karena prioritas warga lebih pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

PERHATIAN KEPADA PULAU SANTEN

Pulau Santen mungkin termasuk kawasan yang sangat kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah. Banyak permasalahan lingkungan hidup dan permasalahan sosial yang terjadi di pulau yang dihuni oleh kurang dari 300 warga ini jarang sekali mendapat sentuhan perhatian.

Menurut warga, sejak jaman dahulu, Pulau Santen ibarat anak tiri. Cukup ironis. Pulau ini hanya berjarak sekitar 2 km dari pusat kota Banyuwangi, namun jarang sekali dilakukan program-program yang dibuat untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada di pulau ini.

Pulau ini sempat mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah hanya pada masa era Bupati Ir. H. Samsul Hadi. Pada masa awal jabatan Ir. H. Samsul Hadi dibangunlah jembatan permanen yang menghubungkan Pulau Santen dengan daratan desa Karangrejo.

Dulunya masyarakat untuk menuju ke daratan harus menggunakan perahu. Sehingga sebelum ada jembatan, dulu penduduk Pulau Santen jarang mengenyam pendidikan sampai tingkat yang tinggi, rata-rata hanya bersekolah sampai lulus SD.

Di era bupati Samsul Hadi yang menjabat pada tahun 2000-2005 ini juga dilakukan program pengadaan air bersih (air tawar), dengan pemasangan pipa-pipa air yang ditempatkan di bawah konstruksi jembatan. Di Pulau Santen pipa-pipa air ini ditanam di bawah jalan paving. Air bersih ini kemudian ditampung dalam tandon air untuk kemudian bisa dimanfaatkan oleh warga.

Pengadaan air (tawar) bersih ini menjadi solusi cukup penting bagi kebutuhan dasar warga Pulau Santen. Walaupun debit airnya tidak terlalu besar, namun hal ini sudah sangat membantu, karena dulunya warga mendapatkan air harus dengan cara mengambil air ke daratan seberang, dengan tong atau jirigen, dan memikulnya, kemudian dinaikkan ke perahu. Untuk warga yang mempunyai istri dan anak, biasanya dalam sehari bisa dua kali mengambil air.

Sepanjang era beberapa bupati menjabat di Banyuwangi, bagi masyarakat Pulau Santen program pembangunan jembatan dan pengadaan air bersih menjadi satu-satunya perhatian pemerintah yang langsung bisa dirasakan manfaat kongkritnya bagi warga.

SAMPAH KIRIMAN

Salah satu masalah terbesar di Pulau Santen saat ini adalah problem sampah. Pulau yang sebenarnya memiliki pemandangan alam yang sangat eksotis ini “ternodai” oleh keberadaan sampah di mana-mana. Di sungai, di pantai, dan juga di daratan.

Sebagai perkampungan yang terletak di muara sungai, dan di tepi laut, memang sampah berdatangan dengan sendirinya ke pulau ini. Baik sampah yang terbawa aliran air sungai, sampah yang dibawa ombak, dan juga sampah yang dihasilkan oleh masyarakat sendiri.

Walaupun Pulau Santen berada di Kelurahan Karangrejo, yang masih masuk dalam wilayah kecamatan Banyuwangi kota, namun petugas kebersihan belum masuk ke pulau ini. Belum ada program penanganan sampah dari pemerintah daerah. Saat ini sampah yang ada di pulau Santen belum bisa “dikeluarkan” dari pulau. Rata-rata warga mengubur sampahnya atau membakarnya.

Saat ini ada beberapa komunitas yang peduli terhadap lingkungan hidup sesekali melakukan program edukasi tentang sampah, pemanfaatan sampah untuk kerajinan, pembuatan ecobrick (pemanfaatan sampah plastik dan sampah botol plastik), dll. Namun kesemuanya hanyalah inisiatif-inisiatif dari komunitas-komunitas tersebut, belum ada sentuhan maupun sinergi dari pemerintah daerah.

EKSOTISME PULAU SANTEN

Walaupun Pulau Santen memiliki cukup banyak persoalan lingkungan hidup, namun tetap harus diakui bahwa pulau ini memiliki kekayaan yang luar biasa. Dengan mengesampingkan masalah sampah, sebetulnya pemandangan di Pulau Santen sangat indah. Pohon-pohon santen di pantai dengan bentuknya yang unik, ekosistem mangrove yang cantik, padang savana yang mempesona, itu semua adalah potensi yang sangat kaya dan mengagumkan.

Belum lagi aktifitas yang khas dari masyarakat nelayan Pulau Santen. Seperti kegiatan jaring tarik, yaitu cara tradisional menangkap ikan dengan berkelompok, yaitu dengan memasang jaring panjang dari pantai ke laut menggunakan perahu, kemudian jaring ditarik secara bersama-sama oleh beberapa orang dari bibir pantai.

Ada lagi aktifitas masyarakat mencari kerang remis di pantai, kegiatan mencari kerang kijing di muara sungai, sampai pada pengolahan ikan ataupun kerang, menjadi aneka kuliner laut yang lezat. Ini adalah kekayaan aktifitas kehidupan keseharian masyarakat pesisir Pulau Santen yang sangat menarik.

Kekayaan Pulau Santen yang alami dan aktifitas kehidupan yang natural dilakukan sehari-hari oleh masyarakat Pulau Santen ini sebenarnya adalah potensi yang sangat eksotis. Itulah kesejatian alam Pulau Santen dan kehidupan masyarakat nelayan yang tinggal di dalamnya.

PENGEMBANGAN WISATA OLEH PEMKAB

Beberapa waktu terakhir ini Pulau Santen cukup ramai diberitakan di berbagai media massa, setelah adanya kunjungan oleh Bupati Banyuwangi ke pulau ini. Dalam kunjungannya bersama beberapa pejabat Banyuwangi ini, bupati mengumumkan pada media bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berencana melakukan pengembangan destinasi wisata di Pulai Santen.

Bupati juga telah mengumumkan perencanaan pengembangan wisata Pulau Santen dalam aktifitas launching Banyuwangi Festival 2017 pada hari Jumat, 3 Februari 2017 yang lalu. Dalam kegiatan launching 72 event Banyuwangi Festival 2017 ini bupati menjelaskan tentang rencana konsep wisata khusus perempuan yang akan dikembangkan di wilayah pantai yang berada di area savana Pulau Santen.

Dalam penjelasan Bupati Banyuwangi ke berbagai media, dipaparkan bahwa di pantai area savana Pulau Santen ini nantiny akan dibangun “club beach for woman”, yang akan dilengkapi kolam renang, bahkan resort perustirahatan. Bupati juga akan menggandeng investor untuk pengembangan wisata ini.

Selain itu, direncanakan akan dibangun jembatan yang akan langsung menembus ke Pulau Santen di wilayah bagian selatan pulau ini. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah akses bagi wisatawan untuk bisa menuju Pulau Santen.

SUDAHKAH WISATA PULAU SANTEN DIKAJI?

Warga Pulau Santen rata-rata baru mengetahui rencana Pemkab Banyuwangi untuk mengembangkan wisata Pulau Santen dari media massa. Demikian pula ketua RW maupun ketua RT Pulau Santen, sampai saat ini mereka juga belum mengetahui secara persis tentang bagaimana rencana pengembangan wisata ini.  Dan hal ini sekarang menjadi tema pembicaraan yang cukup santer di antara warga.

Yang jelas, selama ini belum pernah ada dialog ataupun sosialisasi dari Pemkab Banyuwangi kepada warga tentang rencana pengembangan wisata Pulau Santen ini. Warga belum mengetahui apa, dan bagaimana rencana wisata yang akan dikembangkan pemerintah, dan mereka juga mempertanyakan sejauh mana keterlibatan warga dalam wisata tersebut, dan sejauh mana wisata ini nanti akan  mempengaruhi kehidupan warga.

Dalam kehidupan keseharian, banyak aktifitas warga yang memanfaatkan wilayah savana, sehingga warga khawatir akses ke wilayah savana akan ditutup atau dibatasi, terkait bahwa kabarnya wisata yang akan dikembangkan di sana adalah wisata khusus perempuan. Padahal savana adalah tempat bagi warga untuk menjemur ikan dan tempat bagi ternak kambing mencari makan.

Belum lagi, sudahkah terpikirkan saat ini bahwa banyak masalah riil di masyarakat Pulau Santen yang seharusnya perlu mendapatkan perhatian prioritas. Seperti permasalahan sampah, air bersih yang masih minim, ketersediaan ikan yang tidak lagi sebanyak dulu.

Jangan-jangan dengan dikembangkannya wisata “club beach for woman”, justru nantinya akan terjadi kesenjangan sosial yang timpang? Bagaimanakah pelibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata ini? Apakah nantinya masyarakat hanya akan menjadi penonton?

Apakah perencanaan pembangunan “club beach for woman” di pantai area savana Pulau Santen ini sudah dikaji secara benar dalam keilmuan lingkungan hidup? Bila pantai savana dibangun menjadi tempat wisata yang nantinya dalam kegiatan pembangunannya maupun dalam operasionalnya akan beraktifitas sampai malam hari, tentunya pasti akan menyebabkan kita bakal kehilangan kekayaan potensi alami yang tidak bisa diukur dengan uang, yaitu PENYU.

Berbagai potret masalah, potensi, dan kondisi yang ada di Pulau Santen tersebut perlu menjadi bahan pertimbangan penting bagi kita semua. Bahwa Pulau Santen bukan sebuah aset yang bisa secara sepihak diputuskan begitu saja untuk dirubah tanpa kajian yang matang. Bahwa ada masyarakat yang tinggal dan berkehidupan di Pulau Santen yang juga berhak untuk menentukan mau diapakan lingkungan tempat tinggal mereka.

Dan perlu kita pertimbangkan secara matang, menyeluruh, dan bijaksana, sudahkah Club Beach For Woman menjadi sesuatu yang prioritas untuk dibangun di pulau santen.

Kontributor : Team Mapala Uniba “divisi Pengabdian Masyarakat” dan Bactiar Pergerakan Hidora.

Editor : Ragil Putri Irmalia

Kirim Pers Release kegiatan / artikel / berita / opini / tulisan bebas beserta foto kegiatan organisasi / komunitas / perkumpulan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081553355330 (Telp/SMS/WA)

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.