Di Jeram Kami Bertahan, Di Arus Kami Belajar

WartapalaIndonesia.com, FEATURE – Di bawah langit Probolinggo, tim SDS (Sungai Danau dan Samudra) Wanala Universitas Airlangga memulai perjalanan yang tak sekadar menaklukkan sungai, tetapi juga menaklukkan diri sendiri. Pada 5 September 2025.

 Bagi Wanala, perjalanan ini adalah awal dari kisah yang menguji nyali, menyatukan tekad, dan menanamkan pelajaran di setiap riak air yang terdengar.

Beranggotakan Salma, Gunawan, dan Farel, serta didukung oleh Fadjri, Naufal, Khamim dan Rizal, tim melaju menuju Songa Adventure. Perjalanan melalui tol hanyalah pembuka dari medan yang jauh lebih menantang.

Sesampai di basecamp Songa, kami berdiskusi dengan manajemen, lalu menuju rumah pak Imam, dia ketua RT setempat untuk beristirahat.

Hari pertama diwarnai dengan pengiriman surat ke berbagai instansi. Gunawan dan Farel menyusuri jalanan desa dengan motor, sementara Salma dan tim lainnya mengunjungi Puskesmas dan Polsek menggunakan mobil.

Malam harinya, kami mencoba jalan tikus untuk kembali ke rumah pak Imam, namun tersesat di gelapnya jalur. Di sinilah keberanian diuji bukan oleh jeram, tapi oleh arah yang hilang.

Akhirnya kami kembali menemukan jalan utama, membawa pelajaran bahwa kadang jalan tercepat bukanlah yang paling tepat.

Hari kedua dimulai pukul lima pagi. Setelah sarapan dan pemanasan, kami kembali menyusuri jalan tikus menuju basecamp. Seorang kakek di depan rumah menjadi penunjuk arah yang tak terduga, membuktikan bahwa bantuan bisa datang dari mana saja.

Di sungai, kami mempraktikkan scouting, flip-flop, dan renang jeram. Jeram God Bless menjadi saksi keberanian, di mana air tak hanya mengguncang perahu, tapi juga menggugah semangat untuk menaklukkannya.

Hari ketiga, dua pengarungan menanti : Songa Atas dan Songa Bawah. Minim dokumentasi tak mengurangi semangat. Kami silih bergantian menjadi skipper, melewati jeram-jeram ekstrem dengan pengawasan guide.

Di tengah pengarungan, kami berhenti di lokasi anak-anak mandi, bermain air, dan menyadari bahwa keberanian juga bisa berarti memberi ruang untuk kebahagiaan.

Hari keempat, kami mencoba teknik z-drag yang gagal di awal, berhasil di akhir. Di rest area, mereka bermain loncat tebing dan berenang, lalu mempraktikkan man-to-man rescue.

Saat seorang anak terpeleset dan nyaris tenggelam, Salma bergerak cepat. Ia bukan hanya menyelamatkan tubuh kecil itu, tapi juga menyelamatkan makna dari seluruh perjalanan bahwa keberanian sejati adalah peduli.

Setelah semua jeram dilewati, semua alat dibersihkan, dan semua evaluasi dilakukan, kami kembali ke rumah pak Imam.

Di sana, mie dan bakso aci menjadi penutup yang hangat dari hari-hari penuh tantangan. Surat terima kasih ke instansi langsung dikirim, peralatan ditaruh, dan makan malam bersama menjadi ritual perpisahan yang syahdu.

Pukul 21.12 kami berangkat. Pukul 00.12 kami sampai di rumah Farel. Tapi sesungguhnya, mereka tiba di titik baru dalam kehidupan titik di mana jeram bukan lagi ancaman, melainkan guru yang menyenangkan. (*).

Kontributor || Humas Wanala
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

 

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.