Ekspedisi Agra Akasa Dwipa: Memanjat Tebing Pegat, Merajut Solidaritas”

Oleh: Jaisyul’usrah
Anggota Wanala Unair

Wartapalaindonesia.com, FEATURE — Tiga hari penuh tantangan dijalani Tim Agra Akasa Dwipa Universitas Airlangga dalam ekspedisi panjat tebing di Tebing Pegat, Tulungagung. Perjalanan ini bukan hanya praktik lapangan, tetapi juga ujian mental, fisik, dan solidaritas tim Divisi Rock Climbing.

Jumat (8/8), tim berangkat dari Surabaya menuju Tulungagung. Meski salah satu anggota tidak bisa bergabung, semangat tetap terjaga. Perjalanan ditempuh beberapa jam dengan jeda salat Jumat. Sesampainya di Tulungagung, rombongan disambut hangat oleh Suratman, warga setempat, dengan suguhan kopi hitam khas pedesaan.

Sore harinya, tim melakukan orientasi medan untuk meninjau lokasi pemanjatan, menjemput salah satu anggota di terminal bus, lalu menutup hari dengan briefing dan evaluasi.

Sabtu pagi (9/8), kegiatan inti dimulai. Pukul 07.00, seluruh anggota menyiapkan peralatan di area tebing. Jalur pertama yang dicoba adalah Watu Cetek (grade 5.10a), jalur free climbing dengan kontur bebatuan karst. Meski harus berhadapan dengan teriknya matahari, tim berhasil menaklukkan pitch pertama menggunakan anchor, sisip, dan piton.

Setelah istirahat, pendakian dilanjutkan dengan artificial climbing menuju pitch kedua. Tantangan lebih berat hadir, memaksa tim bergantung pada piton, sisip, dan celah tebing.

Namun, tekad yang kuat mengantarkan mereka ke puncak. Di titik ini, tim juga mempraktikkan MRMC (Management Rope Management Cleaning) dengan satu hanger—pengalaman teknis yang menegangkan sekaligus memperkaya pengetahuan.

Minggu (10/8), giliran praktik vertical rescue. Seorang anggota berperan sebagai korban, sementara rescuer melakukan evakuasi di jalur Stone Sow (grade 5.10b). Meski hanya simulasi, latihan berlangsung intens, terutama ketika “korban” sempat diganggu semut merah dari pepohonan sekitar tebing. Situasi itu membuat simulasi terasa nyata, seolah benar-benar berada dalam kondisi darurat.

Menjelang sore, ekspedisi ditutup dengan foto bersama keluarga Suratman yang sejak awal mendukung penuh kegiatan ini. Dengan tubuh lelah namun hati penuh kebanggaan, tim kembali ke Surabaya membawa pengalaman yang tak sekadar menaklukkan tebing, melainkan juga mempererat solidaritas.

Foto || Jaisyul’usrah
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.