WartapalaIndonesia.com, PROBOLINGGO – Jalur pendakian Gunung Argopuro via Bremi resmi dibuka kembali setelah beberapa bulan ditutup. Sejak hari pertama pembukaan, ratusan pendaki langsung memadati pos registrasi, dengan tujuan utama menikmati kembali keindahan Danau Taman Hidup, ikon alam yang menjadi daya tarik utama gunung ini.
Sebelumnya, jalur Bremi sempat ditutup sejak Mei 2025. Penutupan dilakukan menyusul kebakaran hutan di kawasan Argopuro yang diduga dipicu aktivitas manusia. Kebakaran tersebut mengganggu kestabilan ekosistem dan membuat jalur pendakian tidak aman dilalui.
Selain itu, konflik kepentingan antar instansi terkait pengelolaan jalur turut memperpanjang masa penutupan. Setelah dilakukan koordinasi lintas instansi, akhirnya disepakati pola pengelolaan bersama sehingga jalur Bremi bisa kembali dibuka.
Pendaki yang ingin masuk melalui jalur Bremi wajib mengurus Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) di pos registrasi. Biaya Simaksi ditetapkan Rp 25.000 pada hari kerja dan Rp 37.500 saat akhir pekan atau libur nasional. Pendaki juga wajib membawa surat keterangan sehat, perlengkapan standar, dan melakukan wajib lapor saat naik maupun turun.
Menurut keterangan petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Jawa Timur, keputusan pembukaan kembali jalur Bremi diambil setelah jalur dinyatakan aman dan ekosistem hutan dinilai stabil.
“Kami sudah melakukan pengecekan jalur dan memastikan pendaki bisa melewati dengan aman. Namun, pendaki tetap wajib mematuhi aturan konservasi,” ujar Fikri, Petugas Pos Perizinan BBKSDA. (11/8/2025).
Sejak jalur dibuka, antusiasme pendaki sangat tinggi. Dalam pekan pertama saja, berdasarkan keterangan petugas pos BBKSDA, tercatat sebanyak 390 orang mendaki melalui Bremi, hal ini menandakan besarnya minat pendaki untuk kembali menikmati jalur ini.
Perjalanan dari Pos 1 ke Taman Hidup rata-rata 5–6 jam, dengan jalur awal menanjak sekitar 30 meter, lalu relatif landai hingga Pos 3. Dari Pos 3 menuju Danau Taman Hidup, jalur kembali menanjak dengan kontur hutan rapat dan menuntut stamina lebih sebelum akhirnya sampai di Taman Hidup.
Fikri menambahkan “Banyak yang turun sekarang, tapi yang naik juga tidak kalah ramai. Ada yang lintas, ada juga yang lewat Bremi saja,”
Kehadiran pendaki juga membawa dampak besar bagi warga sekitar, terutama para tukang ojek yang menjadi tumpuan transportasi dari desa menuju pos awal pendakian. Solihin, seorang tukang ojek gunung yang sudah beroperasi sejak 2014, menceritakan suka dukanya.
“Kalau jalur ditutup ya mau gimana lagi, kami mengeluh, soalnya penghasilan hilang. Kadang harus cari pekerjaan lain dulu supaya tetap bisa makan. Begitu dibuka lagi ya langsung kembali ngojek,” ungkap Solihin.
Jalur via Bremi Lebih Dipilih Dibanding Baderan
Saat jalur ditutup, banyak warga beralih ke pekerjaan lain sementara. Namun kini, ojek kembali ramai. Menurut Solihin, tarif ojek di jalur Bremi dipatok sekitar Rp50.000 per pos, tergantung jarak dan kesepakatan dengan penumpang.
Dalam kondisi ramai, seorang tukang ojek bisa mengantar hingga 10 kali seminggu, meski jumlah ini sangat bergantung dari ramainya pendaki.
Selain tukang ojek, pelaku usaha lokal juga ikut merasakan dampak penutupan jalur Bremi. Salah satunya Fatimah, warga Desa Bremi yang mengelola warung sekaligus homestay sederhana. Ia mengaku, saat jalur ditutup, pendapatannya turun drastis.
“Kalau jalur ditutup, warung jadi sepi sekali. Begitu juga homestay, biasanya ada pendaki dari luar kota yang menginap semalam sebelum naik. Tapi waktu jalur ditutup, tamu sama sekali tidak ada, penghasilan jelas berkurang,” ungkap Fatimah.
Selain mengelola warung dan homestay, warga Desa Bremi juga memanfaatkan ramainya pendakian dengan berjualan suvenir. Berbagai oleh-oleh khas bisa ditemui di sekitar pos, mulai dari kaos bertema Argopuro, gantungan kunci, badge pendakian, hingga susu segar hasil ternak lokal.
Kehadiran suvenir ini menjadi daya tarik tambahan bagi pendaki yang ingin membawa pulang kenangan dari Argopuro sekaligus membantu perputaran ekonomi masyarakat desa
Mayoritas pendaki menjadikan Danau Taman Hidup sebagai tujuan utama. Dengan suasana hutan rimba yang masih alami, danau ini sering dijadikan lokasi perkemahan. “Taman Hidup itu punya pesona berbeda, suasananya tenang, pemandangannya indah. Begitu Argopuro dibuka, pendaki pasti buru-buru ke sini,” ujar pendaki asal Jember, Kohe.
Jalur via Bremi sering dipilih dibanding Baderan karena aksesnya lebih dekat, meskipun jalur lintas Argopuro – Baderan memang menawarkan tantangan lebih panjang dengan durasi 4 hari 3 malam.
Dengan ramainya kembali jalur Bremi, warga berharap roda ekonomi semakin berputar. Warung makan di sekitar pos kembali buka, jasa ojek ramai, dan homestay sederhana di desa mulai terisi.
Meski begitu, petugas tetap mengingatkan agar pendaki tidak hanya menikmati keindahan, tetapi juga menjaga kelestarian.
“Keindahan Taman Hidup bisa bertahan kalau kita semua menjaga. Tolong pendaki jangan tinggalkan sampah, bawa turun kembali, dan patuhi aturan,” tegas salah seorang petugas BBKSDA di Pos Bremi.
Pembukaan jalur Bremi ini bukan hanya kabar baik bagi pendaki, tetapi juga harapan baru bagi warga desa. Gunung Argopuro kembali hidup, dengan Taman Hidup sebagai saksi bisu kembalinya aktivitas manusia dan denyut ekonomi masyarakat lokal. (*)
Kontributor || Ahmat Nasihin, Danar Bramantyo Hardo, Via Ananda Tia
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)