Menjaga Lingkungan Kondusif Untuk Pergaulan Sehat di Pecinta Alam

Oleh : Tari Handrianingsih, S.P., M.M
Pecinta alam. Tinggal di Yogyakarta

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Dari latar belakang pengalaman saya sebagai orang yang pernah berkecimpung di organisasi kepecintaalaman tingkat fakultas salah satu kampus negeri di Jawa Tengah, maka untuk sekedar memberi kritik membangun yang bermanfaat bagi aktivis organisasi di bidang yang sama, yaitu dunia alam dan lingkungan, saya mencoba menuangkan pemikiran saya.

Memang di usia saya yang masuk dalam kategori generasi X, dunia organisasi pecinta alam yang saya temui saat masih berusia 20 an tahun, bisa jadi sangat berbeda dengan sekarang. Dimulai dari kultur atau budaya organisasi, dan faktor pemicu atau lebih simpel dikatakan motivasi seseorang ikut berkecimpung dalam suatu organisasi pecinta alam, sudah sangat jauh berbeda.

Perbedaan itu tentu tidak mengherankan, dengan adanya arus digitalisasi yang semakin masif, kebiasaan-kebiasaan yang terbangun juga semakin kontras dibandingkan dengan era 90 an.

Yang akan saya ulas di sini adalah faktor pergaulan secara umum, namun khususnya di antara person di dalam organisasi pecinta alam. Di era sekarang, interaksi satu anggota dengan anggota lain tidak menampakkan kepedulian. Padahal mereka satu organisasi. Masing-masing seperti seperlunya saja berurusan dengan temannya. Sebatas kepentingan yang terkait dengan dirinya. Selebihnya merasa tidak perlu tahu dan ogah melibatkan diri.

Di sisi lain, hubungan antar pribadi yang di luar organisasi justru sangat ditonjolkan. Contohnya, hubungan asmara antara anggota organisasi. Di mana itu terkadang — atau malah sering — mengakibatkan kurang profesional dalam menangani urusan organisasi.

Di era 90 an, jika terjadi hubungan pribadi antar anggota, mereka masih saling menahan dan menekan urusan tersebut. Agar jangan sampai mempengaruhi kinerja dalam organisasi.

Jadi, dalam organisasi pecinta alam, sebaiknya kedekatan antar anggota didasarkan pada semangat persaudaraan antar anggota, dan sedapat mungkin tidak melibatkan urusan pribadi ke dalam organisasi.

Dengan demikian, untuk menghindari semakin berkembangnya urusan tersebut dalam berkegiatan, ada sekat pemisahan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Menjaga kedekatan bukan emosional, agar tidak berkembang menjadi hubungan pribadi. (th)

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.