Oleh: Fadlik Al Iman
Wartapalaindonesia.com, FEATURE — Bukan di kota atau pusat keramaian, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) justru memilih berada di tengah bentang alam gunung berapi aktif di Jawa Tengah. Pada 14–16 September 2025 lalu, mereka menapaki jalur pendakian Gunung Sindoro, yang berdiri megah di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo.
Ekspedisi ini bukan sekadar pendakian biasa. Bagi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Stacia UMJ, perjalanan tersebut adalah tryout, ajang pemanasan sebelum mereka menggelar ekspedisi yang lebih besar di kemudian hari.
Selogan dari aktivis mahasiswa dan pecinta alam legendaris, Soe Hok Gie, menjadi pengingat dalam perjalanan: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.”
Bagi Reza, salah satu senior sekaligus mentor kegiatan, kutipan itu sangat relevan. Ia membimbing anggota muda Mapala Stacia: Lesti, Nazwa, Nopi, Habibi, dan Azul, agar belajar bukan hanya mendaki, tetapi juga menguatkan mental menghadapi tantangan.
Gunung Sindoro menjulang setinggi 3.153 meter di atas permukaan laut (mdpl). Letaknya berdampingan dengan Gunung Sumbing, seakan menjadi kembar yang mengapit dataran Wonosobo dan Temanggung. Dari kejauhan, Merapi dan Merbabu juga terlihat menambah panorama.
“Kalau mau ke Sindoro bisa lewat banyak jalur. Dari Temanggung ada Kledung atau Parakan, dari Wonosobo juga bisa,” jelas Reza, yang dikenal pula aktif dalam konservasi tanaman anggur.
Pendakian bagi anggota muda ini tentu penuh dinamika. Tasol, senior lainnya, mengamati karakter tiap anggota. Lesti dikenal pendiam, tetapi justru kuat dan konsisten hingga puncak. Nopi menunjukkan ketangguhan serupa. Nazwa lebih komunikatif, menjadi penghubung suasana. Azul dan Habibi tak henti menghadirkan canda, membuat perjalanan tak terasa terlalu berat.
Kisah lain yang diingat Reza adalah keputusan tim untuk tidak menggunakan ojek dari base camp ke pos 2. “Ini penting untuk adaptasi. Banyak yang naik ojek, tapi malah drop di atas karena aklimatisasinya kurang sempurna,” katanya.
Bagi pecinta alam, mendaki Sindoro bukan hanya perjalanan fisik. Sindoro sering menjadi bagian dari istilah Triple S (Sindoro, Sumbing, Slamet) tiga gunung besar di Jawa Tengah yang menjadi kebanggaan komunitas pendaki.
Pendakian kali ini mungkin hanya sebuah tryout, tetapi bagi anggota muda Mapala Stacia UMJ, ini adalah awal perjalanan panjang. Mereka belajar tentang stamina, keberanian, kebersamaan, sekaligus tentang bagaimana menghadapi zaman dengan mental yang lebih kuat.
“Gunung yang tinggi dan dingin ini mengajarkan banyak hal. Harapan saya, ke depan mereka lebih berani dan tangguh menghadapi tantangan,” tutup Reza.
Foto || Fadlik Al Iman
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)