Mahasiswa KKN Unnes bersama Komunitas Banyu Bening Ajak Warga Curen Kulon Manfaatkan Air Hujan

WartapalaIndonesia.com, KLATEN –  Melalui kegiatan sosialisasi bertema pemanfaatan air hujan sebagai sumber kehidupan, mahasiswa KKN Unnes Giat 13 bersama komunitas Banyu Bening mengajak masyarakat untuk menatap air hujan dengan sudut pandang baru. (7/11/2025).

Hujan yang selama ini hanya dianggap sebagai rutinitas alam kini disadari memiliki potensi besar sebagai sumber air bersih yang dapat dikelola secara mandiri.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu rumah warga RW 09 ini dihadiri sekitar 25 peserta, sebagian besar ibu rumah tangga dan lansia.

Sosialisasi dibuka dengan pengantar dari pendiri Komunitas Sekolah Air Hujan Sri Wahyuningsih Banyu Bening. Ia menjelaskan, air hujan merupakan air paling murni sebelum bersentuhan dengan tanah karena belum tercemar oleh bakteri maupun logam berat.

Melalui penjelasan sederhana, ia mendorong warga agar tidak ragu memanfaatkan air hujan sebagai alternatif air bersih di tengah kondisi air asin yang menjadi persoalan utama di wilayah tersebut.

Sri Wahyuningsih kemudian memperagakan cara menampung air hujan secara manual menggunakan ember bersih yang ditutup kain putih, serta memperkenalkan sistem talang sederhana yang bisa diterapkan di rumah masing-masing. Ia juga mendemonstrasikan proses elektrolisa air untuk memperlihatkan perbandingan kandungan antara air hujan dan air sumur.

Dari hasil percobaan sederhana itu, warga dapat melihat secara langsung bahwa air hujan memiliki tingkat kejernihan dan kemurnian yang lebih tinggi dibanding air tanah di lingkungan mereka. Hal ini menimbulkan rasa kagum sekaligus membuka kesadaran baru di benak peserta.

Suasana semakin hidup ketika warga mulai aktif berdiskusi. Mereka bertanya tentang cara menyimpan air hujan saat musim kemarau, potensi pencemaran udara terhadap kualitas air hujan, hingga kekhawatiran akan isu mikroplastik seperti yang terjadi di kota besar.

Beberapa warga juga berbagi pengalaman mereka yang dahulu biasa menampung air hujan untuk kebutuhan rumah tangga, namun kini beralih ke air kemasan karena minimnya pengetahuan tentang pengelolaan air hujan yang aman.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Curen Kulon belajar bahwa setiap tetes air hujan menyimpan nilai ekologis yang penting. Mereka diajak untuk melihat kembali hubungan manusia dengan alam, bahwa menjaga air berarti menjaga kehidupan. (an).

Kontributor || Ainaya Nurfadila
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.