Sispala Natha Mandala SMKN 1 Bangsri Gelar Diksar ke-6 di Lereng Pegunungan Muria

WartapalaIndonesia.com, JEPARA – Sispala Natha Mandala SMKN 1 Bangsri, Jepara, menggelar Pendidikan Dasar Pencinta Alam (Diksar) ke-6 di kawasan lereng Pegunungan Muria, Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jumat-Minggu (2–4/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti 26 peserta. Sebanyak 24 orang dari mereka berhasil menyelesaikan rangkaian kegiatan hingga pelantikan.

Natha Mandala merupakan organisasi ekstrakurikuler di SMKN 1 Bangsri, Jepara, yang menjadi wadah bagi siswa dan siswi untuk mengembangkan minat dalam kegiatan kepencintaalaman.

Aktivitas di alam bebas menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengembangan keterampilan para anggotanya.

Saat membuka kegiatan, Pembina Natha Mandala, Afwan, menjelaskan bahwa kegiatan kepencintaalaman memiliki tantangan dan risiko karena banyak dilakukan di alam bebas. Peserta perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang cukup sebelum terjun dalam kegiatan tersebut.

Ia menegaskan bahwa Diksar merupakan pendidikan, bukan perpeloncoan, sehingga seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk membentuk kemampuan dan kesiapan peserta dalam berkegiatan di alam bebas.

Diksar ke-6 ini dipandu oleh panitia, dengan Beta sebagai pelatih serta Yakob dan Kesang sebagai instruktur dari Mawapala UIN Walisongo Semarang.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan sejumlah materi kepencintaalaman, di antaranya Manajemen Perjalanan Rimba Gunung (MPRG), navigasi darat, Exploration Search and Rescue (ESAR), Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), survival dan bivak, rappelling, serta teknik packing yang baik.

Hari pertama diawali dengan keberangkatan peserta dari SMKN 1 Bangsri menuju lokasi Diksar di Desa Sumanding.

Setelah pembukaan, peserta langsung melakukan praktik membuat bivak menggunakan jas hujan ponco.

Pada hari kedua, peserta mengikuti evaluasi bivak yang kemudian dilanjutkan dengan materi navigasi, ESAR, dan PPGD.

Materi tersebut tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga dilanjutkan dengan simulasi dan praktik di lapangan.

Sore harinya, panitia dan pelatih melakukan pengecekan perlengkapan peserta.

Memasuki hari terakhir, peserta mendapatkan materi survival dan praktik membuat harness menggunakan webbing. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan praktik rappelling, pembaiatan, hingga pelantikan.

Kondisi lapangan selama kegiatan kurang lebih sama dengan pelaksanaan Diksar sebelumnya. Cuaca yang panas disertai angin yang lebih terasa menjadi tantangan tersendiri bagi peserta.

Beberapa peserta sempat mengalami kebingungan ketika mengikuti materi maupun praktik, namun akhirnya mampu menyelesaikan tahapan dengan arahan dari pelatih dan instruktur.

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan Diksar. Ketika rombongan sudah mendekati lokasi pelantikan, dua peserta perempuan mengalami kondisi yang membutuhkan penanganan. Satu peserta mengalami keseleo kemudian keram sampai sempat kehilangan kesadaran juga, sedangkan peserta lainnya mengalami sesak napas.

Pertolongan pertama dilakukan oleh pelatih, pembina, dan instruktur. Setelah melihat kondisi keduanya, pihak penyelenggara memutuskan untuk melakukan evakuasi meskipun lokasi pelantikan sudah semakin dekat.

Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan keselamatan peserta.

Bagi kegiatan kepencintaalaman, keselamatan menjadi bagian penting yang tidak dapat dikesampingkan. Penyelesaian seluruh rangkaian kegiatan bukan menjadi alasan untuk mengabaikan kondisi peserta. Prinsipnya, peserta harus dapat kembali ke rumah dengan selamat.

Dari 26 peserta yang mengikuti Diksar, terdiri dari 10 laki-laki dan 16 perempuan. Sebanyak 24 peserta berhasil mengikuti rangkaian hingga prosesi pelantikan, sementara dua peserta yang dievakuasi tidak dapat melanjutkan hingga tahap tersebut.

Setelah rangkaian kegiatan selesai, 24 peserta mengikuti prosesi pelantikan dan upacara penutupan. Kegiatan kemudian diakhiri dengan foto bersama.

Salah seorang peserta kelas 10, Anggrelia, mengaku Diksar tersebut menjadi pengalaman yang seru meskipun cukup melelahkan.

Menurutnya, kegiatan yang dijalani selama tiga hari juga memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman baru.

“Diksarnya seru, walaupun capek. Dari kegiatan ini juga bisa menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman,” ujar Anggrelia.(*)

Kontributor || Humas Sispala Natha Mandala
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.