Alam Tak Akan Pernah Marah Meski Sering Jadi Tempat Pelampiasan

Caption foto: Saat berswafoto di alam. (WARTAPALA INDONESIA/ Yenita Puspitasari)

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Manusia yang notabene sibuk dengan rutinitas sehari-hari, sering kali mengalami rasa bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Lingkungan ramai, disertai polusi udara dan kemacetan, semakin menambah kebosanan tersebut.

Bahkan, tidak jarang sebagian manusia mengalami stress akibat kejenuhan-kejenuhan yang dialaminya. Hari libur yang seharusnya dimanfaatkan untuk istirahat dan bersenang-senang, terkadang hanya menjadi hari yang sia-sia.

Alih-alih pergi berlibur, sebagian manusia justru memilih menghabiskan hari libur mereka dengan tidur. Alasannya sederhana, mereka sudah cukup lelah menikmati tempat-tempat hiburan yang itu-itu saja. Sehingga mereka membutuhkan tempat baru untuk melampiaskan semua rasa kejenuhan.

Pelampiasan, menjadi satu kata yang sering kali menimbulkan penafsiran beragam. Tapi perlu diingat, kata pelampiasan tidak selalu merujuk pada sebuah keburukan. Sebaliknya, pelampiasan justru bisa menjadi awal terbentuknya sebuah energi positif bagi lingkungan.

“Sesekali kita perlu keluar, keluar dari isi kepala yang penuh. Menjadikan alam sebagai pelampiasan misalnya. Hal tersebut tidak apa-apa asal tidak merusaknya, yang salah adalah kalau kita jadikan pelampiasan dan merusaknya,” ujar Fefi, salah seorang mahasiswa pencinta alam Universitas Trunojoyo Madura.

Alam hadir memberikan sebuah inovasi sebagai tempat pelampiasan dan berlibur yang berbeda. Kedamaian dan keasrian yang dimiliki oleh alam, sering kali menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit kebosanan pada manusia. Ornamen-ornamen alam yang khas tanpa sentuhan tangan manusia tersebut menjadikannya sebagai tempat pelampiasan yang menyenangkan.

Akhir-akhir ini, tempat-tempat wisata bernuansa alam mulai banyak bermunculan, sebanding dengan meningkatnya minat manusia terhadap wisata yang bernuansa alam. Selain itu, euforia berkegiatan di alam menjadi salah satu pilihan yang cukup diperhitungkan.

Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan juga orang tua. Kegiatan-kegiatan bernuansa alam yang mulai banyak peminat saat ini, salah satunya adalah berkemah dan mendaki.

Banyak manusia yang berlomba-lomba melakukan kedua kegiatan tersebut. Tentunya, mereka melakukan kegiatan tersebut dengan alasan yang berbeda-beda.

Dari sekian banyak manusia yang berbondong-bondong pergi ke alam, pasti ada satu-dua yang tujuannya untuk sekedar menjadikan alam sebagai tempat pelampiasan. Entah itu pelampiasan atas segala kesedihan dan kejenuhan maupun pelampiasan atas segala permasalahan-permasalahan tertentu.

Menjadikan alam sebagai pelampiasan ialah kegiatan merubah segala bentuk kesedihan dan kejenuhan menjadi sebuah kegiatan positif untuk kelestarian alam. Jadi, menjadikan alam sebagai tempat pelampiasan di sini, tidak serta merta dikatakan sebagai sebuah kegiatan merusak alam.

“Aku ke alam itu sebagai bentuk pelampiasan dari penat keseharian yang aku jalani. Menikmati sejuknya alam. Tadabur alam membuat kita lebih dekat dengan alam untuk mensyukuri anugerah Tuhan yang indah. Tidak jarang ke alam juga ikut reboisasi, menanam pohon atau pembersihan alam dari sampah,” terang Fathul, relawan Karawang Peduli.

Perlu diingat, sebesar apapun pelampiasan manusia kepada alam, alam tidak akan pernah marah terhadapnya. Alam tidak akan pernah marah, hanya karena dijadikan sebagai tempat pelampiasan. Sebaliknya, alam justru memberikan sebuah rasa nyaman, tentram dan energi positif tersendiri yang bisa mengobati kejenuhan pada manusia.

Tidak ada timbal balik yang diinginkan alam atas rasa nyaman yang telah diberikannya kepada manusia. Tetapi perlu diingat, jika kita tidak memberikan timbal balik kepada alam, maka bisa diprediksi bahwa alam mustahil akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya sebagai manusia kita melakukan timbal balik kepada alam. Salah satunya adalah dengan memberikan apa yang sebaiknya alam dapatkan. Contoh kecil adalah menjaga keasrian dan kealamian yang dimiliki alam, yaitu dengan tidak mengotorinya dengan sampah-sampah.

“Eh, jangan lupa, kita boleh menikmati alam, tapi kita harus mencintainya juga. Jangan hanya menikmati, tapi kita tidak mencintai. Kita juga harus mencintai dengan cara menjaga ekosistem dan tidak membuang sampah sembarangan. Oh iya, buat teman-teman yang menikmati alam dengan cara naik gunung. Jangan lupa untuk mematuhi peraturan yang ada. Jika ketemu dengan tumbuhan edelweiss, mohon untuk tetap menjaganya,” tambah Fathul.

Alam memang selalu menyajikan keindahan-keindahan khas tersendiri. Suguhan hawa sejuk, pemandangan hijau pepohonan, hingga gemericik air mengalir selalu tampak eksotis dan menenangkan.

Hal ini menjadikan alam sebagai tempat berkegiatan yang menyenangkan untuk sekadar memenangkan pikiran. Selain itu, alam adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan pelampiasan atas rasa kesedihan dan kejenuhan.

Alam tidak akan marah terhadapnya. Tetapi kita harus tahu diri, yaitu dengan selalu menjaganya.

Kontributor || Yenita Puspitasari, WI 200075

Editor || Danang Arganata, WI 200050

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: