Caption foto: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan Bersama Pemerintah Kota Makassar menyelenggarakan Talk Show terbuka (WARTAPALA INDONESIA/Ratdita Angga)
WartapalaIndonesia.com, SULAWESI SELATAN – World Wildlife Day yang jatuh tanggal 03 Maret 2021 dan Hari Bakti Rimbawan tanggal 16 Maret 2021 serta Road to HKAN 2021 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan Bersama Pemerintah Kota Makassar menyelenggarakan Talk Show terbuka di lapangan Taman Macan Somba Opu pada Sabtu (6/3/2021), Jalan Sultan Hasanuddin Kota Makassar.
Acara ini dipandu oleh Paska Ramba sebagai Moderator yang menghadirkan Ir. Anis Suratin Kabid Teknis BKSDA Sulsel, Kepala Damkar Makassar Hasanuddin, JNE Suci Indah Permatasari, Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Makassar Drh Agung Joni Wahyuda, Simon Purser dari Wallacea Natures serta dari PT Pertamina MOR VII oleh Laode Syarifuddin Mursali.
Acara yang bertema “Bersinergi Membangun Solidaritas Urban Untuk Pelestarian Alam” memiliki rangkaian kegiatan berupa talk show, kampanye konservasi, pelepasan satwa liar berupa Jalak Tunggir Merah, dan pembagian bibit pohon.
Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc, sebagai Kepala Balai Besar KSDA Sulsel selaku pihak penyelenggara mengharapkan kegiatan ini dapat memperkuat sinergitas BBKSDA Sulsel dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar dalam rangka Kelola Keanekaragaman Hayati pada lokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Makassar.
Sementara itu mewakili Wali Kota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto hadir Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Iman Hud memberikan sambutan dan secara resmi membuka kegiatan Accarita Konservasi (ACO) oleh BBKSDA di Taman Macan.
“Mewakili Bapak Danny Pomanto saya ingin sampaikan bahwa konservasi bukan hanya menyangkut hayati tetapi juga nilai-nilai. Hari Alam Liar Sedunia atau World Wildlife, adalah merupakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan nilai penting satwa, flora dan kehidupan liar dunia, terutama yang terancam punah dan yang dilindungi. Ini didukung dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Hari Konservasi Alam Nasional, Hari Konservasi Alam Nasional telah ditetapkan pada tanggal 10 Agustus” kata Iman
“Di Indonesia pada umumnya dan Sulawesi pada khususnya, peringatan ini sangat penting agar pengawasan terhadap perlindungan kehidupan alam liar dapat dijalankan dari hulu hingga hilir secara ketat. Masalah lingkungan adalah bukan hal yang kecil, maka mari kerja bersama-sama. Sekali lagi kami apresiasi kegiatan ini dan mewakili Pemerintah Kota Makassar secara resmi kami buka” kata Iman Hud.
Kemudian pihak BKSDA Sulsel bersama Pemkot Makassar dan beberapa stakeholder menggelar pelepasan satwa liar Jalak Tunggir Merah yang berjumlah puluhan, hasil dari sitaan perdagangan satwa liar yang dilepaskan di Taman Macan Makassar.
Dalam kesempatan yang sama, keynote speaker Drh. Indra Exploitasia M. Sc. Dir. Konservasi Keanekaragaman Hayati secara virtual menyampaikan, “Ada tiga level dalam Konservasi yaitu species, ekosistem, dan genetik, maka adalah tanggung jawab BBKSDA dan lembaga-lembaga lain yang terkait untuk menjaga serta melindungi species dan genetik yang terkandung didalam kawasan konservasi agar species yang dilindungi dapat tetap lestari agar anak cucu kita dapat menikmati keberlangsungan hidup daripada spesies-spesies tersebut,” katanya.
Adapun Drh. Agung Joni Wahyuda sebagai Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia cabang Makasar, sebagai salah satu nara sumber mengatakan, “Agar masyarakat tidak sembarangan dalam mengelola hewan liar terutama kelelawar. Karena patut diwaspadai jika hewan liar sudah membawa virus lalu bersatu dengan virus yang ada di tubuh manusia maka ini dapat menjadi penyebab timbulnya virus baru dan penyakit baru,” katanya.
Menurut Simon Purser dari Wallacea Nature, “Sulawesi masih banyak sekali perburuan dan perdagangan satwa liar, sehingga menjadi tantangan karena sumber daya manusia yang dimiliki sangat terbatas. Hasil-hasil sitaan dari satwa liar yang akan dilepas liarkan juga harus lulus tes uji kesehatan. Oleh karenanya tantangan besar bagi BKSDA untuk memiiki laboratorium yang meneliti serta melakukan pengujian sehingga memudahkan identifikasi dan memastikan bahwa satwa liar tersebut sehat dan dapat dilepas kembali di alam liar” kata Simon yang juga sebagai relawan BBKSDA ini.
Kontributor || Ratdita Angga
Editor || Soprian Ardianto, WI 200136
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)