BBKSDA Sumut Berhasil Selamatkan Sembilan Orangutan

Caption foto: Salah satu orangutan yang diselamatkan BBKSDA Sumut saat diselundupkan ke Malaysian (WARTAPALA INDONESIA/Mhd Ilham Pradilla, WI 200096)

WartapalaIndonesia.com, Sumatera Utara – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara (Sumut) melakukan konferensi pers, atas Karantina dan Rehabilitasi terhadap sembilan Orangutan (Pongo abelii) yang di selundupkan di Malaysia, konferensi pers berlangsung di kantor BKSDA Sumut Jalan Sisingamaraja KM 5,5, Harjosari ll, Medan Amplas, Sumatera Utara, Rabu (3/3/2021) Sore.

Kepala BBKSDA Sumut Hotmauli Sianturi saat konferensi pers di kantor BBKSDA Sumut mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan karantina dan rehabilitasi sembilan Orangutan bekerja sama dengan Yayasan Ekosistem Lestari dibawah kerjasama Program Konservasi Orangutan Sumatera (Sumatran Orangutan Conservation Programme – SOCP).

“Sembilan orangutan tersebut menjalani proses karantina dan rehabilitasi di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan di Sibolangit yang dikelolabersama oleh BBKSDA Sumut dengan Yayasan Ekosistem Lestari dibawah kerjasama Program Konservasi Orangutan Sumatera SOCP, untuk menjalani perawatan dan proses rehabilitasi, dan nantinya dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya,” ungkapnya.

Kesembilan Orangutan tersebut, sambungnya, lima betina dan empat jantan yakni Unas (Betina 12 kg), Shielda (Betina 17kg), Yaya (Betina 21 kg), Ying (Betina 15 kg), Mama Zila (Betina 17 kg), Feng (Jantan 18 kg), Papa Zola (Jantan 20 kg), Payet (Jantan 11 kg), Sai (Jantan 17 kg).

“Sembilan Orangutan (OU) yang berhasil di repatriasi, Yaya jenis yang paling besar, kondisi sempat stress saat dalam perjalanan namun setelah dua hari dalam masa karantina kini kondisinya sudah pulih seperti biasa,” ucapnya.

Tidak hanya Yaya diantara orangutan ada juga Payet yang paling kecil diantara kesembilannya. Payet sempat mengalami diare dan stress namun setelah melalui proses karantina yang baik kondisinya sudah pulih seperti biasanya.

“Pada saat datang, sempat diare dan stres dan langsung ditangani. Kondisinya sudah baik dan merupakan OU yang direpatriasi paling kecil,” terangnya.

Kepala Divisi Konservasi Eksitu SOCP, drh. Citrakasih Nente juga menambahkan, pihaknya akan melakukan rehabilitasi dan karantina secara dua tahap, ada masa karantina ada masa rehabilitas.

“Karantina biasanya masalah kesehatan dalam tahap karantinanya selama 3 bulan nanti di akhir dari 3 bulan itu kita akan melakukan yang namanya pemeriksaan kesehatan pasca karantina namun itu tidak bisa menjadi patokan waktunya,” ungkapnya.

Kesembilan orangutan tersebut, sambungnya, mereka mempunyai latar belakang yang berbeda-beda ketika dibawa ke karantina kalau perlakuan yang baik sebelum masuk ke masa rehabilitasi atau sebelum datang ke kita, biasanya kita enggak terlalu bermasalah merehabilitasinya.

“Rehabilitasinya tidak butuh waktu lama, tapi kalau dia melawan dimasa trauma yang banyak atau terlalu dimanja persoalannya di situ masa rehabilitasi bisa panjang jadi sangat individual tergantung Orangutannya,” tutupnya.

Kontributor || Mhd Ilham Pradilla || WI 200096

Editor || Soprian Ardianto, WI 200136

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: