Canyoning Skill On Water Fall Tangse – Aceh

Caption foto: Canyoning, olahraga alam bebas (WARTAPALA INDONESIA/Fitriani)

Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Canyoning, olahraga alam bebas baru yang akan dikembangkan di Aceh, khusus nya di Pidie. Ini merupakan pengalaman terbaru juga bagi aku, dan tentunya kali ini aku akan membagikan pengalaman eksplorasi ku yang terbaru, terupdate, dan terhits di dunia olahraga alam bebas. Dalam pertualangan kali ini aku dan tim yang berlatar belakang pencinta alam dan penggiat alam bebas bermaksud mengeksplorasi alam dengan cara yang berbeda dan anti mainstream.

Dilansir Wikipedia, Canyoning atau dikenal juga dengan nama canyoneering sendiri sesuai asal katanya, canyon (Grand Canyon atau Ngarai Besar/Air Terjun Besar dan Terjal yang terbentuk oleh Sungai Colorado, di utara Arizona). Olahraga ini sangat populer di kancah internasional. Di Indonesia sendiri olahraga ini masih relatif baru dan belum populer di indonesia.

Olahraga yang merangkum beberapa teknik sekaligus seperti pemanjatan (climbing), turun tebing (rapeling), berenang (swimming), dan lompat tebing (climb jumping) sehingga menjadi sebuah disiplin ilmu alam bebas yang dikenal sebagai Canyoing. Sederhananya, olahraga Canyongin ini adalah kolaborasi antara ilmu Panjat Tebing dan Susur Goa yang diaplikasikan pada media air terjun. Menurut aku pribadi, canyoning ini merupakan tantangan tingkat lanjut bagi penggiat susur gua dan panjat tebing, pun dilihat dari segi teknik, canyoning banyak menggunakan teknik dasar panjat tebing dan susur goa.

Awalnya kami mengetahui olahraga canyoing ini di youtube, yang di unggah oleh “Canyoing Bali”, lalu kami mempelajari lebih lanjut dan kita juga melihat potensi serta landscape alam yang ada di kabupaten Pidie ini sangat mendukung akhirnya kita praktekan langsung di lapangan, tepatnya di pedalaman Dusun Geunie Kecamatan Beungga Pidie.

Olahraga dengan banyak nama ini menjelajahi daerah lanskap alam yang sulit dijangkau dengan mengikuti rute air yang diukir melalui formasi batuan, dan tentunya memberikan sensasi luar biasa serta memacu adrenalin. Walaupun kegiatan ini dilakukan untuk bersenang-senang dan menambah pengalaman, namun kita dituntut menggunakan peralatan teknis keselamatan atau safety first. Selain dua hal diatas, kegiatan ini juga dapat dilakukan untuk melatih skill, tingkat kesulitan kursus dan tantangan medan.

Alat-alat canyoning umumnya meliputi:

  1. Harness: Harness merupakan perlengkapan keselamatan utama yang dikenakan oleh pengarai yang dipasang ke tali untuk turun dan, jika perlu, memanjat.
  2. Sepatu: Karena sifat ngarai yang berair, akan membutuhkan sepatu yang nyaman dan tahan lama dengan daya cengkeram yang sangat baik.
  3. Pakaian selam atau life jacket : berfungsi daya tahan dan kehangatannya penting untuk pengarai yang dingin dan dalam. 
  4. Helm: Perlindungan kepala yang melindungi kepala dari terpeleset dan terjatuh di ngarai.
  5. Sarung Tangan: Sepasang sarung tangan yang berfungi untuk dapat menjaga tangan tetap aman saat menjelajahi bebatuan, meskipun tidak selalu diperlukan. 
  6. Tali Kartmantel: untuk tali kartmantel bisa digunakan tali statis maupun dinamis. Akan tetapi lebih baik menggunakan tali statis, karena menahan kuat saat ditempatkan di bawah tekanan, dan memudahkan untuk abseiling atau Reppleling. Tali ini sangat penting untuk pengaman menjelajahi ngarai. 
  7. Descender: peralatan turun yang digunakan sebagai rem gesekan, mengatur dan mengontrol turunan ngarai, memungkinkan belayer untuk memberi dan mengambil tali dengan aman. Alat descender yang biasa digunakan yaitu : ATC, Grigri, Figure of eight, Autostop. 
  8. Ascender: peralatan naik yang juga dibutuhkan dalam Canyon untuk memanjat tebing. Alat Ascender yang biasa digunakan yaitu: Jummar, Tali Tangga (Strap/Jedrack) 
  9. 9. Carabiner : Untuk pengamanan yang diperlukan di ngarai, carabiner adalah alat untuk menghubungkan harness dan descender. Sebaiknya digunakan yang crew get (kunci) untuk lebih safety karena dapat memasang sling dan peralatan lainnya.
  10. Sling: pengaman yang berguna sebagai tindakan tambahan di area yang terbuka. 
  11. Jangan lupa baca do’a sebelum dan setelah melakukan kegiatan. 

Kontributor || Fitriani

Editor || Soprian Ardianto, WI 200136

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: