Wartapalaindonesia.com, BENGKULU – Pahlawan dikala pandemi selamatkan lingkungan, itulah tema di momentum hari lahir Gerakan Mahasiswa Pecinta Alam (GEMPA) Bengkulu yang jatuh pada tanggal 10 November 2021 yang ke-20. Kegiatan tersebut dengan agenda penanaman 1000 pohon sepanjang jalur pantai di lapangan golf pada Selasa (09/11/2021).
Ketua Umum GEMPA Bengkulu M. Taufik Akbar, menjelaskan kenapa mengankat tema “Pahlawan dikala pandemi selamatkan lingkungan” karena, bermaksud untuk mengajak seluruh masyarakat Provinsi Bengkulu untuk menjadi pahlawan ditengah pandemi covi-19 untuk selamatkan lingkungan dengan menanam pohon.
“Pandemi ini sangat memberikan efek yang luar biasa dari semua lini, terkhususnya dalam penyelamatan lingkungan, maka dimomentum dua dekade GEMPA ini dan momentum hari Pahlawan serta memperingati Hari Pohon Seduni kami mengajak semua masyarakat menjadi pahlwan dalam menyelamatkan lingkungan,” ungkap Taufi, Minggu (31/10).
Lanjut Taufik, “GEMPA adalah organisasi kepemudaan yang bergerak dibidang Advokasi Lingkungan, sosial dan masyarakat serta olahraga rekreasi seperi outdoor, serta kepecinta Alaman. GEMPA sejak dideklarasikan pada tanggal 10 November 2001, sampai sekarang tetap Komitmen dalam Advokasi Lingkungan, sosial dan masyarakat.” Jelasnya.
Diketahui, Seluas 164 hektar hutan mangrove di Provinsi Bengkulu dalam kondisi rusak. Sedangkan dalam kondisi baik terdata 2.274,9 hektar dan kondisi sedang sebanyak 166,05 hektar dari total kawasan hutan mangrove yang mencapai 2.604,95 hektar. Kondisi kawasan mangrove ini kemudian berpengaruh besar dalam peran penting mangrove sebagai penjaga keseimbangan antara ekosistem darat dan perairan di wilayah pesisir Provinsi Bengkulu.
Melihat permasalahan tersebut, sudah seharusnya pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan yang lebih tegas sebagai upaya konservasi dan kepastian rencana zonasi hutan mangrove, rehabilitasi kawasan mangrove dan edukasi kepada kelompok masyarakat untuk penguatan pengembangan matapencaharian alternative disekitar kawasan mangrove.
Secara geografis Provinsi Bengkulu memiliki hutan pantai dan hutan mangrove yang luasannya mulai menyusut akibat aktifitas pembangunan yang tidak berorientasi pada perlindungan kawasan. Provinsi Bengkulu menjadi bagian dari sebaran ekosistem mangrove Indonesia yang tersebar di wilayah pesisir terutama Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu.
Secara geografis Provinsi Bengkulu sebagai salah satu wilayah kemaritiman yang mempunyai wilayah pesisir dengan luas perairan (laut) mencapai kurang lebih 12.335,2 km² dan panjang garis pantai mencapai kurang lebih 525 km serta yang sebagian besar wilayahnya berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Program rehabilitasi mangrove nasional dengan target 620 ribu hektar sampai tahun 2024 yang bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan pesisir sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat sebenarnya dapat menjadi momentum untuk memperbaiki ekosistem mangrove.
Untuk tahun 2021 ditargetkan seluas 124 ribu hektar yang akan dilaksanakan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove BRGM) bersama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK dan Kementrian Kelautan dan Perikanan KKP.
Sementara Provinsi Bengkulu pada bulan November tahun 2020, telah melakukan penanaman mangrove seluas 50 hektar yang antara lain di Taman Wisata Alam Pantai Panjang seluas 9 hektar, Kelurahan Padang Serai 2 hektar, Kelurahan Beringin Raya 5 hektar dan Desa Tawang Rejo Kecamatan Air Periukan Kabupaten Seluma seluas 34 hektar. Padat karya penanaman mangrove ini merupakan bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di 34 Provinsi dengan total penanaman 15 ribu hektar.
Kontributor || Soprian Ardianto, WI 200136
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 16000
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)