Gunung Sinalanggeng Habitat Elang Jawa

Caption foto: Elang Jawa di langit Sinanglanggeng. (WARTAPALA INDONESIA/ Willy Firdaus)

Wartapalaindonesia.com, KARAWANG – Senin, 17 Agustus 2020 di Gunung Sinalanggeng, Kabupaten Karawang telah dilaksanakan identifikasi habitat fauna .

“Kami ingin mengetahui fauna apa saja yang masih ada di kawasan hutan Gunung Sinalanggeng,” jelas Ojos, selaku inisiator kegiatan tersebut.

Seperti yang diketahui, sebagian dari Gunung Sinalanggeng telah ditambang selama 19 tahun sejak 2002. Ojos selaku masyarakat pinggiran Pegunungan Sanggabuana merasa perlu untuk melaksanakan identifikasi habitat fauna yang tersisa di kawasan hutan Gunung Sinalanggeng.

“Selain itu, saat terjadi kebakaran hutan dan lahan di Gunung Cengkik dan Sinalanggeng tahun kemarin, kami prihatin atas keberlangsungan habitat fauna di hutan,” ungkapnya.

Pada Oktober 2019 telah terjadi kebakaran hutan dan lahan di +100 Ha antara Gunung Cengkik dan Sinalanggeng yang masih masuk kawasan Pegunungan Sanggabuana. Kejadian tersebut menjadi alasan lainnya bagi Ojos untuk melaksanakan identifikasi habitat fauna pada Agustus 2020 ini.

Pagi menjelang siang ketika cuaca cukup teduh, Ojos sudah berjalan memasuki kawasan hutan Gunung Sinalanggeng lewat jalur mata air Cisampih. Mata air Cisampih sendiri memiliki dua sumber air yang memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Babakan Palasari Desa Cintalanggeng.

“Di batas hutan saya sudah disambut Burung Puyuh yang berlarian di antara semak dan tegalan milik warga, banyak sekali berukuran kecil berwarna agak marun,” tutur Ojos dengan senyum bahagia. Kebahagian Ojos diawal penuturannya menunjukkan rasa khawatir hilangnya habitat fauna pasca kebakaran hutan sedikit terobati lewat pertemuannya dengan Burung Puyuh.

Saat menjejak masuk kawasan hutan Gunung Sinalanggeng yang menjadi wewenang Perhutani BKPH Pangkalan, Ojos disapa Burung Elang yang terbang mengangkasa.

“Hal pertama yang saya lakukan adalah memotretnya ketika masih berputar-putar di langit Sinalanggeng,” tutur Ojos.

Ojos awalnya berpikir bahwa Elang tersebut datang dari wilayah gunung disekitarnya, namun diatas sebuah pohon Ojos melihat ada sarang Elang.

“Jelas ini bukan Elang dari gunung lain yang hanya numpang berburu di Sinalanggeng, tapi Elang ini habitatnya di Sinalanggeng,” pungkasnya. Ojos berkeyakinan bahwa Elang tersebut adalah Elang Jawa atau dengan nama latin Nisaetus bartelsi.

Menurut Ojos habitat Elang Jawa di Gunung Sinalanggeng harus diselamatkan karena termasuk hewan dilindungi peraturan negara serta berstatus terancam menurut badan internasional.

“Selain Elang Jawa, agak naik keatas menuju puncak Sinalanggeng ada tanda kehadiran Landak, Lutung, Babi Hutan dan Kucing Besar,” terangnya.

Ojos menunjukkan beberapa hasil dokumentasinya berupa bekas gigitan Lutung pada pucuk daun yang berserakan di tanah. Pohon tersebut bernama Laban atau Vitex pinnata L, yang merupakan salah satu pakan alami Lutung.

Jejak atau tanda kehadiran Babi Hutan di Gunung Sinalanggeng terlihat mendominasi mulai dari batas hutan sampai puncak. Populasi Babi Hutan yang banyak di Sinalanggeng kemungkinan menjadi tanda keberadaan predator alamiahnya seperti Macan Tutul.

Apalagi Gunung Sinalanggeng memiliki habitat favorit dari kucing besar seperti Macan Tutul. Pohon-pohon besar dengan cabang yang miring serta bebatuan besar yang cocok untuk kucing besar berjemur menjadi tanda habitatnya.

“Macan ini belum berhasil kita dokumentasikan, tapi menarik jika melihat tanda kehadirannya yang jelas,” tutup Ojos.

Sang Elang di Sinanglanggeng.
Bekas gigitan Lutung pada pucuk daun (dipegang oleh Ojos).

Kontributor || Willy Firdaus, WI 170016

Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: