Harapan Komunitas Petualang Agar Sistem Pendakian Gunung Leuser Bisa Sebaik Kinabalu di Malaysia

Caption foto: View dari puncak Gunung Kinabalu, Malaysia (Sumber : Dokumen Pribadi). (WARTAPALA INDONESIA/ Andi Tharsia)

Wartapalaindonesia.com, GAYO LUES  – Potensi wisata pegunungan di Aceh sangat besar, terutama bagi para pehobi hiking (mendaki gunung). Jalur terjal menantang, kondisi alam yang begitu alami, serta masih banyaknya spot tersembunyi menjadikan pegunungan di Aceh wajib dijajal oleh pencinta alam. Hal ini disadari Khairul Mizi (Rajel), Rahmatsyah Putra (Acil) dan Fauzi (Buyong), yang merupakan anggota senior Mahasiswa Pencinta Alam dan Lingkungan Hidup (METALIK) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Aceh.

Ketiga orang tersebut merupakan satu dari sekian banyak orang yang mampu mencapai puncak Gunung Kinabalu (4095 Mdpl), gunung tertinggi di Malaysia dan tertinggi ke-5 se-Asia Tenggara. Pendakiannya dilakukan pada pertengahan tahun 2013, melibatkan komunitas GALA (Gayo Lues Adventure), sabuah komunitas pencinta alam di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.

“Pendakian di sana difasilitasi oleh semacam Event Organizer. Mereka mengatur ritme waktu keberangkatan, serta jumlah pendaki dibatasi untuk 100 orang. Di sana juga tersedia shelter penginapan setiap 1 KM pendakian, makanan serta air bersih. Jalur pendakian sudah dibuat dengan desain model anak tangga, serta kerapihan penataan sepanjang trek (jalur). Di ketinggian 1600 Mdpl juga terdapat hotel J RESIDEN. Dan dukungan dari pemerintah disana patut diacungi jempol,” kenang mereka.

Apa yang mereka dapat dari pengalaman mendaki gunung di luar negeri tersebut? Bagi mereka, bukan kemewahan ketika pendakian yang menjadi cerita sepulang ke tanah air, melainkan sebuah introspeksi dan juga mimpi untuk mewujudkan kebaikan pendakian di kampung halaman.

Rajel berharap, sistem terintegrasi yang mereka temukan di pendakian Kinabalu, juga bisa diterapkan komunitas lokal Kawasan Taman Nasional atau Kawasan Konservasi di Aceh. Harapan itu tertuju pada Gayo Lues sebagai daerah asal komunitas GALA, serta kepada pemerintah terkait Gunung Leuser, untuk mengembangkan potensi  gunung yang mendapat status sebagai warisan dunia cagar biosfer pada 2004 oleh UNESCO tersebut.

“Artinya, selain memberdayakan potensi masyarakat lokal sebagai penyedia layanan hingga guide (pemandu) terlatih, kita juga perlu memangkas alur administrasi ketika akan melakukan pendakian. Kita berharap semuanya terkonsentrasi di Gayo Lues. Di Kinabalu, 1 guide memandu 3 orang pendaki, dan mereka dibayar RM 128 di tahun 2013. Jika ada 100 pendaki akan ke Gunung Leuser, maka dibutuhkan 30-40 guide, itu belum termasuk perputaran rupiahnya. Memang benar di Kinabalu semua serba online, mulai dari booking pesawat hingga booking tiket mendaki, pun diluar Aceh sudah jamak diterapkan. Tetapi saya belum melihat hal yang sama diterapkan di tempat kita (Aceh). Bagaimana jika kita mulai dari desa Kedah sebagai pintu masuk pendakian dan akses terakhir kendaraan sebelum trekking ke Leuser, misalnya?” ungkap Rajel.

Rajel menambahkan, perlu ada kesadaran dari stakeholder Kabupaten Gayo Lues untuk membidik potensi ini. Secara tidak langsung, tidak hanya membuka keran promosi daerah tapi juga menjadi pendapatan bagi masyarakat sekitar tanpa harus menebang hutan. Nantinya, pemerintah hanya cukup memberikan dukungan berupa pemicu agar masyarakat bisa terus berinovasi menjadi agen-agen pariwisata daerahnya. Dengan begitu nantinya diharapkan pula masyarakat setempat akan menjadi lebih mandiri.

“Masih banyak pendaki pemula tidak berlatar organisasi pecinta alam yang karena alasan hobi, mereka sanggup membayar berapapun untuk open trip. Tidak jarang mereka berasal dari kalangan professional dan pengusaha yang tidak mempermasalahkan harga, asalkan jasa pelayanan berkualitas, mereka bersedia (membayar). Bukankah ini menjadi opportunity? Saya kira lintas sektor di pemerintahan Kabupaten Gayo Lues–dapat membaca potensi ini.” tutupnya.

Kontributor || Andi Tharsia, WI 200220

Editor || Danang Arganata, WI 200050

Dari Kiri-Kanan: Fauzi (Buyong), Rahmatsyah Putra (Acil) dan Khairul Mizi (Rajel)
sebelum melakukan pendakian (Sumber : Dokumen Pribadi).

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: