Hari Maleo Sedunia: Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Gelar Festival Maleo

Caption foto: Maleo, satwa endemik Sulawesi yang dilindungi (sumber foto: boganinaniwartabone.org). (WARTAPALA INDONESIA/ Meilan Mooduto)

Wartapalaindonesia.com, GORONTALO – Tanggal 21 November mulai digaungkan sebagai Hari Maleo Sedunia. Pada tanggal tersbeut pertama kalinya pelepasan kembali anak Maleo ke alam liar, dari hasil kegiatan konservasi semi alami yang dilakukan di site peneluran Tambun oleh Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) dan Wildlife Conservation Society-Indonesian Program (WCS-IP) Sulawesi pada 2001.

Dalam rangka memperingati Hari Maleo Sedunia, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone kembali menggelar Festival Maleo dan Pencanangan Hari Maleo Sedunia. Puncak acara dilaksanakan pada Sabtu, 21 November 2020.

Burung Maleo merupakan satwa endemik Sulawesi yang tidak bisa terbang dan satu-satunya. Menurut data dari TNBNW Burung Maleo senkawor (Macrocephalon Maleo) merupakan satwa asli Sulawesi yang telah dilindungi. Burung Maleo tersebar di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Mamuju Tengah (Sulawesi Barat) dan Danau Towuti (Sulawesi Selatan).

Sebagaimana yang diketahui populasi burung endemik Sulawesi ini terancam punah beberapa tahun lalu. Hal tersebut dikarenakan maraknya perburuan Maleo dan telur oleh penduduk untuk konsumsi maupun perdagangan. Selain manusia, juga banyak predator seperti ular dan biawak yang menjadi musuh besar burung yang sangat dilindungi ini.

Agar tidak mudah diburu orang dan predaktor lainnya, burung Maleo ketika bertelur menggali lubang yang berpasir hingga sekitar setengah meter. Selain menggali lubang, burung yang terbilang cukup pandai melindungi telurnya ini juga membuat beberapa lubang untuk kamuflase.

Rendahnya kesadaran sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab telah merampas hak-hak hidup Maleo. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango melakukan langkah serius yaitu dengan memprogramkan penangkaran burung Maleo, sebagai upaya untuk pemulihan ekosistem Maleo di kawasan hutan Hunggayono.

Penangkaran burung Maleo berada di Hungayono, Hutan Taman Nasional Nani Wartabone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Sejak tahun 2000, proses penangkaran mulai dilaksanakan. Sejak itu juga, populasi Maleo di hutan tersebut meningkat sebesar 80 persen dari populasi sebelumnya yang hanya 20 persen.

Dalam proses penangkaran, awalnya Maleo dibiarkan bertelur di tanah yang memiliki lekukan atau lubang besar. Setelah itu, telur Maleo dipindahkan ke tempat penetasan yang telah disiapkan. Di tempat penetasan, dibuat sederet lubang kecil seukuran telur Maleo, dengan kedalaman 20 sampai 30 sentimeter.

Telur Maleo berukuran rata-rata 11 sentimeter, dengan berat 240-270 gram per butirnya, atau 5-8 kali lebih besar dari dari telur ayam. Selanjutnya, telur burung Maleo memerlukan waktu 70 sampai 80 hari agar bisa menetas.

Setelah menetas, anak maleo berumur dua bulan sudah bisa dilepas ke alam bebas. Selanjutnya, satwa itu akan hidup dan berkembangbiak di dalam hutan yang terdapat di wilayah hamparan sumber air panas.

Sesungguhnya alam (gunung, sungai, laut dan hutan) dan seisinya adalah kekayaan kita yang sejati. Sebagai kebanggaan kita, alam harus dijaga keseimbangan ekosistemnya agar kehidupan di muka bumi ini tetap berjalan dengan baik.

Marilah sama-sama melestarikan keanekaragaman hayati yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat, guna membangun generasi yang lebih beredukasi dan peduli.

Mulailah dari hal-hal kecil, seperti sosialisasi kepada masyarakat agar sekiranya tidak melakukan perburuan kepada hewan-hewan yang dilindungi, pengrusakan lingkungan yang tentunya akan merugikan banyak pihak dan menjaga sungai dari pencemaran limbah.

Selanjutnya yaitu dengan melakukan penanam bibit pohon baru di hutan dan membiakkan satwa-satwa di dalamnya, menangkap ikan di laut secukupnya, menghentikan aktivitas tambang, mendaur ulang produk-produk dan masih banyak lagi. Kesadaran dan kepedulian seperti inilah yang perlu diwariskan dari generasi ke generasi.

Kontributor || Meilan Mooduto, WI 200201

Editor || Willy Firdaus, WI 170016

Festival Maleo dan Pencanangan Hari Maleo Sedunia (21/11) di TNBNW.
Proses pengambilan telur Maleo dari lubang.
Proses peletakan telur untuk dilakukan penetasan.

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: