Pencarian Serangga Air di Indikator Pencemaran Sungai

Caption Foto: Ekspedisi pencarian serangga air. Senin, (1/10). ( Wartapala Indonesia/ Roihan Afifurrofi WI, 190034).

Wartapalaindonesia.com, Karawang-Kabupaten Karawang yang terkenal sebagai lumbung padi nasional dan daerah industri memiliki potensi air permukaan yang besar.

Keberadaan air permukaan yang besar di Kabupaten Karawang merupakan modal yang dilirik oleh Pemerintah Kolonial Belanda ketika mengembangkan persawahan irigasi teknis. Sungai Cibeet di barat, Sungai Cilamaya di timur dan Sungai Citarum yang membelah Karawang di tengah hingga mengalir ke Laut Jawa sudah dilihat sebagai hal penting semenjak Kerajaan Tarumanegara.

            Seiring terus berkembangnya jaman, air-air permukaan di Kabupaten Karawang seperti situ, danau, rawa dan utamanya sungai mengalami pencemaran yang masif. “Karawang adalah wilayah yang dipenuhi sungai, mulai dari sungai kecil hingga sungai nasional melintas disini” tutur Mahesa.

            Mahesa merupakan manajer Dragonfly Expedition atau Survey lapangan pendataan dan pemantauan kesehatan sungai-sungai di Kabupaten Karawang. Ekspedisi ini di inisiasi oleh komunitas Bara Rimba yang konsen pada kepetualangan dan penjelajahan di Karawang.

            Mulai dari 6 oktober 2019, Mahesa beserta 8 temannya sesama anggota Bara Rimba telah melaksanakan survey lapangan hingga 28 juni 2020. Selama 267 hari mereka talah mendata 83 titik yang tersebar di 52 sungai dan 7 muara yang ada di sepunjuru Kabupaten Karawang.

“Ada hal mudah yang bisa dilakukan untuk mengetahui tercemar atau tidaknya sungai, yaitu dengan BIOTILIK” jelas Mahesa.

Biotilik sendiri adalah singkatan dari biota tidak bertulang belakang indikator kualitas air. Biota ini bisa berupa serangga air, kepiting, udang, siput dan cacing.

            “Sebuah sungai akan diketahui kadar pencemarannya dalam hitungan menit dengan biotilik, ini jadi alternatif untuk pemantauan kesehatan sungai”.

Mahesa menambahkan, bahwa selain kadar pencemaran dengan biotilik juga akan diketahui apakah habitat disungai tersebut sehat atau tidak untuk menunjang kehidupan serangga air.

 Hal inilah yang menginspirasi nama ekspedisi ini dragonfly atau capung, karena larva (nimfa) capung menjadi salah satu serangga air yang didata. Beberapa nimfa capung memiliki sensitifitas tinggi terhadap bahan pencemar, sehingga menjadi bioindikator kadar pencemaran sungai.

   *****

            Ekspedisi ini membagi sungai-sungai yang ada di Karawang menjadi empat wilayah sungai, yaitu sungai utara, timur, tengah dan selatan. Sementara untuk Sungai Cibeet dan Citarum dipisahkan tersendiri karena salah dua sungai yang menjadi muara bagi sungai-sungai di Karawang.

            “Kami membagi anggota menjadi beberapa tim dengan tanggung jawab wilayah ekspedisi, total ada 5 tim berdasarkan pembagian wilayah sungai” beber Mahesa. Dan wilayah utara memiliki 16 sungai dengan 7 muara, yang menjadikannya wilayah terbanyak.

            Mandasari selaku penanggung jawab survey wilayah utara menjelaskan bahwa dari ke-16 sungai yang di data rata-rata memiliki hulu dari Sungai Citarum. “Permasalahan sungai-sungai utara yang utama adalah terputus dan menyempitnya hulu sungai” tutur Manda panggilan akrab gadis ini.

Menurut Manda, hanya Sungai Bungin yang hulunya masih terhubung dengan Sungai Citarum. Walaupun dipisahkan oleh sebuah bendung (pintu air), Sungai Bungin masih beruntung mendapatkan aliran langsung dari Sungai Citarum yang sebagai hulunya.

            Permasalahan terputusnya hulu-hulu sungai di utara menjadikannya sebagai penerima air buangan dari pertanian, tambak dan pemukiman. Sehingga air yang mengalir di sungai-sungai utara mengandung pupuk kimia, pestisida dan limbah detergen diatas normal.

“Kami hanya menemukan 18 jenis (famili) serangga air dan 6 (famili) diantaranya adalah nimfa (larva) capung” ungkap Manda. Selain 6 jenis nimfa, ada juga beberapa jenis serangga semiakuatik seperti famili Hydrometridae, Noteridae dan Gerridae.

            Beberapa sungai terindikasi memiliki indeks biotilik yang menunjukkan tercemar sedang, dan 14 sungai lainnya tercemar berat. Sungai Ciwadas yang memiliki 2 hulu utama, yaitu satu di Rengasdengklok dan lainnya di Karawang Barat merupakan sungai dengan jenis serangga air terbanyak yang ditemukan.

Sementara Sungai Bungin, Tanjung Bali, Ciagem, dan Cipucuk tidak ditemukan satu jenispun serangga air. “Ciwadas ada 7 jenis serangga air, lalu Kali Asin, Sungai Kawani dan Cibuaya ditemukan 4 jenis, sementara sungai lainnya hanya 1 sampai 3 jenis saja”.

            Antara kualitas air dan kesehatan habitat untuk sungai-sungai utara ada penyimpangan, yaitu tidak selalu habitat yang sehat akan menghasilkan air yang tidak tercemar.

“Kali Merah di Kecamatan Pakisjaya memiliki habitat yang sehat namun kualitas airnya tercemar berat, begitupun dengan Cisoga dan Sungai Gempolroke”.

Manda menjelaskan, walaupun suatu sungai memiliki habitat yang mampu menunjang kehidupan serangga air namun jika kualitas airnya sudah tercemar maka tidak akan ada serangga air yang bertahan.

            Wilayah timur Kabupaten Karawang yang didata ada 8 sungai, mulai dari Cidarawak, Ciwulan, Cikaranggelam, Kalen Langen sampai Cilamaya.

“8 sungai wilayah timur yang kami data menunjukkan indeks biotilik tercemar berat untuk kualitas airnya, sementara untuk kesehatan habitat ada 3 sungai yang sehat” jelas Renaldi selaku penanggung jawab sungai wilayah timur.

Menurut Renaldi permasalahan terbesar dari sungai di wilayah timur adalah alih fungsi lahan di hulu sungai.

            Alih fungsi lahan yang terjadi di hulu seperti menjadi pemukiman atau industri. Hal ini disebabkan hulu dari sungai-sungai di wilayah timur berada di jalur pembangunan.

“Seperti Ciwulan hulunya ada di Situ Kedungsari yang kita kenal dengan wisata pohon miringnya di daerah Pancawati” kata Renaldi.

Selain itu ada Cikaranggelam yang hulunya di Situ Kamojing, dimana saat ini disekitar daerah tersebut banyak industri berdiri. Pemukiman juga mempersempit badan sungai sehingga saat terjadi hujan deras terkadang meluap ke pemukiman.

            “Ciherang dan Cilamaya hulunya ada di (Gunung) Tangkuban Perahu, namun hilirnya ada di Karawang dan kami menemukan 6 famili serangga air”. Ke-6 jenis serangga air tersebut adalah Gerridae, Coenagrionidae, Naucoridae, Hydrophilidae, Corixidae dan Hydrometridae.

 Ciherang dan Cilamaya memiliki habitat yang tidak sehat, dimana substrat, vegetasi dan sedimentasinya tidak menunjang kehidupan serangga air. Selain itu, juga terlalu banyak aktifitas manusia baik dihilir maupun hulu sungai, sehingga bahan pencemar masif masuk kebadan sungai.

            Sementara untuk wilayah tengah, permasalahannya lebih kompleks dibandingkan wilayah sungai lainnya di Karawang. “Dari 12 sungai yang kami data, hanya 2 sungai yang muaranya ke Ciwadas dan sisanya bermuara ke Cibeet serta Citarum” tutur Eka sebagai penanggung jawab sungai wilayah tengah.

Ke-2 sungai yang bermuara ke Ciwadas adalah sungai Lamaran dan Ciranggon yang hulunya ada di Kecamatan Klari. Sedangkan, ke-10 sungai lainnya dibagi dua, 5 sungai bermuara ke Citarum dan 5 lainnya bermuara ke Cibeet.

Secara langsung maupun tidak, sungai-sungai tersebut memberi pengaruh kepada badan sungai Cibeet maupun Citarum.

             Pengaruh dari Kawasan Industri terlihat begitu besar dalam mempengaruhi kesehatan habitat.

 Di mana di Kawasan Industri terjadi perubahan (modifikasi) badan sungai dengan cara di beton serta menghilangkan vegetasi khas perairan. “Mulai dari Cikereteg yang melewati pabrik kertas sampai Cikalapa dan Cijambe yang dijadikan saluran drainase oleh Kawasan Industri, kesehatan habitatnya kurang”.

Selain adanya modifikasi, juga permasalahan seperti di sungai-sungai utara terjadi di sungai-sungai tengah yaitu terputusnya sungai dari hulu. Terputusnya sungai dari hulu alaminya ini disebabkan karena modifikasi (perubahan) bentuk dan badan sungai oleh pengembang kawasan.

            “Hanya ada 2 sungai yang kualitas airnya tercemar sedang berdasarkan indeks biotilik, sedangkan 10 sungai lainnya tercemar berat” kata Eka.

Menurut Eka, Cisubah dan Cipatunjang kualitasnya tercemar sedang karena masih dialiri air dari hulunya yaitu Karst Pangkalan dan Pegunungan Sanggabuana. Sungai wilayah tengah hanya teridentifikasi 1 famili capung, yaitu Coenagrionidae.

Sementara, untuk serangga air teridentifikasi ada 15 famili, selain serangga air ditemukan famili Nereidae di Sungai Cikalapa. Diketahui bahwa jenis cacing ini biasa hidup di pesisir atau lautan, namun Cikalapa jaraknya ±40 km dari pesisir.

            Sejauh ini sungai-sungai di wilayah selatan Karawang secara indeks biotilik merupakan sungai yang kesehatan habitat dan kualitas airnya masih baik.

“Kami mengidentifikasi ada 40 serangga air yang terdata dengan 6 jenis nimfa capung, sejauh ini terbanyak” jelas Alawi selaku penanggung jawab sungai wilayah selatan.

 Beberapa serangga air yang ditemukan juga memiliki habitat yang hanya ada di selatan Karawang, yaitu wilayah berhutan. Seperti famili Chlorocyphidae capung bersayap warna warni yang menyukai aliran sungai di pinggir hutan ditemukan di Cigeuntis. Selain itu ada larva kunang-kunang dari famili Lampyridae yang ditemukan di Cikatulampa.

            Tapi ada permasalahan juga yang dihadapi oleh sungai-sungai di wilayah selatan, seperti pertambangan, pembukaan hutan dan pariwisata. “Ada 3 sungai yang terindikasi tercemar berat, yaitu Cidoro, Cibadak dan Citalahab dengan habitat yang kurang sehat tapi untuk Cidoro habitatnya tidak sehat”.

Penyebab Sungai Cidoro tercemar berat dengan habitat yang tidak sehat hal ini dikarenakan di hulunya ada pertambangan.

            “Wilayah selatan memiliki keragaman dan potensi serangga air yang masih beragam dengan habitat yang baik, masih ada harapan mempertahankannya” kata Alawi.

Sikap dari Alawi ini mengisaratkan bahwa 14 sungai yang ada di selatan Karawang wajib dilindungi habitat, kualitas serta hulunya. “Besok atau lusa selatan Karawang bisa saja seperti wilayah tengah, timur atau utara, dimana melindungi sungai-sungainya akan semakin berat dan memakan waktu”.

Permasalahan yang ada di sungai-sungai selatan menurut Alawi masih bisa diminimalisir lewat peraturan pemerintah, sehingga tidak akan berdampak besar dikemudian hari.

            Sementara untuk Sungai Cibeet dan Citarum, Ditta Nurelia selaku penanggung jawabnya menyatakan bahwa di kedua sungai tersebut sedikit sekali serangga air yang ditemukan.

“Dari 3 titik sampel yang kami lakukan di Cibeet, hanya ditemukan 8 serangga air dan salahsatunya adalah famili Libellulidae atau nimfa capung orange”. Bahkan, Ditta terkejut dengan hasil indetifikasi di Sungai Citarum dengan titik sampel sebanyak 5 titik namun hanya menemukan 2 jenis serangga air.

            “Identifikasi yang kami lakukan di Citarum Hilir dimulai dari Bendung Walahar hingga ke Batu Jaya di utara, dan hanya moluska serta udang yang banyak” tutur Ditta.

Menurutnya hal ini disebabkan kurang sehatnya habitat yang ada di Sungai Citarum. Banyaknya aktifitas manusia serta menjadi media utama buangan IPAL industri membuat Citarum Hilir mengalami degradasi habitat.

            Berbeda dengan Sungai Citarum, Sungai Cibeet masih memiliki habitat yang sehat walaupun kualitas airnya tercemar berat berdasarkan indeks biotilik. Permasalahan menurunnya kualitas air Cibeet selain disebabkan oleh buangan IPAL Industri juga karena pertambangan.

 Ditta berharap Cibeet dan Citarum sebagai nadi utama Kabupaten Karawang bisa menjadi habitat serangga air yang beraneka ragam.

*****

            Dr. Daru Setyo Rini, S.Si., M.Si. atau biasa disapa Mbak Daru yang aktif sebagai peneliti senior di ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation) menjelaskan pentingnya serangga air. “Serangga air sangat penting karena fungsinya sebagai herbivora” kata Mbak Daru. Herbivora sendiri berfungsi sebagai pengurai limbah organik seperti serasah daun. Selain mengurai limbah organik, serangga air juga menjadi pakan alami bagi ikan serta hewan predator di sungai.

            Ketika ditanya tentang keberadaan famili Nereidae di Sungai Cikalapa, Mbak Daru mengaku itu masih misteri baginya.

Seperti diketahui cacing dari famili Nereidae biasanya hidup banyak di laut yang airnya asin. “Kemungkinan air sungai yang dihuni (Nereidae) banyak mengandung garam atau senyawa logam” jelas Mbak Daru. Sungai Cikalapa sendiri melewati Kawasan Industri serta perumahan sebelum bermuara ke Citarum.

            Serangga air menurut Mbak Daru sangat penting karena bagian dari rantai makanan. Jika serangga air tidak adamaka sumber pakan alami sungai akan hilang, sehingga ekosistem sungai terganggu. “Bisa menyebabkan kepunahan spesies ikan dan satwa liar endemik sungai” tutupnya.

Berikut link data hasil identifikasi tim Dragonfly Expedition-Bara Rimba:

https://drive.google.com/file/d/1JR7XR_oxqv0920cPeyBRFdUjAm5rxhK8/view?usp=drivesdk

Kontributor : Willy Firdaus, WI 170016

Editor: Dewi Ayu Ningtyas, WI 190042

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: