Oleh : Galuh Tri Rizqiadi Wibowo
Anggota Impecta Unipdu
Wartapalaindonesia, PERSPEKTIF — Gunung tidak hanya sekadar tumpukan tanah menjulang yang menantang untuk ditaklukkan. Ia adalah saksi bisu sejarah, penjaga budaya, dan ruang kontemplasi spiritual.
Dalam konteks ini, kegiatan Pendakian Wajib (Pendawa) 2025 oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMPECTA) Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang ke Gunung Lawu via jalur Candi Cetho bukan hanya sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan jiwa yang sarat nilai.
Gunung Lawu (3.265 mdpl) yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan gunung stratovolcano aktif dengan aktivitas rendah. Ia bukan hanya objek wisata alam, tetapi juga ruang historis dan spiritual.
Jalur pendakian via Candi Cetho memberikan pengalaman yang lebih dari sekadar penaklukan puncak: ia menawarkan pelajaran sejarah, spiritualitas, dan introspeksi diri.
Candi Cetho, peninggalan masa akhir Kerajaan Majapahit abad ke-15 Masehi, bukan sekadar pintu masuk pendakian. Ia adalah monumen spiritual yang menggambarkan nilai luhur zaman Majapahit.
Struktur bertingkatnya, penuh arca dan relief, merupakan simbol perjalanan manusia dari dunia fana menuju alam spiritual. Menapaki jalur ini, para pendaki diajak menyusuri jalur yang dahulu diyakini digunakan para resi dan raja untuk bertapa.
Menurut tradisi lokal, Raja Brawijaya V—raja terakhir Majapahit—melakukan semedi dan moksa di puncak Lawu. Di berbagai titik sepanjang jalur, seperti Pos Cemoro Bulus dan Pos Cengkir Kembar, terdapat batu-batu dan situs kecil yang dipercaya sebagai petilasan. Pendakian menjadi semacam ziarah, bukan sekadar perjalanan adrenalin.
Kegiatan Pendawa menjadi momentum penting dalam pendidikan kaderisasi Impecta Unipdu. Bagi para anggota muda, ini bukan hanya ujian fisik dan mental, tetapi juga pelajaran tentang filosofi hidup, cinta tanah air, dan kesadaran lingkungan. Kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk memperoleh identitas sebagai Anggota Biasa—lengkap dengan Pakaian Dinas Harian dan Nomor Induk Anggota.
Dalam dunia modern yang serba cepat dan mekanis, pendakian seperti ini menjadi ruang perenungan yang langka. Gunung Lawu dengan seluruh muatan historis dan spiritualnya mengingatkan kita bahwa manusia bukan penguasa alam, tetapi bagian darinya. Bahwa mendaki bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk memahami dan menyatu.
Maka dari itu, mari kita jaga gunung-gunung kita. Karena di balik kemegahannya, ada warisan budaya, sejarah peradaban, dan nilai-nilai spiritual yang tak ternilai harganya.
Foto || Anggota Impecta Unipdu
Editor || Wandi Wahyudi, WI 200223
Sumber pustaka:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek. (n.d.). KBBI Daring.
AD/ART, UKM Impecta Unipdu.
Wawancara dengan Giatno, pemandu lokal Candi Cetho, Mei 2025.
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)