Rian Maula Fahlefi, CEO Lush Green Sang Pelopor Back to Organic

Caption foto: Foto bersama Kepala Dinas UMKM dengan Rian (memakai baju putih, memegang pupuk organik) di kantor Lush Green (sumber foto: Rian Maula Fahlefi). (WARTAPALA INDONESIA/ Nindya Seva Kusmaningsih)

Wartapalaindonesia.com, SOSOK – Di pasar tradisional, berbagai macam sayur-sayuran yang sudah tidak layak dijual seringkali terbuang sia-sia. Sisa-sisa sayuran yang merupakan sampah organik tersebut akan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dengan begitu saja, menjadi membusuk dan tidak berguna.

Berbeda dengan pemikiran sosok Rian Maula Fahlefi, sampah organik yang berasal dari sayur-sayuran tersebut dimanfaatkannya untuk dijadikan kompos dan pupuk organik. Berawal dari pemikiran tersebut, pria kelahiran Kalianda ini berhasil mendirikan Lush Green, sebuah perusahaan mikro yang memiliki slogan back to organik.

Penasaran bagaimana awal mula realisasi dari pemikiran sang CEO Lush Green ini? Berikut hasil wawancara eksklusif yang dilakukan media wartapalaindonesia.com dengan CEO asal Lampung Selatan.

Bagaimana latar belakang berdirinya Lush Green?

“Lush Green adalah sebuah usaha yang bergerak di bidang kompos, media tanam serta pupuk berbahan organik,” buka pria kelahiran 26 Desember 1991 ini.

“Awal berdirinya dari sebuah pemikiran dan tindakan. Ide awalnya yaitu mengolah limbah sabut kelapa atau cocopeat untuk dijadikan media tanam. Daripada lembah tersebut terbuang lebih baik dimanfaatkan,” ungkapnya.

“Lalu muncul ide untuk memanfaatkan pula sampah organik yang ada di pasar tradisional seperti sayuran sisa yang sudah tidak terpakai untuk diolah menjadi kompos dan pupuk organik,” lanjutnya.

Sejak kapan Lush Green Berdiri?

“Berdiri pada 20 Juli 2020 dan beralamatkan di Jalan Sinar Laut Nomor 63 Way Urang, Kalianda-Lampung Selatan, Lush Green merupakan sebuah usaha rintisan yang mencoba ingin memberikan pengaruh terhadap lingkungan,” tutur pria yang berprofesi sebagai wiraswasta ini.

“Tak hanya sebagai perusahaan profit, Lush Green memiliki misi untuk menciptakan lingkungan yang asri dan hijau. Hal ini dibuktikan dengan pengolahan berbagai macam olahan limbah dan sampah menjadi sebuah nilai dan dapat bermanfaat bagi banyak orang,” terangnya.

Apasaja kendala yang dihadapi saat mendirikan Lush Green? Dan bagaimana cara menghadapinya?

Alhamdulillah, kita tidak terlalu mengalami banyak kendala dalam perjalanannya. Mungkin ini ridho Allah, usaha sebagus apapun kalo Allah tidak ridho pasti akan menemui masalah dan masalah akan semakin besar apabila kita tidak mencintai pekerjaan tersebut, sekecil apapun hasil dari sebuah pekerjaan,” ucapnya penuh dengan rasa syukur.

“Kita akan nikmati prosesnya karena faktor dasarnya rasa cinta dan suka pada pekerjaan yang kita lakukan tersebut,” katanya.

“Yang jelas untuk ke depannya kita akan menjalin kemitraan dengan pihak swasta maupun pemerintah daerah, agar kita tetap bisa survive. Juga yang paling penting kita dapat membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar serta bisa menjadi contoh pemuda kreatif dan mandiri, bagi banyak orang tentunya. Satu kebaikan akan menularkan kebaikan-kebaikan lainnya,” imbuhnya.

Bagaimana cara mensosialisasikan Lush Green ke masyarakat luas? Bagaimana tanggapan awal masyarakat?

“Langkah awalnya dilakukan dengan face to face dan door to door. Kita menjual produk yang masih awam di telinga maupun di penglihatan manusia. Sebuah media tanam hasil dari penggilingan sabut kelapa yang dapat digunakan untuk bercocok tanam,” buka pria yang memiliki hobby traveling dan melukis ini.

“Sebagian besar masyarakat menyambut secara antusias karena faktor penasaran, maklum di sini masih awam untuk hal yang berbau inovasi. Tak berhenti sampai di situ saja, kita kembangkan pula kompos dan pupuk organik berbahan dasar sampah sayur-sayuran dari pasar tradisional. Karena dari cocopeat kita sudah dapat citra baik, akhirnya sampai pada produk baru pun kita disambut baik oleh masyarakat luas,” ucapnya.

Sampai saat ini produk apa saja yang sudah dibuat dari hasil olahan limbah dan sampah?

“Kita baru menggunakan dua bahan olahan. Pertama, limbah cocopeat serta cocofiber hasil dari penggilingan sabut kelapa. Bahan tersebut kita jadikan berbagai kreasi kerajinan, salah satunya pot bunga dari sabut kelapa. Kedua, olahan sampah organik yang kita jadikan kompos serta pupuk organik,” terang penyuka rendang, sate padang dan rujak petis tersebut.

Limbah dan sampahnya apa hanya berasal dari sampah sayuran di pasar tradisonal atau ada yang lain?

“Sampah organik yang kita jadikan kompos dan pupuk organik diperoleh dari pasar tradisional dan sampah rumahan. Lalu limbah hasil penggilingan sabut kelapa kita ambil dari pabrik-pabrik sabut kelapa yang berada di sekitar daerah kita,” tutur pria yang masih aktif sebagai jurnalis.

Untuk pemasaran produknya sendiri bagaimana?

“Pemasaran produk dari serat sabut kelapa (cocofiber) kita sudah tembus pasar luar kota bahkan luar provinsi. Sedangkan kompos dan pupuk organik pemasarannya masih di sekitar daerah kita,” jawab sosok yang kesibukannya saat ini masih mengurus dan mengembangkan usahanya itu.

Apa harapan ke depan dengan adanya Lush Green untuk lingkungan hidup dan bumi yang semakin menua?

“Dengan slogan back to organic, perusahaan mikro yang dipimpinya diharapkan agar masyarakat luas, khususnya petani dapat menggerti tentang pentingnya kembali ke bahan organik dalam penerapan sistem pertanian modern. Karna menurutnya dengan pemakaian pupuk dan bahan-baham kimia dalam industri pertanian secara berlebih tidak hanya merusak ekosistem tanah namun dapat berdampak pula bagi kesehatan tubuh manusia,” tandas Rian, sapaan akrabnya.

 “Harapannya, masyarakat dapat peduli tentang menjaga kebersihan dan lingkungan, turut andil menjadi pelopor bagi pergerakan hidup yang bersih, hijau dan sehat,” harapnya dengan penuh semangat.

“Lingkungan bersih, manusianya sehat. Mari jaga alam, maka alam akan menjaga kita,” pungkas pria yang tinggal di Perumnas Hartono, Kalianda, Lampung Selatan ini.

Kontributor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Editor || Alton Phinandhita Prianto, WI 150001

Sosok Rian Maula Pahlefi saat mengumpulkan sayuran-sayuran di pasar tradisional (sumber foto: Rian Maula Pahlefi).

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: