Traveling, Backpacking, dan Sebuah Esensi

Caption foto: Potret seseorang saat melakukan traveling (sumber foto: phinemo.com). (WARTAPALA INDONESIA/ Rivaldi Awalli Putra Pratama)

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Perjalanan, seperti kata para pujangga “pada setiap perjalanan panjang, selalu dimulai dengan satu langkah”. Logika dasar yang mungkin anak yang baru paham baca-tulis pun juga mengerti apa yang dimaksudkan. Tapi, banyak yang belum bahkan tidak sama sekali memahami apa esensi atau justru makna mendasar dari sebuah perjalanan.

Saya tidak sedang mengajak kawan-kawan untuk berfilsafat, tapi sebagai manusia yang mencoba tetap waras, mungkin saya harus menyampaikan apa dan bagaimana sudut pandang saya tentang proses perjalanan.

Entah kapan dan bagaimana kegiatan ini menjadi suatu kegiatan yang sering diabaikan maknanya oleh banyak manusia, yang jelas sejak terdepaknya Adam dari Taman Eiden, sebuah perjalanan spiritual vertikal-horizontal, diklaim sudah dimulai.

Bahkan sebelum itu, Lucifier yang disebut “Son of Light” sudah memulai perjalanannya. Tentang bagaimana akhirnya dia bertansformasi dari yang semula adalah hamba Tuhan yang paling taat menjadi yang paling dilaknat.

Saya sedang tidak membahas bagaimana makna Al-Kitab, tapi sebagai makhluk yang sudah memulai perjalanan sejak 23 tahun dan masih sulit memahami where the railways of life diri saya pribadi, mungkin melalui tulisan inilah saya mencoba mendiskusikannya dengan kawan-kawan sekalian.

Sedikit bercerita, saya mulai melakukan banyak perjalanan yang coba menitik beratkan pada esensinya sejak 2017’an silam, tepat diumur 20. Alasannya, tidak lain dan tidak bukan adalah urusan romansa. Mulai dari perkotaan, pedesaan, hutan, pantai, lautan, hingga susur kota, kecuali gunung.

Saya orang yang cenderung tidak suka piknik atau berwisata, tapi banyak yang menilai “piknikmu kadohen” kepada saya. Memang saya bepergian, ke banyak wilayah berdestinasi, tapi saya selalu menghindari tempat-tempat mainstream atau yang sering dibilang anak zaman sekarang “instagramable”.

Misal, ketika saya bepergian ke kota, saya jarang ke kota besar seperti Jogja, toh semisal saya ke Jogja, destinasi saya cenderung ke kabupaten pinggiran. Atau misal, saya bepergian ke pantai, saya hampir tidak pernah mengunjungi pantai besar macam Kuta, Bali atau Klayar, Pacitan, saya justru memilih lokasi-lokasi yang mengharuskan “mbrusuk” dulu ke dalam pedesaan. Tapi untuk hutan adalah pengecualian, Alas Purwo dan Alas Roban adalah favorit saya. Untuk kasus gunung, nanti kita bicarakan lain waktu.

Traveling

Berbicara tentang traveling, saya teringat karakter Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2, yang berstatement tentang perbedaan antara traveling yang menurutnya terkesan spontan dan harus siap dengan berbagai kemungkinan, dengan pikniknya Cinta, yang cenderung dipersiapkan dan diperhitungkan matang.

Namun, menurut saya kedua hal tersebut sama saja. Bukankah aneh jika, kita melakukan suatu kegiatan dengan tanpa perhitungan dan persiapan yang matang. Kecuali memang kita sedang tidak ada tujuan, mungkin secara implisit “pencarian tujuan” itu sendiri yang menjadikan esensi kita melakukan perjalanan.

Mengutip dari superadventure.co.id (15/07/2015), kegiatan traveling mengajarkan kita tentang perspektif baru, di lingkungan asing yang sering kali tidak terduga, dan mengasah mental serta komitmen. Tidak ada yang salah, namun menurut saya tidak sepenuhnya benar. Bagaimana jika kondisinya di balik, tidak seperti Mas Rangga yang spontan mengajak Mbak Cinta ke Punthuk Setumbu, Jogja.

Bagaimana jika traveling tersebut sudah dipersiapkan dan dengan tujuan yang jelas, untuk “wisata” dan sebenarnya juga tidak ada masalah dengan hal itu. Khidmat saya adalah setiap kegiatan perjalanan, baik itu traveling, wisata, atau piknik hanya akan memberikan kesan hiburan semata jika kegiatan tersebut tidak diimbangi dengan pencarian makna.

Makna yang saya maksud adalah “what’s wrong with your mind, heart, or soul?”.

Selama pengalaman saya melakukan traveling, selalu saya sematkan inna a’malukum bii-niyat. Selalu saya buat proposal pengajuan di awal yang saya susun dari pikiran, hati, dan jiwa saya, serta saya tujukan hanya kepada semesta.

Memang terkesan halu bahkan tidak masuk akal, tapi ada hal-hal yang tidak melulu dapat dijelaskan secara logika. Seperti contoh, akhir 2019 lalu saya melakukan traveling antar kota dalam provinsi dengan niat dan tujuan yang tentunya hanya saya sendiri yang mengetahui.

Ajaibnya adalah, semakin saya serius dan berkomitmen dengan niat dan tujuan saya, semakin saya dipertemukan dengan momentum-momentum bifurkasi yang sedikit-demi sedikit menuntun saya untuk memilih jawaban yang sebenarnya sudah tersedia.

Mungkin disinilah esensinya, “niat dan tujuan mempengaruhi Results yang akan kita dapatkan,” sekali lagi semesta akan tetap bekerja mengamini teori relativitas. Tapi, sekali lagi, saya tidak akan menyarankan metodologi traveling saya kepada kawan-kawan sekalian.

Karena, metode saya terlalu ekstrim dan banyak puasa lalu berbuka air mata di dalam perjalanannya. Namun, jika kawan-kawan memiliki metode lain atau mengalami hal serupa, namun dengan spectrum yang berbeda, mari kita bicarakan bersama.

Backpacking

Saya belum berani menyematkan gelar “backpacker” pada diri saya, karena selain saya belum mencoba kegiatan ini, saya juga mungkin belum memiliki cukup mental untuk melakukan kegiatan serupa.

Secara terminologi, backpacking berasal dari padanan kata ransel dalam kosa kata Bahasa Inggris, namun dalam kalangan pasukan petualang elite, kegiatan backpacking tidak bisa hanya dilakukan dengan coba-coba. Saya referensikan film lokal tentang adventure favorit saya, “Haji Backpacker” yang di bintangi oleh aktor kenamaan seperti Abimana Aryastya, Laudya C. Bella, Dewi Sandra, Laura Basuki, sampai Alm. Ustadz Jeffry Al-Buchori sebagai pengisi soundtrack –nya.

Menceritakan tentang Mada yang melakukan perjalanan antar Negara dalam benua, mencari tujuan. Kalau boleh di apple-to-apple kan, film ini sama seperti kisah Nabi Ibrahim, hanya saja dengan plot dan setting yang jelas 180o berbeda, tapi secara substansi hampir sama, perjalanan spiritual.

Sulit jika dibayangkan bagaimana bisa ada manusia yang bisa seyakin dan se”pedhot” itu melakukan perjalanan antar Negara dan bahkan mungkin ada yang mengelilingi dunia. Satu pertanyaan saya, “apa yang sedang difikirkan ?”.

Tentunya, secara harfiah kegiatan ini memiliki substantif tersendiri bagi kalangan backpacker. Tentunya pula, tidak bisa disamakan juga term and conditions bagi masing-masing pelakunya. Yang jelas, modal utama dari kegiatan backpacking adalah mental serta keyakinan terhadap semesta.

Analogi selanjutnya, mungkin hampir sama dengan serial televisi Kera Sakti, yang melakukan perjalanan mencari kitab suci ke barat. Hal tersebutlah yang menjadi rumusan saya, bahwa niat, persiapan, bahkan mental serta tujuan saja tidak langsung serta-merta dapat dijadikan tolok ukur secara empiris dalam kegiatan semacam backpacking, pengembaraan, hijrah, dan sejenisnya.

Karena ada substansi dan factor khusus yang tentunya tersemat di dalamnya dan tidak bisa disimpulkan secara langsung dan sepihak. Namun, secara garis besar saya coba simpulkan bahwa, baik kegiatan traveling, backpacking, atau apapun yang terikat hubungannya dengan alam semesta tentunya memiliki point of view tersendiri bagi para penggiatnya.

Pada akhirnya, esensi dari setiap proses dan perjalanan itulah yang akan menunjukkan jati diri sebenarnya, apakah seseorang cukup bisa memberikan simpulan atau hikmah dari setiap momentum perjalanan –nya masing-masing.

Sekali lagi, saya tidak sedang mengkotak-kotakkan apa dan bagaimana itu traveling atau backpacking, saya hanya sekedar ingin menyelaraskan banyak metode perjalanan dalam proses kehidupan dari sudut pandang luar kelas.

Dan, pada akhirnya saya hanya ingin menanyakan satu pertanyaan sederhana kepada kawan-kawan yang sedang, akan, atau telah melakukan perjalanannya masing-masing, “adakah esensi dan jawaban dari setiap proses dan tujuan yang selama ini kita cari, lakukan, dan coba temukan di hidup ini ? Selanjutnya, sejak kapan semua proses ini dimulai dan sampai kapan semua perjalanan ini terus berlanjut ?”

Sekali lagi, saya tidak sedang memaksa kawan-kawan untuk segera menjawab, biarlah esensi dari tiap perjalanan yang dengan sendirinya memberikan rambu-rambu jawaban dari semesta.

Kontributor || Rivaldi Awalli Putra Pertama, WI 210151

Editor || Jelita Sondang Samosir, WI 170020

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: