21 Km Memikul Logistik Bencana Gempa Mamuju

Caption foto: Longsor di Sungai Pempioang yang berpotensi banjir bandang (27/1/2021) (WARTAPALA INDONESIA/Ratdita Angga Bumi) 

Wartapalaindonesia.com, MAMUJU – Gempa bumi berkekuatan 6.2 skala richter yang mengguncang Kabupaten Mamuju – Sulawesi Barat pada 20 Januari 2021 di respon cepat oleh komunitas Aranya Mahidhara. Status tanggap darurat bencana tersebut direspon dengan mengirimkan relawan kemanusiaan dari Bogor – Jawa Barat ke Mamuju – Sulawesi Barat.

Relawan Aranya Mahidhara setelah tiba di Mamuju – Sulawesi Barat, langsung melakukan pendampingan kepada masyarakat Desa Limbeng. Pendampingan dilakukan dengan bersinergi bersama lembaga-lembaga sosial yang menangani korban bencana gempa di Sulawesi Barat.

Relawan Aranya Mahidhara setelah tiba di Mamuju–Sulawesi Barat

Pada masa tanggap darurat, relawan Aranya Mahidhara melakukan kaji cepat serta pemantauan potensi bencana lain seperti banjir dan longsor di Sungai Pempioang. Desa Bela – Kec. Tappalang yang terjadi longsor dan memutus akses jalan juga menjadi perhatian. Relawan Aranya Mahidhara dalam membentuk kewaspadaan warga terhadap bencana susulan akibat gempa, juga melakukan penyuluhan.

Wilayah yang menjadi fokus perhatian Aranya Mahidhara meliputi Desa Limbeng, Desa Pemipoang, dan Desa Bela yang berada di Kec. Tappalang Induk – Kab. Mamuju.

Desa Limbeng sebagai tempat relokasi sementara dipadati oleh 500 jiwa lebih, dimana penyintas juga berasal dari luar Desa Limbeng. Tempat relokasi sementara di Desa Limbeng memiliki kekurangan fasilitas kesehatan, dimana sanitasi masih minim dan potensi penularan Covid19 juga tinggi. Sementara Desa Pempioang yang berada di sisi sungai mempunyai risiko banjir bandang yang tinggi, banyak bagian sungai yang tertutup oleh material tanah dan pohon akibat dari longsor.

Desa Bela yang berjarak sekitar 21 Km dari Jalan Poros Mamuju dan Majene terisolir, karena akses jalan terputus oleh longsor dan pohon tumbang. Mengakibatkan bantuan logistik ke Desa Bela tersendat, karena tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Sehingga sejauh 21 Km para relawan dari berbagai organisasi pecinta alam harus memikul logistik melewati jalur berbahaya bersama warga.

Dalam melaksanakan misi kemanusiaan di Desa Bela yang tergolong berat, relawan Aranya Mahidhara melakukan sinergi dan koordinasi dengan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) , Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (Mapala UMY) , Indonesian Offroad Federation (IOF), Bunda Bella dan tim, serta masyarakat Desa Limbeng, Desa Pempioang dan Desa Bela.

Adi sebagai warga Desa Limbeng yang juga merupakan relawan Aranya Mahidhara Perwakilan Sulawesi Barat berharap, “masyarakat dapat membentuk kelompok-kelompok tanggap bencana di desa masing-masing serta dapat juga menerapkan manajemen pos, agar distribusi logistik lebih teratur”.

Kontributor || Ratdita Angga Bumi, WI 190039

Editor || Willy Firdaus, WI 170016

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.