Caption foto: Bedah film “Tenggelam Dalam Diam” karya dari Wacthdoc dan Greenpeace Indonesia (WARTAPALA INDONESIA, Rio Kurniawan)
Wartapalaindonesia.com, JATENG – Mahasiswa Islam Pecinta dan Pemerhati Alam Salatiga (MITAPASA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga mengadakan nobar dan bedah film documenter dengan judul “Tenggelam Dalam Diam” karya dari Wacthdoc dan Greenpeace Indonesia, di Noms kopi Salatiga, Minggu (28/03/2021).
Acara nobar dan bedah film dokumenter ini menghadirkan pemateri Fahmi Bastian WALHI Jawa Tengah dan Dinar Bayu Greenpeace Indonesia. Dihadiri dari UKM CEC (Comunitative English Club), SSC (Student Sport Club), Mapala Gemalawa Pekalongan, dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, tak luput dari ancaman perubahan iklim. Padahal, wilayah pesisir yang strategis dijadikan tempat tinggal sekitar 60% penduduk Indonesia, termasuk di pesisir utara Pulau Jawa.
Kenaikan permukaan laut setiap sentimeter mengakibatkan satu juta penduduk dataran rendah harus kehilangan tempat tinggalnya dan di Indonesia bisnis batubara merupakan bisnis yang sangat besar.

Listrik misal, yang kita nikmati saat ini merupakan 60% suplai dari batu bara. Dengan kata lain, krisis iklim ini dapat menjadi krisis kemanusiaan, di mana akan berdampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk sektor ekonomi masyarakat.
“Batu bara di Indonesia merupakan salah satu bisnis yang besar di Indonesia saat ini, para pemilik bisnis batu bara merupakan orang-orang yang ada di belakang pemerintahan Pak Jokowi. Lalu listrik yang kita nikmatin saat ini merupakan 60% suplai dari batu bara yang sangat besar, mungkin kita bisa bijak dalam memakai listrik”, ungkap Dinar Bayu saat bedah film tersebut.
Dengan antusias dalam beda film, salah satu peserta mengungkapkan bahwa film dokumenter ini sangat bagus dan kita sebagai mahasiswa memahami kerusakan lingkungan yang saat ini terjadi di pesisir Utara Jawa.
“Saya sangat tertarik dengan film dokumenter ini, saya melihat satu hal yang berbeda dengan adanya pembangunan infrastuktur jalan Tol Semarang – Demak yang berada di pesisir merupakan salah satu yang menyebabkan terjadi banjir rob, pemerintah membangun jalan tol Semarang – Demak tetapi mereka tidak melihat apa dampak yang terjadi setelah pembangun itu selesai dan tidak adanya konservasi dari pembangunan jalan tol menyebabkan kerusakan lingkungan”, ungkap Sholeh Rubiyanto.
Di sambung oleh Erik selaku pegiat alam, banjir yang terjadi di pesisir Utara Pulau Jawa merupakan salah satu penyebabnya dari pembangunan infrastruktur yang mengakibatkan terjadinya banjir rob. Dengan adanya bedah film ini semoga tidak hanya sampai disini.
“harapan saya dengan diskusi ini jangan sampai berhenti sampai di sini saja, apabila teman – teman ingin mengadakan diskusi dengan isu lingkungan jangan sungkan – sungkan untuk mengadakan, karna kita sedang merasakan dengan krisis iklim yang terjadi belakangan saat ini”, kata Dinar Bayu
Kontributor || Rio Kurniawan, WI 210156
Editor || Soprian Ardianto, WI 200136
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)