Menuju Palu Adipura, LPPA Tondo Gelar Workshop Darurat Sampah

Caption foto : Moh Saiful sedang berbicara mengenai persoalan sampah di Kota Palu saat workshop darurat sampah di Tondo. (WARTAPALA INDONESIA / LPPA TONDO)

Wartapalaindonesia.com,Palu- Lembaga Payung Pecinta Alam (LPPA) Tondo mengadakan Workshop Darurat Sampah pada Rabu, (10/11/2021). Hal ini selaras dengan Pemerintah Kota Palu yang saat ini menggencarkan kegiatan pembersihan lingkungan hingga di tingkat kelurahan dalam upaya meraih penghargaan Adipura tahun 2023. Pentingnya pembatasan kegiatan menyampah (PPKM) menuju kota adipura menjadi tema dalam workshop ini.

Dari tahun ke tahun permasalahan sampah plastik kian melonjak dan sulit diatasi, masyarakat semakin bergantung pada penggunaan plastik sehingga menjadikan sampah plastik adalah masalah utama dalam pencemaran lingkungan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sekitar 64 juta ton per tahun sampah plastik di Indonesia, sementara itu sebanyak 3,2 juta ton diantaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut dan ada sebanyak 10 miliar lembar per tahun kantong plastik yang terbuang ke lingkungan atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan sampah khususnya di kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, LPPA Tondo mengadakan Workshop Darurat Sampah Plastik, khususnya di 36 titik yang berpotensi besar menjadi tempat persebaran sampah, “Kami turut mengundang teman teman dari DLH Kota Palu dan Walhi Sulawesi Tengah untuk menjawab permasalahan yang ada”, ujar Fandis, selaku Ketua LPPA Tondo.

Fandis melanjutkan bahwa dengan adanya kegiatan workshop darurat sampah ini, titik-titik sampah bisa berkurang dan dikelola dengan baik serta terorganisir, khususnya 36 titik sampah yang berada di wilayah Tondo untuk meraih penghargaan Adipura. Menurutnya sudah ada beberapa pemuda yang telah beraksi nyata dalam pengelolaan sampah plastik di Tondo, diantaranya ada Forum Anak dan Aliansi Pemuda Peduli Sampah yang memberdayakan sampah plastik, jadi bukan hanya dibakar atau dibuang tetapi dijadikan ecobrick. “Kami telah melakukan proses pemilahan sampah dan akan dijadikan ecobrick, tak lupa kami turut melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat hingga ke berbagai warung makan” pungkasnya.

Bagi Aulia Hakim selaku pembicara dari Walhi, sampah bukan hanya terkait lingkungan, pencemaran di darat atau di laut. Akan tetapi tentang iklim, hak asasi, dan keadilan sosial, bahwa berada dalam lingkungan yang sehat itu jaminan terhadap seluruh masyarakat. “Demikian juga upaya pemerintah yang telah mengeluarkan beberapa regulasi, salah satunya yaitu memastikan produksi sampah ini mampu diolah kembali, tapi nyatanya berbanding terbalik, maka dari itu harus ada komitmen yang kuat dari pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah yang melonjak”, ungkapnya.

Menurutnya, ini bukan hanya perihal masyarakat yang membuang sampah, tapi juga terkait bagaimana pemerintah melanggengkan perusahaan produksi plastik untuk terus menjalankan produksinya. Masyarakat tidak akan menggunakan plastik jika memiliki alternatif lain, dengan pesatnya industrilisasi mobilitas produk dari luar membuat masyarakat ketergantungan terhadap penggunaan plastik.

Moh. Saiful selaku yang mewakili Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu mengatakan bahwa Sebelumnya sudah menyediakan dua unit bak sampah di Kelurahan Tondo, bertempat di wilayah Perumahan Dosen dan Hunian Tetap hanya saja tidak terawat dengan baik. Saiful berpesan pentingnya membentuk Kelompok Pengolahan Sampah setiap Kelurahan yang ada di Kota Palu sebagai salah satu faktor pendukung untuk mengurangi sampah. “Pemerintah akan mengeluarkan Peraturan Walikota (PERWALI) tentang pembatasan penggunaan bahan plastik, serta mengajak seluruh pemuda yang ada di kelurahan Tondo untuk berperan memberikan contoh dalam penanganan sampah yang ada di kota palu” ujarnya.

Sementara itu, terkait volume atau debit sampah di Kota Palu berjumlah sekitar 200 TPS sedangkan mobilisasi pengangkutan sampah hanya berjumlah 39 unit. Sampah bukanlah tanggung jawab segelintir orang tertentu, melainkan tanggungjawab dan kesadaran bersama, apalagi mengingat sifat plastik yang tidak mudah terurai sehingga membutuhkan ratusan tahun untuk terurai secara alami. Maka dari itu, sebagai masyarakat yang sadar akan bahaya dan ancamannya, tentu bisa memulai dari tindakan-tindakan kecil, misalnya bertanggung jawab atas sampah sendiri, berhenti menggunakan kantong plastik sekali pakai dan beralih ke tas belanja kain atau tas anyaman yang ramah lingkungan serta mengedukasi lingkungan sekitar. Mari ciptakan perubahan dengan aksi nyata! Sampahmu tanggung jawabmu!

 

Peserta workshop darurat sampah melakukan foto bersama

 

Kontributor || Meilan Mooduto, WI 200121
Editor || Yahya M. Ilyas, WI 200092

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.