Kegiatan Mapala dan Kegiatan Akademik, Berkorelasi dan Saling Menguatkan

Caption foto:  Narasumber dan pemandu acara Expo yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (Kamapala) Institut Pertanian Yogyakarta. (WARTAPALA INDONESIA / Foto: Nitih Putri Sayekti, Gema Mahasiswa Institut Pertanian Yogyakarta)

WartapalaIndonesia.com, Yogyakarta – Anggapan “kuno” kegiatan Mapala bertentangan dengan kegiatan akademik, kini terbantahkan.

Di acara Expo yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (Kamapala) Institut Pertanian Yogyakarta, terbukti kegiatan Mapala dengan kegiatan akademik justru berkorelasi dan saling menguatkan. Tidak kontradiktif.

Expo Kamapala yang dilaksanakan di kampus di Institut Pertanian Yogyakarta, pada Rabu 12 Oktober 2021, diikuti puluhan mahasiswa dan sejumlah utusan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan Institut Pertanian Yogyakarta (Intan).

Tampil sebagai narasumber di acara yang dipandu oleh Akhmad Nasir adalah Wakil Rektor 3 Institut Pertanian Yogyakarta, Ir. Fevri Marsudi, M.P. Serta penulis buku Pecinta Alam Adalah Pendidikan Karakter, Ahyar Stone.

Dikatakan oleh Ahyar, perkuliahan dengan kegiatan Mapala merupakan dua hal berbeda. Namun berkorelasi dan saling menguatkan.

Kuliah adalah bentuk belajar dalam ruangan (indoor school). Tujuannya untuk mengembangkan kecerdasan intelektual (IQ).

Sedangkan kegiatan Mapala, merupakan bentuk belajar di luar ruangan (outdoor school). Tujuannya untuk mengembangkan kecerdasan emosional mahasiswa (EQ).

Mahasiswa yang bercita-cita meraih sukses di masa depan lanjut Ahyar, pasti akan membekali dirinya dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Dua kecerdasan ini dalam komposisi berbeda, adalah kunci sukses seseorang.

Masih kata Ahyar, dari sejumlah penelitian didapat fakta ilmiah, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20 persen hard skill atau kecerdasan intelektual. Serta 80 persen soft skill atau kecerdasan emosional.

“Karena kecerdasan emosional prosentasenya lebih besar dalam menyumbang kesuksesan seseorang, maka sangat disayangkan jika masih ada mahasiswa yang tak mau ikut kegiatan kemahasiswaan,” jelas Ahyar.

Kurang lebih sama, Fevri Marsudi menggarisbawahi, kegiatan kuliah memang padat, karena mahasiswa dituntut cepat lulus. Meski demikian, peluang ikut kegiatan Mapala tetap terbuka lebar. Mahasiswa yang ikut Mapala bakal dapat banyak pelajaran berharga sekaligus pengalaman positif.

“Mahasiswa yang ikut Mapala, secara langsung sudah belajar memanajemen waktunya. Dia akan belajar cara membagi waktu kuliah dan waktu kegiatan Mapala. Agar kedua kegiatan yang diikutinya dapat berjalan dengan sama baiknya,” kata Fevri Marsudi.

Selain itu jelas Fevri Marsudi, ada sekian pelajaran yang tidak diajarkan di bangku kuliah. Tetapi justru ada di Mapala. Misalnya tentang kerja sama tim, ketangguhan, disiplin dan masih banyak lagi.

Di acara Expo Kamapala ini, Fevri Marsudi turut menceritakan pengalamanya sebagai Warek 3 Institut Pertanian Yogyakarta. Setiap UKM usai menyelenggarakan kegiatan, pengurus UKM menyampaikan laporan tertulis kepadanya. Laporan yang paling cepat diterimanya, selalu datang dari Kamapala.

 “Laporan kegiatan Kamapala lebih rapi, dan selalu lebih cepat dibanding UKM lain. Hal ini membuktikan anggota Kamapala memiliki disipilin dan kekompakan yang lebih kuat,” ungkap Fevri Marsudi.

Kuatnya kekompakan dan disiplin anggota Kamapala lanjut Fevri Marsudi, tidak lepas dari fungsi Mapala sebagai media pendidikan karakter di kampusnya.

“Saya sudah puluhan kali mengiringi kegiatan lapangan Kamapala. Saya melihat langsung bagaimana proses senior Kamapala mendidik anggotanya agar memiliki karakter positif yang kuat. Hasil pendidikan karakter ini terbukti bermanfaat,” imbuh Fevri Marsudi.

Senada dengan itu, Ahyar memaparkan, Mapala disamping sebagai outdoor school, juga sebagai media pendidikan karakter di perguruan tinggi.

Di dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025, disebutkan karakter merupakan hasil dari keterpaduan empat pilar pendidikan karakter. Yakni olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa / karsa.

Pendidikan karakter di perguruan tinggi, tambah Ahyar diimplementasikan ke dalam kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Tiap UKM umumnya berada di satu atau dua pilar pendidikan karakter. Misalnya di ranah olah pikir dan olah rasa saja.

“Kegiatan Mapala ada banyak dan bentuknya bermacam-macam. Dari kaca mata pendidikan karakter, Mapala berada sekaligus di empat pilar pendidikan karakter,” papar Ahyar.

Dengan berada sekaligus di empat pilar pendidikan karakter, anggota Mapala menjadi pribadi multitalenta yang gampang beradaptasi terhadap situasi tertentu. Tingkat kompetensi interpersonal anggota Mapala juga lebih tinggi dibanding mahasiswa bukan anggota Mapala.

“Pendidikan karakter di Mapala berlangsung terus menerus dalam waktu yang tidak sebentar. Situasi itulah yang kemudian membuat karakter anggota Mapala sangat kuat, dan tetap melekat kendati mereka sudah selesai kuliah,” terang Ahyar.

Expo Kamapala merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memberi pemahaman, dan meningkatkan pengetahuan para peserta tentang teori pendidikan karakter.

Dalam sambutannya Ketua Umum Kamapala Nurjaman “Lingau”, berharap melalui Expo ini, mahasiswa Institut Pertanian Yogyakara paham tentang empat pendidikan karakter. Pentingnya mahasiswa ikut organisasi di kampus. Generasi milenial cocok masuk mapala. Serta korelasi kegiatan di indoor school dengan di outdoor school. (AS)

Kontributor || Abdul Aziez, WI 20059 AD
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

bagikan

2 Comments

  • Nitih Putri Sayekti , Oktober 13, 2022 @ 3:06 pm

    Hallo kak
    Perkenalkan saya Nitih Putri Sayekti dari Gema Mahasiswa, badan pers mahasiswa yang ada di Institut Pertanian INTAN Yogyakarta. Mohon maaf sebelumnya saya mau mengkonfirmasi foto yang di up di wordpress wartapala itu milik Gema Mahasiswa kebetulan saya sendiri yang mengambil foto itu saat kegaitan kemarin, bukan milik Kamapala Intan. Tapi di dalam artikel yang ditulis diatas sumber foto yang di cantumkan adalah kamapala INTAN bukan Gema Mahasiswa, kami merasa keberatan kak.
    Terimakasih🙏

    • wartapala editor , Oktober 16, 2022 @ 4:18 pm

      Baik mbak Nitih. Kesalahan penulisan sudah kami perbaiki. terima kasih atas informasinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.