Caption foto: Suasana pelatihan bahasa isyarat untuk kegiatan pendakian oleh Sumiati, Ketua Gerkatin Kota Malang. (WARTAPALA INDONESIA/ Ken Kerta)
WartapalaIndonesia.com, MALANG – Menembus hujan dan meniti jalan setapak yang menanjak, tak menyurutkan semangat para difabel peserta Jambore Difpala 2023 di Gunung Paderman, Jawa Timur. Mereka mendaki dan nge–camp selama dua hari, 28-29 Januari 2023.
Antusias Difabel
“Jalan licin dan menanjak, yang dibutuhkan kehati-hatian agar tidak terpeleset,” ujar Priyo Utomo. Dalam kepanitiaan Jambore Difabel Pecinta Alam (Difpala) ia bertugas sebagai Koordinator II Bidang Data dan Perijinan.
Pria asal Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang ini adalah penyandang disabilitas fisik. Dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mendaki gunung, ia sangat mengandalkan kekuatan tangan dan kaki sebelah kiri, sedangkan bagian kanan sebagai penyeimbang.
“Ini pendakian saya yang pertama, sangat seru dan menyenangkan, perjalanan ini menunjukkan kemampuan dan kesiapan difabel dalam mendaki gunung,” ujar Yuli, penyandang disabilitas wicara. Perempuan lajang asal Kecamatan Sukun Kota Malang ini mengaku sangat menikmati perjalanan bersama 13 penyandang disabilitas dan pendamping tersebut.
“Kegiatan ini sangat menantang khususnya bagi difabel seperti saya dengan hambatan penglihatan,” ujar Erik Wahyudi, disabilitas netra asal Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Ia mendapat tugas di Unit Tenda dan Penghijauan.
“Hujan cukup deras, untuk tujuan keselamatan rencana awal menginap di Puncak Bayangan kita ubah ke Pos II Latar Ombo, selanjutnya pagi lepas shubuh tim bergerak menuju Puncak Basundara Gunung Panderman,” terang Agung Tyo, Koordinator IV Bidang Mitigasi dan Pemandu Pendakian Difpala. Pria asal Kecamatan Bumiaji Kota Batu ini memiliki pengalaman belasan kali mendaki gunung.
Apa itu Difpala?
atau Difabel Pecinta Alam dibentuk Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) sejak Juli 2020 sebagai respon situasi pandemi. Dengan berolahraga akan meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap virus corona.
“Menghadapi pandemi bukan dengan ketakutan, melainkan dengan meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap penyakit, salah satu jalannya adalah berolahraga dan kembali ke alam luas yang masih bebas polusi, di antaranya gunung,” ujar Ketua Pembina LINKSOS, Kertaning Tyas (Ken Kerta).
Kegiatan olahraga tersebut kemudian dikembangkan sebagai alat kampanye hapus stigma dan diskriminasi. Beberapa kegiatan terkait hal ini di antaranya Misi Gunung Butak 2020 dan Misi Gunung Arjuno 2021.
Tak hanya mendaki gunung, Difpala memiliki agenda wajib yaitu penghijauan, perawatan sumber air, pungut sampah di jalur pendakian, perawatan situs, serta edukasi disabilitas dan bahasa isyarat.
Apa itu Jambore Difpala?
Jambore Difabel Pecinta Alam (Difpala) merupakan even tahunan Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) sebagai bentuk kampanye penghormatan, pelindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas.
Kegiatan Jambore Difpala merupakan respon difabel dari berbagai wilayah di Indonesia atas berbagai kegiatan alam sebelumnya. Mereka mengusulkan adanya pendakian gunung bersama.
Jambore Difpala bertujuan: (1) meningkatkan peran aktif difabel dalam upaya pelestarian alam dan lingkungan. (2) meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta ketangguhan penyandang disabiltas. (3) menciptakan ekosistem dan lingkungan yang inklusif.
Untuk mencapai tujuan di atas, Jambore Difpala melakukan beberapa bentuk kegiatan, di antaranya penjelajahan 6 gunung di wilayah Jawa Timur, edukasi keselamatan pendakian, edukasi survival dan pelatihan penanganan pertama gawat darurat (PPGD) pembersihan sampah dan perwatan situs di sepanjang jalur pendakian, edukasi disabilitas dan kusta, serta belajar bahasa isyarat.
Target dan Lokasi Pendakian
Jambore Difpala 2023 menargetkan peserta 60 penyandang disabilitas dan 60 pendamping. Total 120 pendaki gunung tersebut akan dibagi menjadi 6 (enam) lokasi pendakian selama bulan Januari- Juli 2023.
Adapun lokasi pendakian tersebut adalah Jadwal pertama, Sabtu 28-29 Januari 2023 di Puncak Basundara Gunung Panderman (2.045 mdpl) sebagai pembukaan Jambore Difpala 2023 sekaligus peringatan Hari Kusta Sedunia.
Pendakian kedua, Sabtu, 18-19 Februari 2023 di Petilasan Eyang Semar Gunung Arjuno (1.850 mdpl). Bagi yang suka arkeologi, terdapat Arca semar berukuran tinggi 140 cm dan lebar 50 cm.
Agenda pendakian yang ketiga, Sabtu, 11-12 Maret adalah Gunung Malang (1718 mdpl). Menuju gunung ini kita juga akan melewati Bukit Jabal (1.470 mdpl). Kemudian Pendakian keempat, Sabtu 13-14 Mei 2023 adalah Gunung Lorokan (1.100 mdpl).
Agenda pendakian kelima adalah Buduk Asu (2000 mdpl), Sabtu 17-18 Juni 2023. Selanjutnya Gunung Butak (2.286 mdpl), sebagai pendakian keenam penutup Jambore Difpala, 8-9-10 Juli 2023.
“Harapan lainnya selain tercapainya tujuan Jambore Difpala adalah berkembangnya komunitas Difabel Pecinta Alam ini di seluruh wilayah di IndonesiaIndonesia”, tutup Ken, Pembina Difpala.
Saat ni Difpala beranggotakan sekira 50 penyandang disabilitas dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur. Sedangkan peserta Jambore Difpala 2023, selain pendaftar dari wiayah Jawa Timur, terdapat pula pendaftar Jakarta dan Makasar. (AS)
Kontributor || Ken Kerta
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)